Tri Risma Harini Mundur, siapa yang di untung kan ?

31

Silang Sengkarut, mengurai benang kusut

Surabaya yang sudah mulai berbenah sejak BDH naik jadi Walikota tahun 2002 dan menampakan hasilnya, memberikan harapan dan semangat baru bagi warga Surabaya. Pembangunan berjalan dengan baik, kepercayaan warga pulih pada pemerintah kota, dan birokrat yang selama ini hanya ABS (asal bapak senang) mulai hilang dan muncul birokrat dengan segala prestasinya.

Namun ternyata kota sebesar Surabaya ini selalu di uji dengan berbagai persoalan baru, tahun 2010 mulailah ujian baru bagi kota ini.

Berakhirnya periode kedua BDH sebagai walikota, menimbulkan kisruh Politik baru di Surabaya yang sudah lama adem. Sesuai dengan aturan BDH tidak dapat lagi mencalonkan diri sebagai walikota. Tapi PDI-P merasa BDH masih berhak maju dalam PILKADA Surabaya 2010, dengan alasan periode pertama BDH menjabat (2002-2005) bukanlah sebagai Walikota terpilih dalam PILKADA 2000, tapi hanya menggantikan Cak Narto ditengah jalan. Persoalan ini sampai dimintakan fatwa hukum ke MK, untuk memastikan apakah BDH dianggap baru 1 periode atau 2 periode menjabat. Akhirnya final keputusan MK, BDH dianggap termasuk 2 periode menjabat dan tidak boleh lagi maju mencalonkan diri sebaga WALIKOTA surabaya.

Akibat keputusan MK tersebut, PDI-P yang menganggap BDH adalah kader terbaik yang masih mampu ikut memimpin kota Surabaya dan melanjutkan program yang sudah dirintisnya, memerintahkan BDH tetap ikut maju dalam PILKADA 2010. Bukan sebagai Walikota tapi sebagai Wakil Walikota dari PDI-P. Masa itu PDI-P memiliki kursi yang cukup di DPRD Surabaya untuk mengajukan calon tanpa berkoalisi.

Dalam menentukan Calon Walikota dari PDI-P sempat muncul berbagai intrik di tubuh PDI-P. Muncul calon Walikota yang didukung sebagian besar Pengurus Anak Cabang (PAC) se Surabaya, Saleh Ismail Mukandar (SIM). Dipihak lain Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P Surabaya masa itu, Wisnu Sakti Buana (WSB), bermanuver bersama tokoh PDI-P, mantan Sekjend PDI-P, Soetjipto (almarhum), yang tak lain adalah Orang Tua dari WSB. Mereka mengusung nama TRH sebagai calon Walikota dengan BDH sebagai Calon Wawali. Berkat WSB lah akhirnya TRH mendapatkan rekomendasi dari DPP PDI-P menjadi Calon Walikota berpasangan dengan BDH sebagai calon wawali. Banyak cerita di balik layar yang tidak diketahui publik seputar perjuangan menggolkan TRH sebagai Cawali pada Pilkada 2010, termasuk peran beberapa nama seperti Don Rozano (DR), juga kisah mendapatkan dana untuk mensukseskan duet TRH-BDH.

PILKADA Surabaya 2010 adalah pilkada dengan berbagai macam intrik dan hal yang tidak terduga terjadi. Bukan hanya soal pencalonan TRH yang bukan kader PDI-P, hal yang sama juga terjadi di Partai lain yang mengusung calon bukan dari kader. Demokrat tidak mengusung Fandhi Utomo, tapi malah Arif Affandi mantan wakil walikota, PKS tidak mendukung Yulyani kader PKS, tapi malah mendukung Fandhi Utomo. PILKADA 2010 ini juga berlangsung panas, dan selisih perolehan suara sangat tipis. Terjadi perhitungan suara 2 putaran dan gugatan sampai ke MK untuk memutuskan pemenang.

TRH dan BDH memenangkan Pilkada 2010 yang penuh dengan persoalan ini, dan dilantik pada september 2010. Harapan warga Surabaya yang sangat besar, agar pembangunan yang sudah berlangsung dapat diteruskan dan ditingkatkan, sepertinya tidak akan terwujud. Sejak terpilih sebagai Walikota, TRH menghadapi persoalan yang semakin lama tidak semakin bisa diatasi tapi malah makin membesar. Dan semua bermula dari persoalan politik dan intrik intrik yang terjadi sesudah PILKADA 2010 tersebut.

ke Hal 4

MENARIK DIBACA

loading...

2 KOMENTAR

  1. Anda berasumsi bahwa yg mungkin menekan Bu Risma hanya kekuatan politik. Bgmn dg mafia yg terusik dg keberadaan Bu Risma? Bgmn jika ancaman yg muncul bukan nyawa bu Risma, bukan keluarga Bu Risma tapi keselamatan warganya?

TINGGALKAN TANGGAPAN

Sila masukan komentar anda
Silahkan masukan nama disini