Tokoh Muda Sulit Calonkan Diri Jadi Ketum Parpol Jika Belum Dapat Restu

1

Jakarta – Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow menganggap, tokoh muda akan sulit maju mencalonkan diri menjadi Ketua Umum partai politik di tahun 2015 jika tidak mendapat restu dari Ketua Umum partai saat ini.

Pada 2015 mendatang, ada empat partai yang akan mengadakan Kongres dan Munas untuk menetapkan Ketua Umum. Keempat partai tersebut adalah Demokrat, Gerindra, PAN dan PDIP.

“Jadi, PDIP itu siapa putra mahkota atau putri mahkotanya Mega ya akan jadi. Siapa putra mahkota atau putri mahkotanya Hatta Rajasa akan tentu jadi. Siapa putra mahkota atau putri mahkota SBY akan cenderung jadi Ketua Umum. Begitu juga, siapa putera mahkota atau putri mahkota Prabowo,” katanya di Jakarta, Senin (22/12).

Menurut Jeirry, mayoritas partai yang akan mengadakan Kongres dan Munas pada tahun mendatang sangat didominasi oleh semangat paternalistik. PDIP masih sangat tergantung kepada figur Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum. Demikian juga dengan partai Demokrat yang juga tergantung dengan sosok Susilo Bambang Yudhoyono. Hal yang sama juga berlaku di Gerindra, yang tergantung dengan ketokohan Prabowo Subianto.

“Bagaimana dalam situasi partai seperti itu sulit sekali menghasilkan calon baru atau mendorong calon baru, apalagi generasi muda. Kalau orang-orang itu tidak direstui oleh tokoh-tokoh ini,” tandasnya.

Di internal PDIP, ujarnya, sebenarnya banyak terdapat tokoh-tokoh muda. Namun, persoalannya tidak semua orang di internal partai bisa secara bebas menyatakan keinginannya. Karena, semua harus dengan restu Megawati Soekarno Putri. Apalagi, di PDIP, pengaruh Megawati dan trah Soekarno dirasa masih cukup kuat.

Sedangkan di tubuh partai Demokrat, dia berpendapat, figur SBY masih sangat sentral. Kalaupun Demokrat memunculkan tokoh dari generasi muda, maka figur tersebut diprediksi tidak bisa jauh dari kedekatan dengan SBY, antara lain Edhie Baskoro Yudhoyono yang tidak lain adalah anak kedua mantan Presiden itu.

Adapun di Gerindra, Prabowo Subianto dipercaya masih menjadi tokoh sentral partai dengan perolehan suara terbesar ketiga saat pilpres 2014 lalu itu.

Dia menyatakan, yang mempunyai sedikit pengecualian adalah PAN. Pasalnya, PAN lahir setelah forum masyarakat yang terdiri dari tokoh-tokoh pro demokrasi lintas kelompok berkumpul membuat satu partai. Meskipun, dia tidak memungkiri kondisi PAN sewaktu dinakhodai oleh Amin Rais berbeda dengan saat ini.

“PAN di zaman Hatta Rajasa agak berbeda dengan di zaman Amin Rais. Kalau di zaman Amin Rais memang setelah dia dua kali (memimpin partai), dia membuka adanya proses yang lebih demokratis di partai. Sehingga orang seperti Sutrisno Bahir bisa muncul. Tapi, situasi seperti ini mungkin tidak terjadi juga di zaman Hatta Rajasa,” tandasnya.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca