Tri Risma Harini Mundur, siapa yang di untung kan ?

31

Melihat Kebelakang

Mungkin tidak banyak yang mengingat kondisi kota Surabaya, pada saat-saat awal reformasi, dengan segala persoalannya yang maha rumit. Kota yang jatuh pada titik terendah kepercayaan warga nya, dengan berbagai persoalan kota yang membelit, seperti birokrasi yang buruk, pejabat yang seenaknya bertugas, persoalan sampah dan kumuhnya Kota, banjir dan banyak lagi.

Bertambah parah dengan keributan Politik akibat menghilangnya (yang kemudian diketahui berobat ke Aaustralia) Walikota Surabaya masa itu, Sunarto Sumoprawiro (cak Narto) ditengah persoalan sampah dan TPA Benowo. Demo hampir tiap hari terjadi, situasi politik memanas, bahkan Bambang Dwi Hartono (BDH), wakil walikota berencana mundur karena tekanan politik yang besar, keributan dengan DPRD dan persoalan loyalitas aparat pemkot. Rakyat Surabaya masa itu memilih memberikan dukungan pada BDH untuk memimpin kota, dan itu dibuktikan dengan keputusan Paripurna DPRD Surabaya 15 january 2002, yang mencabut mandat Cak Narto sebagai Walikota.

Perjuangan rakyat Surabaya memberikan dukungan pada wakil walikota Surabaya, BDH, masa itu tiada henti, sehingga saat dilengsernya Cak Narto oleh DPRD, kegembiraan warga kota demikian terasa bahkan harian JAWA POS menurunkan headlines pada tanggal 16 Januari “Kemenangan Hati Nurani”.

Jalan yang tidak mudah bagi BDH memimpin kota Surabaya, karena masih berhadapan dengan intrik intrik politik bahkan dari oknum di dalam PDI-P sendiri. Masa itu secara terbuka ketua DPRD Surabaya, Basuki (PDI-P) bersama kelompoknya, selalu menjegal kebijakan BDH sebagai pejabat walikota, bahkan menghalangi agar BDH tidak dapat dilantik menjadi walikota Surabaya.

Akhirnya muncul perlawanan dari masyarakat Surabaya terhadap DPRD Surabaya, dan dilantiklah BDH sebagai walikota pada 10 juni 2002 oleh Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo. Mulai saat itu Kota Surabaya mulai kembali menemukan jalan nya, menjadi kota yang dicintai dan dibanggakan oleh warganya. Satu persatu persoalan kota diatasi, persoalan sampah yang menggunung di Surabaya, yang sampai menjadi perbincangan di dunia disebut sebagai kota sampah, teratasi dengan segera, TPA Benowo bisa dibuka, persoalan TPA Keputih teratasi.

Masa BDH inilah wajah Surabaya mulai dibenahi, fisik kota dibangun, birokrasi ditata, layanan kepada warga ditingkatkan. Kepercayaan warga meningkat luar biasa pada birokrasi yang sebelumnya jatuh dititik terendah. Partisipasi warga dalam pembangunan meningkat bahkan dukungan politik pun menguat. Nyaris selama periode pertama ini, BDH ibarat Satria Pininggit yang diturunkan untuk menyelamatkan kota Surabaya.  Pada Pilkada 2005, BDH yang berpasangan dengan Arif Afandi, memenangkan pemilihan dengan suara 50% lebih.

Pada masa BDH inilah banyak lahir birokrat yang profesional dan dikenal oleh warga kota sepak terjangnya. Sebagai Walikota sepertinya BDH paham betul bahwa dia tidak bisa mengelola kota ini sendiri, dia butuh birokrat yang profesional dan bekerja dengan sungguh sungguh menjalankan program yang sudah di gariskan. Muncul lah masa itu salah satunya Tri Risma Harini (TRH), sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang sangat dekat dengan warga, yang berhasil mewujudkan program walikota untuk menghijaukan kota Surabaya dan menghadirkan taman taman di Surabaya. Karena kepercayaan BDH serta prestasi TRH, maka diangkatlah TRH menjadi kepala Bappeko Surabaya.

ke Hal 3

MENARIK DIBACA

loading...

2 KOMENTAR

  1. Anda berasumsi bahwa yg mungkin menekan Bu Risma hanya kekuatan politik. Bgmn dg mafia yg terusik dg keberadaan Bu Risma? Bgmn jika ancaman yg muncul bukan nyawa bu Risma, bukan keluarga Bu Risma tapi keselamatan warganya?

TINGGALKAN TANGGAPAN

Sila masukan komentar anda
Silahkan masukan nama disini