Pelacuran Statistika: Penyalahgunaan Quick Count Harus Dihentikan

14

Surabaya – Prinsip yang mendasari metodologi quick count adalah bagian dari Statistika, suatu cabang ilmu, yang diajarkan di hampir semua jurusan di perguruan tinggi modern. Statistika lahir menjadi suatu disiplin ilmu, justru karena adanya kesadaran atas ketidakmampuan nalar manusia memastikan makna fenomena sosial dan alam. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Mukhtasor, Guru Besar ITS, menanggapi pro-kontra hasil survei untuk hitung cepat hasil pemilihan presiden 2014, di Surabaya, Sabtu (12/7/2014).

Menurut Mukhtasor, uncertainty atau ketidakpastian adalah tema pokok dalam survei statistika. Maka disana dikenal istilah tingkat keyakinan, margin error, dan sejenisnya. Kita seringkali dihadapkan pada situasi yang tidak pasti dan keterbatasan data. Pada saat itulah survei statistika digunakan untuk membantu memperkirakan kenyataan yang sesungguhnya.

“Memastikan atau memutlakan kesimpulan dari hasil survai adalah melawan prinsip statistika. Menggunakan statistika secara bertentangan dengan fitrah dasarnya dan menggunakannya diluar fungsinya demi untuk mendapatkan keuntungan tertentu adalah bentuk pelacuran statistika. Hal ini nyata-nyata melawan nalar intelektual yang diajarkan di kampus-kampus terhormat, di seluruh dunia.”, demikian Mukhtasor menegaskan.

Quick count adalah salah satu jenis penerapan metodologi survei statistika. Ketika kita tidak memiliki data lengkap, maka kita mengambil sebagian data yang bisa dikumpulkan secara cepat, dengan metodologi tertentu. Sebagian data yang kita peroleh ini disebut sampel. Dan atas dasar sampel inilah, kesimpulan dibuat.

Keuntungan melaksanakan survei adalah kita bisa mendapatkan kesimpulan dalam waktu yang lebih cepat daripada menunggu data lengkap dikumpulkan. Maka disebut quick count atau hitung cepat. Namun sebaliknya, kelemahannya, kesimpulan hitung cepat itu mengandung ketidakpastian atau berpotensi salah oleh karena kesimpulannya hanya didasarkan pada data sampel yang jumlahnya terbatas, bukan data keseluruhan. Misalnya, penggunaan data dari 2000 TPS untuk memperkirakan kesimpulan hasil dari jumlah total 478.828 TPS, tentu disana selalu ada ketidakpastian atau kemungkinan kesalahan.

Memang, semakin baik metodologi survei dapat menghasilkan kesimpulan yang semakin baik pula. Namun bagaimanapun tetap mengandung ketidakpastian. Ini perumpamaannya adalah, hasil survei itu seperti gambar dalam foto, sedangkan real count atau data lengkapnya itu adalah wajah orang yang sesungguhnya. Jika ada perbedaan diantara keduanya, maka wajah asli orang tersebut adalah keadaan yang sebenarnya.

Terkait dengan hal ini, lebih lanjut Mukhtasor mengingatkan, “Jika ada yang mengatakan, kalau nanti wajah yang asli berbeda dengan foto yang ada, misalnya jerawatnya yang kecil tidak tampak karena resolusi fotonya rendah, kemudian wajah aslinya yang disalahkan, dan mengatakan demikian karena mendapatkan bayaran, ini namanya pelacuran statitika. Hentikalah pelacuran statistika, mari kita melakukan pertobatan intelektual.”

MENARIK DIBACA

loading...

TINGGALKAN TANGGAPAN

Sila masukan komentar anda
Silahkan masukan nama disini