Tri Risma Harini Mundur, siapa yang di untung kan ?

31

Risma mundur, Siapa yang untung ?

Hanya dalam waktu 3 bulan setelah diangkat menjadi walikota, TRH terancam dengan keputusan pemakzulan yang dilakukan oleh DPRD Surabaya (2011). Keputusan pemakzulan yang bermula dari Perda mengenai Kenaikan Pajak Iklan yang dikeluarkan oleh pemkot yang dianggap menyalahi aturan. Namun pemakzulan ini tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat, mendagri Gamawan Fauzi menolak Pemkzulan tersebut. Pemakzulan ini disetujui oleh 6 Fraksi di DPRD Surabaya dan hanya ditentang oleh Fraksi PKS.

Sejak peristiwa pemakzulan tersebut, yang juga didukung PDI-P melalui Wakil Ketua DPRD masa itu Wisnu Sakti Buana (WSB), suasana politik Surabaya terus memanas. Berbagai persoalan silih berganti muncul, mulai kasus alotnya pembahasan APBD yang menghambat kinerja Pemkot (2012), kasus keributan perihal kewenangan staff ahli TRH yang bernama DR, kasus Wisnu Wardhana yang berbuntut pemecetan sebagai Ketua DPRD Surabaya (2013),  dan keinginan BDH mundur dari jabatannya sebagai Wakil Walikota karena merasa sudah tidak sevisi lagi dengan cara TRH dalam mengelola kota.

Hingga akhirnya muncul peristiwa yang tidak terduga, saat PILGUB Jawa Timur 2013, BDH yang tidak berniat ikut dalam perebutan kursi Gubernur Jawa Timur, tiba tiba ditugaskan oleh DPP PDI-P untuk maju sebagai calon Gubernur dari PDI-P. Akibat pencalonan ini, BDH seperti berkesempatan keluar dari carut marut kepemimpinan Kota Surabaya dan politik nya yang semakin tidak nyaman. Kosong lah Kursi Wakil Walikota, dimana sebelumnya juga sudah kosong kursi Ketua DPRD Surabaya akibat pemecetan WW sebagai ketua.

Dengan mundurnya BDH dari kursi Wakil Walikota, maka PDI-P sebagai partai tunggal yang mengusung Walikota dan Wakil Walikota Surabaya berhak mengisi kekosongan jabatan tersebut dengan kader nya. Dan tentunya PDI-P berhak memilih siapa kader terbaiknya yang akan dikirim untuk mengemban amanah tersebut.

PDI-P telah memilih kader terbaiknya di Surabaya, WSB, untuk diusung sebagai pengganti BDH, yang saat itu (2013) menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya menggantikan WW yang dipecat. Jika melihat kilas balik jauh kebelakang, WSB termasuk berjasa besar dalam menjadikan TRH sebagai walikota Surabaya, karena WSB lah yang membawa nama TRH untuk direkomendasikan DPP PDI-P sebagai calon walikota. Namun sisi lain, tidak dapat tutup mata juga, WSB pulalah yang ikut dalam kelompok yang berusaha memakzulkan TRH pada saat awal dilantik jadi walikota (2011).

Surabaya semakin memanas sejak WSB dilantik, TRH ngotot menolak dan bermanuver dengan membawa persoalan ini ke publik. Seolah ada tekanan yang sedemikian besar yang harus dihadapi oleh TRH dalam mengelola kota.

Dalam kasus pengangkatan wakil Walikota, TRH mengesankan pada publik bahwa perasanaan dan suara nya tidak dipertimbangkan oleh PDI-P. TRH menyuarakan keinginan-nya untuk mundur sebagai walikota menghadapai persoalan yang semakin dirasa berat, tidak mampu dipikul dan dipertanggung-jawabkan nantinya.

Dengan segala peristiwa diatas, saya ingin coba mengajak pembaca menganalisa apa manfaat dengan sikap TRH yang ngotot ingin mundur dan membawa persoalan nya ke publik.

Pertama harus diingat bahwa DPRD Surabaya yang ada saat ini, sebentar lagi akan habis masa kerjanya. Praktis mereka sudah tidak memiliki kekuasaan apapun yang dapat mengancam kedudukan walikota Surabaya. Semua Parpol akan konsentrasi pada PEMILU 2014 dibulan april nanti. Kepentingan Parpol saat ini adalah mengamankan suaranya dengan segala cara dalam perebutan Kursi DPRD surabaya 2014-2019.

Kedua, bahwa jabatan Walikota (termasuk wakil walikota) akan segera berakhir september tahun 2015, praktis hanya sisa 1,5 tahun efektif menjalankan roda pemerintahan Surabaya.

Ketiga, sesuai dengan system yang ada, maka pemilihan kepala daerah harus diusung oleh partai yang memiliki kursi yang cukup di DPRD, dan khusus di surabaya, memiliki minimal 8 Kursi di DPRD Surabaya baru dapat mengusung calon Walikota, jika tidak maka harus berkoalisi agar mencapai 8 kursi.

Keempat, tidak dapat dipungkiri, TRH adalah satu satunya tokoh di surabaya yang mendapat dukungan warga surabaya sangat besar dan sangat populer saat ini. Tidak ada satupun tokoh lain di Surabaya yang akan mampu menandingi popularitas TRH dalam 1 tahun kedepan.

Dari 4 kondisi diatas saya mencoba menganalisa apa untungnya TRH mundur, baik bagi TRH, PDI-P, Parpol lain bahkan juga tokoh tokoh yang memiliki kepentingan politik di Surabaya.

1. Bagi PDI-P, kekisruhan dengan isu mundurnya TRH ini sangat tidak menguntungkan. Isu ini tidak dapat disangkal akan membangun opini ditengah masyarakat, bahwa PDI-P adalah biang kerok penyebab TRH berkeinginan mundur. Dan opini ini secara logis berbahaya bagi PDI-P, khususnya  dalam merebut kursi DPRD Surabaya. PDI-P akan banyak kehilangan suara dari warga yang selama ini bersimpati pada TRH. Tidak ada satu manfaat pun bagi PDI-P atas isu mundurnya TRH ini, malah isu ini bisa memperburuk citra PDI-P, apalagi dengan mulai dibawanya isu ini oleh TRH ke level Nasional, ditambah adanya survei yang menempatkan TRH sebagai salah satu capres unggulan.

2. Bagi Parpol lain, dengan makin menggulirnya isu ini, membuka peluang PARPOL untuk menggerogoti suara PDI-P yang selama ini cukup kuat di surabaya. Isu ini makin menguntungkan jika Parpol tertentu terkesan sebagai pendukung TRH. Simpati warga kepada TRH bisa berefek meningkatkan perolehan suara bagi Parpol yang mendukung TRH. Bahkan jika PARPOL mampu menunggangi isu ini dengan baik bisa jadi suara GOLPUT yang cukup besar di surabaya, yang jumlahnya 30%-40%, bisa digerakan untuk membela TRH dan akhirnya berefek pada peningkatan suara Parpol dalam pileg DPRD Surabaya

3. Bagi Wisnu Sakti Buana, isu mundurnya TRH ini jika betul betul terwujud akan menguntungkan karena berpeluang untuk menjadi walikota pengganti hingga akhir periode. Tapi saya yakin WSB tidak akan sanggup menghadapi resiko jika TRH benar benar mundur dan mengambil peluang menjadi Walikota. Dia akan dituduh sebagai dalang mundurnya TRH, apalagi sejarah pernah mencatat WSB bersama WW pernah berkeinginan melengserkan TRH. Resiko akan dilawan warga kota akan sangat besar sekali, dan saya yakin DPP PDI-P tidak akan tinggal diam, dan membiarkan skenario ini terjadi. Resiko nya sangat besaar bagi PDI-P, bukan saja di Surabaya tapi juga secara Nasional.

4. Isu mundur ini bagi TRH, kelihatan seperti sedang memainkan salah satu strategi perang yang sangat terkenal, Tsun Tzu, yaitu strategi Tampak Lemah disaat Kuat. Isu mundur ini memperlihatkan TRH seolah sangat lemah, tidak berdaya menghadapi tekanan yang dia terima (entah dari mana), padahal sejatinya isu ini akan memukul dengan telak lawan lawan Politik dan orang yang bersebrangan dengan TRH, jika masuk menyerang. Selama 3,5 tahun memerintah, TRH semakin dekat dengan warga Surabaya yang dipimpinnya. Dukungan warga kepadanya semakin besar setiap hari. Banyak programnya yang kadang bertolak belakang bahkan dengan Pemerintah Pusat, justru mendapat dukungan dari warga Surabaya

Apakah nanti TRH benar benar mundur atau tidak sama sekali, tidak akan mempengaruhi dukungan pada dirinya. Jika benar-benar mundur, TRH akan mendapatkan dukungan luar biasa dari warga Surabaya bahkan Indonesia. Bisa jadi TRH akan jadi perebutan oleh Parpol untuk di gandeng menjelang Pileg. Jika tidak jadi mundur (ini yang paling mungkin terjadi), TRH juga akan menang, dukungan warga juga semakin kuat dan TRH akan lebih mudah tawar menawar dengan PDI-P dalam mengelola Surabaya.

Dari analisa diatas, terlihat bahwa TRH memainkan isu mundur ini pada saat yang sangat tepat. Pada kenyataannya bila TRH betul-betul mundur, dia akan menang dan tidak mundur juga akan tetap menang.

Dilihat dari sudut manapun baik peristiwa masa lalu maupun hitungan resiko yang akan dihadapai, dapat dipastikan bahwa menekan TRH sedemikian rupa sehingga memaksa mundur bukanlah strategi yang smart. Siapapun lawan Politik TRH atau yang tidak suka dengan TRH akan konyol sekali jika berencana membuat TRH mundur menjelang PILEG yang sebentar lagi berlangsung.

Melihat semua kemungkinan diatas, saya ragu apakah benar ada yang berani (khususnya Parpol) menekan TRH sehingga membuat TRH ingin mundur. Atau jangan jangan TRH sedang memperkuat posisi politiknya kedepan agar tidak lagi diganggu oleh lawan lawan Politiknya dalam mengurus Surabaya dan memastikan dukungan untuk Pilkada 2015 mendatang. Entahlah, hanya TRH sendiri yang tahu, apa yang sedang dimainkannya dan apa yang ingin dicapai dengan segala kekisruhan ini.

Terakhir, sebagai warga Surabaya, saya (mungkin juga warga lainnya), sama sekalli tidak merasa ada manfaatnya segala keributan ini. Keributan ini hanya membuat pemerintah kota tidak fokus pada tugas tugas yang harus dijalankannya. Banyak persoalan pembangunan di Surabaya akibat keributan ini tidak terpantau. Pembangunan pasar Turi yang tidak jelas kapan selesai, pembangunan Frontage Road yang tertunda tunda, juga MERR yang sampai sekarang belum jelas kapan selesai. Belum lagi rencana pengembangan wilayah dengan akan dibangunnya lingkar luar serta Transportasi Massal (MRT dan Trem). Keributan ini membuat warga seolah hilang peluangnya mengkritisi jalannya pembangunan di surabaya dan berbagai persoalan warga lainnya.

MENARIK DIBACA

loading...

2 KOMENTAR

  1. Anda berasumsi bahwa yg mungkin menekan Bu Risma hanya kekuatan politik. Bgmn dg mafia yg terusik dg keberadaan Bu Risma? Bgmn jika ancaman yg muncul bukan nyawa bu Risma, bukan keluarga Bu Risma tapi keselamatan warganya?

TINGGALKAN TANGGAPAN

Sila masukan komentar anda
Silahkan masukan nama disini