Nasib PDIP diujung tanduk

3

peta_indonesai_fren247

Berpegang pada pengumuman hasil Quick Count (QC) Pileg 2014, yang menempatkan tidak satupun partai politik mampu mengusung calon presiden (capres) sendiri, seluruh partai saat ini melakukan langkah politik untuk berkoalisi. Tujuannya tentu agar jumlah suara gabungan koalisi bisa memenuhiu syarat untuk mengusung capres, yaitu sebesar 25% perolehan suara nasional atau 20% perolehan kursi DPR-RI.

Ada yang menarik pada peta koalisi yang sedang coba dibangun. Terlihat PDI-P yang berdasar hasil QC memperoleh suara terbesar (19%) begitu agresive melakukan pendekatan ke Partai yang lain. Pendekatan juga terlihat sangat agresiv dilakukan oleh Jokowi sang Capres dari PDI-P. Hanya berselang 1 hari dari pengumuman hasil QC, Jokowi sudah melakukan safari politik keberbagai Parpol, mulai dari Nasdem, PKB, Bahkan ke Golkar.

[ads1][ads2]

Ajakan Koalisi Jokowi ini ada yang bersambut, ada yang mengambang, bahkan ada juga yang ditolak mentah-mentah. Nasdem menyambut ajakan dengan tangan terbuka dan tanpa syarat. PKB yang masih menikmati mabuk kemenangan karena peningkatan perolehan suara, nampaknya sedang memainkan kartu untuk tarik-ulur tawaran dengan Jokowi. Sementara Partai Golkar sebagai partai dengan perolehan suara kedua (lagi lagi hasil QC), dengan tegas menolak dan menantang Jokowi di gelanggang PILPRES 2014.

Boleh dibilang sebenarnya PDI-P diujung tanduk. Jika berpegang pada hasil QC maka mau tidak mau, agar pencapresan Jokowi bisa terlaksana, koalisi adalah jalan satu satunya. Dan ini bukan hal yang mudah, sebagaimana analisa ditulisan saya terdahulu (baca disini). Pencapresan Jokowi sebelum pileg  mengadung resiko besar, terutama jika perolehan kursi PDI-P kurang dari 20%. Jika hal itu terjadi maka kemungkinan besar PDI-P akan gagal mengusung capres. Penyebabnya adalah karena Jokowi akan dijadikan musuh bersama oleh Parpol yang lain.

hasil quick count cysrus

Sekarang terbukti, perolehan suara PDI-P yang hanya 18-19% pasti tidak akan mampu untuk mengumpulkan 20% kursi DPR-RI. Terbukti juga akibat perolehan suara ini, terlihat Parpol mengambil sikap “bermusahan” dengan PDI-P. Tidak ada satupun daya tarik PDI-P yang bisa ditawarkan lagi kepada Partai lain, tidak ada satupun strategi rahasia yang masih tersimpan yang dapat menakuti partai yang lain. Tidak ada yang namanya Jokowi Effect di Pileg 2014 yang baru lalu.

PDI-P sekarang menjadi sangat tergantung dengan partai lain, sekecil apapun perolehan suara partai lain tersebut. Dan inilah yang saya maksud PDI-P diujung tanduk dan karir Jokowi dipertaruhkan. Bisa jadi mimpi PDI-P untuk berkuasa kembali harus kandas lagi.

Poros Indonesia Raya, bisa membuyarkan ambisi Jokowi

Dengan kemunculan wacana Poros Indonesia Raya yang dimainkan oleh Amien Rais, dengan merangkul partai-partai Islam dan menggabungkan dengan partai nasionalis, akan menjadi ancaman besar bagi PDI-P, sekaligus bisa membubarkan rencana koalisi yang sedang dibangun dengan Nasdem dan PKB.

amien rais

Jika Partai Islam seperti PKS, PAN, PPP, PBB berkoalisi setidaknya ada 22% Suara nasional terkumpul dan perkiraan saya gabungan kursi PKS, PAN dan PPP setidaknya berjumlah 25% (lihat tulisan saya cara hitung kursi di Dapil), lebih dari cukup untuk memajukan Capres sendiri. Kekuatan koalisi ini akan tidak mudah diabaikan oleh PKB sebagai partai nasionalis berbasis ummat islam, khususnya Nahdatul Ulama (NU). Apalagi PKB sangat memperhatikan suara ulama NU, yang sudah memperingatkan Muhaimin Iskandar (cak Imin) sang Ketua Umum untuk tetap mendukung Capres/cawapres sendiri yang sejak awal di usung, seperti Mahfud MD.

Disinilah saya lihat makin terjepitnya posisi PDI-P. Perkiraan saya, Cak Imin sebagai ketua umum PKB tidak akan begitu saja mengabaikan peringatan Ulama NU. Cak imin saya perkirakan akan ikut bergabung dengan koalisasi Indonesia Raya yang digagas Amien Rais dan partai islam lainnya.

Jika ini terjadi, maka peluang PDI-P mengajukan capres makin berat, apalagi dengan sudah munculnya pendeklarasian Prabowo sebagai Capres dari PPP. Artinya koalisi Indonesia Raya sudah pasti akan terbentuk hanya menunggu waktu saja untuk di deklarasikan. Nasib PDI-P benar benar diujung tanduk.

PDI-P Tergantung Nasdem

Pencapresan Jokowi menjadi sangat tergantung kepada Nasdem, tergantung pada Surya Paloh. Saya tidak yakin dengan perubahan peta akibat munculnya poros Indonesia Raya ini, Jokowi tidak akan tawar-menawar kekuasan dengan Nasdem. Tentu Nasdem yang memiliki sikap perjuangan Restorasi Indonesia, akan memilih parter koalisi yang kemungkinan besar bisa memenangkan Pilpre Juni nanti.

Jika Gerindra, PKS, PAN, PPP, PKB dan PBB sudah berkoalisi, maka hanya akan tinggal Golkar, Demokrat dan Hanura (plus PKPI yang tidak signifikan) yang belum menentukan partner koalisinya. Akbar Tanjung sudah tegas menolak Jokowi, Susilo B Yudhoyono (SBY) sangat tidak mungkin bergandengan dengan PDI-P yang mengusung Jokowi, demikian juga Wiranto dan Harry Tanoe yang pasti tidak bisa menerima Figur Jokowi yang dominan.

Terlihat Jokowi sudah dijadikan musuh bersama oleh semua Parpol karena begitu dominan nya Jokowi saat ini dalam percaturan Politik Tanah Air. Dan makin dijadikan musuh bersama karena sikap PDI-P yang terlihat seperti sudah dikendalikan oleh Jokowi dan kekuatan yang ada dibelakangnya. Apalagi dengan semakin tenggelamnya Megawati oleh pamor Jokowi.

Harapan Jokowi hanya ada pada Surya Paloh dengan Nasdemnya. Mau tidak mau Jokowi harus bisa memenuhi semua keinginan dan harapan Surya Paloh. Jika Jokowi dan PDI-P salah langkah, salah sikap sedikiti saja dan mengecewakan Surya Paloh, maka selesailah Jokowi dan terkuburlah mimpi PDI-P

Golkar Penentu Peta Pilpres

Jika berpegang pada hasil QC dan perkembangan politik akibat munculnya wacana Poros Indonesia Raya, maka peran Partai Golkar sangat menentukan. Orang boleh saja tidak suka dengan Aburizal Bakrie (ical), tapi senyatanya Golkar memperoleh suara 14% Nasional, dan ini jumlah yang tidak kecil. Perkiraan saya, Kursi DPR-RIyang akan dikuasai Golkar akan lebih dari 15%. Golkar hanya butuh 5% kursi saja lagi untuk bisa mengusung Capres sendiri. Walau ada isu peninjauan kembali Ical sebagai Capres Golkar, saya yakin dengan pengalaman politik Golkar, siapapun capresnya, Golkar tetap solid dan bisa mengambil keuntungan.

aburizal-bakrie

Jika dilihat perolehan kursi Golkar yang 15%, maka golkar akan mudah saja menawarkan koalisi dengan Demokrat, apalagi baik Ical dan SBY sudah berpengalaman bersama-sama dalam kabinet. Dan bagi SBY pilihan berkoalisi dengan Golkar adalah pilihan yang paling rasional walau sangat terbuka kemungkinan digandeng oleh Gerindra. Bagi Golkar, menundukan Demokrat cukup menawarkan Kursi Cawapres dan Demokrat sudah memiliki stok cawapres yang cukup dari Konvensi Demokrat.

Sementara bagi Hanura, memilih berkoalisi dengan Golkar adalah pilihan yang paling bijak. Tidak saja karena ideologi yang mereka usung sama, tapi juga bagi Hanura, Golkar adalah rumah asal mereka. Wiranto yang mantan kader Golkar tidak akan terlalu sulit berkomunikasi dengan elit di tubuh partai Golkar.

Jika Koalisi Golkar, Demokrat dan Hanura terbentuk, maka peta politik pencapresan sudah selesai tergambar. Makin terjepitlah Jokowi untuk mewujudkan cita citanya maju sebagai calon presiden di Pilpres 2014 ini.

Poros Indonesia Raya Harus Terwujud

Dengan kondisi ini, saya yakin Poros Indonesia Raya pasti terbentuk, karena inilah jalan terbaik untuk membendung dominasi Jokowi dan PDI-P. Dan Jika poros ini sudah terbentuk, maka Kemungkinan terbesar Golkar, Demokrat, Hanura dan Nasdem akan bersatu, karena sejatinya keempat partai ini rumah asalnya adalah GOLKAR.

Jika ini terjadi, mimpi PDI-P untuk kembali berkuasa, mimpi PDI-P untuk berbuka setelah berpuasa selama 10 tahun, terpaksa akan dipendam. PDI-P harus kembali menjalankan puasanya.

Skenario inilah yang menurut saya paling mungkin terjadi saat ini, Gerindra dengan Partai partai Islam disatu sisi berhadapan dengan Partai Nasionalis berbasis Kekaryaan disisi lainnya, Sebuah pertarungan yang menarik.

Lantas bagaimana PDI-P ?

Inilah buah keangkuhan politisi yang mengumpan Jokowi sebelum PILEG, buah dari ketidaksabaran akan mencicipi kekuasaan.

Ada jalan lain jika PDI-P ingin berkuasa, yaitu membuang ego nya, membuang wacana “tidak bagi bagi kekuasan”, memulai politik pragmatis tanpa ideaologi, bagi-bagi kursi, bagi-bagi kekuasaan, menawarkan jabatan pada partai yang diajak koalisi. Dan Jika ini terjadi, saya tidak yakin pemerintahan PDI-P jika nanti terpilih akan berjalan efektif. Saya tidak yakin jika ini dilakukan Jokowi akan bisa jadi Presiden idaman Rakyat Indonesia sesuai dengan yang digembar gemborkan Jokowi selama ini.

Sungguh sayang, jika ini terjadi, jika PDI-P gagal lagi menuju kekuasan kali ini. Semoga orang-orang Nasionalis belajar lagi, apa arti kesabaran Perjoangan, apa arti berjuang secara ideologis dan mengedepankan kader kader terbaik.

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca