Menakar Konsistensi Rhoma Irama dibanding Jokowi

0

rhoma

Pemilihan Legislatif sudah berlalu, dan hasilnya sudah diketahui bersama. Real Count (RC) KPU akhirnya mengikuti hasil Quick Count (QC) lembaga survei.

Persis seperti survei QC, PDI-P keluar sebagai pemenang dengan 18,95% suara, diikuti Golkar 14,75% suara, Gerindra 11,81% suara dan Demokrat 10,19% suara.

Yang fenomenal adalah kenaikan suara PKB yang luar biasa jika dibanding PILEG 2009. Jika tahun 2009 hanya memperoleh suara 4,18%, di tahun 2014 ini berhasil memperoleh suara 9,04%, mengalami kenaikan luar biasa, 116%, dua kali lipat lebih.

Kenaikan ini diluar perkiraan banyak pengamat, apalagi karena PKB dengan sangat berani mengusung Rhoma Irama sebagai Capres sebelum PILEG berlangsung. Bagi kebanyakan pengamat politik, langkah PKB ini diperkirakan akan membuat suara PKB jatuh.

Hal yang berbeda dialami PDI-P, walau juga mengalami kenaikan suara dibanding PILEG 2009 yang 14,01% menjadi 18.95%, tapi hasil ini diluar dugaan banyak pengamat politik dan lembaga survei, utamanya setelah Jokowi “dipaksa” untuk dicapreskan sebelum PILEG 2014.

Perolehan Suara Nasional 18,95% ini merupakan perolehan yang sudah jauh hari diperkirakan merupakan captive suara PDI-P sebagai sebuah Partai yang konsisten Oposisi selama 10 tahun belakangan. Semua memperkirakan PDI-P memiliki potensi suara 17-20% dalam PILEG 2014.

Menurut kalangan yang mendorong Jokowi segera di Capreskan sebelum PILEG 2014, suara PDI-P akan naik menjadi 27-30% dengan mengusung Jokowi sebagai Capres. Tapi kenyataan berkata lain, dalam PILEG 2014 suara PDI-P ternyata tetap tidak bergerak, tetap dibawah 20%, walau sudah mencapreskan Jokowi, dan ini sesuai dengan kekhawatiran dalam tulisan saya masa itu (baca disini).

Disini terlihat, betapa sangat berbeda penerimaan image Rhoma Irama dan Jokowi dalam PILEG 2014 lalu. Jokowi yang diperkirakan mampu mendongkrak perolehan suara PDI-P, ternyata malah meleset jauh dan berada dibawah harapan PDI-P sebelum Jokowi di capreskan.

Rhoma Irama, Simbol konsistensi Perjuangan dan kedekatan dengan Pemilih

Banyak pengamat menyepelekan sewaktu Rhoma di usung oleh PKB sebagai Capres mereka. Banyak yang mencibir bahkan memperkirakan PKB akan turun suaranya. Di social media tidak kurang para pengkritik mencibir dan mengolok olok kemampuan Rhoma untuk menaikan elektabilitas PKB.

Rupanya banyak yang lupa atau mungkin kalangan yang lebih muda tidak tahu, bahwa Rhoma Irama selain sebagai Raja Dangdut, penghibur yang musik nya digandrungi kalangan rakyat kebanyakan, adalah juga seorang yang konsisten berjuang di sisi Rakyat sejak zaman Orde Baru. Kekonsistenan-nya dapatlah disejajarkan dengan Iwan Fals yang juga seorang penyanyi dari genre musik yang berbeda.

Banyak yang lupa, disaat rezim Orde Baru demikian kuat dan ditakutinya, Rhoma Irama sudah berani bersuara lantang berbeda dengan Penguasa. Rhoma-lah yang termasuk dengan lantang dan lugas mengungkit bobroknya pemerintahan masa Presiden Soeharto. Rhoma pula-lah yang berulang-ulang dalam syair-nya, menyuarakan kepiluan Rakyat NKRI akibat pembangunan yang timpang, korupsi dimana-mana dan penyalah-gunaan wewenang.

Mungkin para penggemar lagu lagu Rhoma masih ingat pada tahun 1980-an, Rhoma mengeluarkan sebuah lagu yang sangat fenomenal, menggugah kesadaran akan hak rakyat yang hidup dinegeri kaya raya tapi hidup penuh kemiskinan dan ketidak adilan, lagu dengan judul “INDONESIA” (bisa didengarkan disini).¬†Sebuah lagu yang sangat berani disaat Soeharto masa itu sedang sangat kuat-kuatnya berkuasa, saat orang disekitar Soeharto yang demikian rakus mengambil keuntungan untuk diri dan kelompoknya dan saat korupsi, kolusi, nepotisme merajalela.

Rhoma menjadi simbol perlawanan dan tempat sebagian besar rakyat ‘menghibur” diri atas kemalangan yang menimpa diri mereka, kemalangan karena tidak dapat turut serta menikmati kekayaan negeri zamrud khatulistiwa.

Tidak hanya di dunia musik, Rhoma juga berjuang melalui jalur Politik, memberikan dukungan secara konsisten kepada PPP dan bersuara di Parlemen. Berkat jasa Rhoma-lah PPP pada masa itu selalu memperoleh suara yang “cukup” dan dibeberapa daerah masih bisa bersuara cukup lantang.

Konsistensi Rhoma Irama inilah yang kerap dilupakan banyak orang, konsistensi inilah yang merasuk kedalam pikiran dan hati rakyat yang sudah melihat apa yang diperjuangkan Bang Haji pada sejak masa lalu. Konsistensi yang buah manis nya akhirnya di nikmati PKB saat PILEG 2014. Walau akhirnya Bang Haji harus pasrah ditelikung oleh Imin sang Ketum PKB yang sudah sangat terkenal jago mempecundangi banyak tokoh.

Jokowi simbol kekecewaan Rakyat

Hal yang berbeda kita lihat pada Jokowi. Walau Jokowi sangat populer saat ini, dapat memenangkan PILKADA DKI mengalahkan banyak tokoh politik dan tokoh masyarakat yang sudah lebih dahulu dikenal, tapi image nya tidak mampu menaikan perolehan suara PDI-P dalam PILEG 2014.

Kenapa hal ini terjadi ?

Hemat saya, Jokowi tidaklan sama dengan Rhoma, Jokowi bukanlah tokoh yang sudah berjuang lama di sisi Rakyat, bukan tokoh yang malang melintang membela kepentingan Rakyat jauh sebelumnya. Jokowi praktis adalah tokoh yang tidak memiliki karya perjuangan selama rezim-rezim sebelumnya. Praktis Jokowi ini adalah tokoh yang serta merta saja muncul dalam perpolitikan tanah air. Tokoh instan, begitu banyak diperbincangkan orang.

Kita melihat banyak tokoh mahasiswa lahir pada era 80-an, dimasa Jokowi menjadi Mahasiswa UGM. Tapi tidak ada satupun catatan, Jokowi sebagai mahasiswa, pernah berjuang disisi Rakyat, bahkan berdasar data yang coba saya himpun, tidak ditemukan data, Jokowi ini aktif diorganisasi kemahasiswaan extra seperti GMNI yang merupakan organisasi kader mahasiswa Nasionalis, sumber nya kader PDI-P.

Padahal mahasiswa UGM masa Jokowi berkuliah, sarangnya aktifits pergerakan yang kritis pada masa rezim Soeharto. Banyak kasus nasional tahun 80-an, seperti kasus Kedung Ombo di Jawa tengah, kasus Way kambas di Lampung, yang membuat kampus Bulaksumur bergejolak dan banyak melahirkan tokoh-tokoh aktifis yang kemudian hari jadi tokoh nasional.

Fenomena Jokowi adalah berdasarkan kemenangan Jokowi di PILKADA Jakarta. Kemenangannya bukan karena pemilih DKI pernah tahu atau merasakan karya Jokowi sebelumnya. Tapi dikarenakan Pemilih DKI memperoleh saluran untuk melampiaskan kekecewaannya kepada Pemerintahan DKI sebelumnya, kepada tokoh-tokoh yang mengecewakan mereka. Kekecewaan karena kondisi Jakarta yang tidak semakin membaik. Kekecewaan yang kemudian berujung pada “unjuk” kekuatan Rakyat dengan memilih Jokowi sebagai Gubernur DKI.

Jadi kemenangan Jokowi semata adalah kemenangan atas kekecewaan Rakyat DKI, yang menemukan salurannya pada figur Jokowi.

Hemat saya, kemenangan Jokowi di Jakarta saat PILKADA tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk mendorong perolehan suara di PILEG yang skalanya Nasional. Tidak seluruh Rakyat Indonesia tahu karya Jokowi bagi negeri, bagi rakyat. Rakyat hanya tahu Jokowi belakangan dari pemberitaan-pemberitaan media, tentang sepak terjangnya di DKI jakarta. Dan itupun baru sepak-terjangnya memenangkan PILKADA dan kehebohan saat Jokowi hendak mulai merubah “wajah” birokrasi Jakarta.

Ditambah lagi kenyataan, kekecewaan Rakyat di DKI tidak sama dengan kekecewaan Rakyat di daerah lain, bentuknya bisa sangat berbeda, dan butuh penyaluran yang juga berbeda. Serta bisa jadi dibeberapa daerah, rakyat tidak mengalamai kekecewaan tapi puas atas apa yang sudah mereka dapatkan. Belum lagi jika terkait Konsistensi dengan janji Jokowi yang berjanji akan membenahi Jakarta jika terpilih jadi Gubernur.

Oleh karena itu lah pada PILEG 2014 lalu, PDI-P tidak berhasil menjual figure Jokowi, karena kekecewaan seluruh Rakyat NKRI tidak bisa direpresentasikan seperti kecewanya Rakyat DKI. Atau bisa juga rakyat menilai konsistensi perjuangan Jokowi yang kelas nya belum sebanding dengan konsistensi Bang Haji Rhoma Irama.

Disinilah perbedaan antara Rhoma Irama yang konsisten selama ini berjuang di tengah Rakyat, lewat karya nya, lewat aksi nyata-nya, dibanding Jokowi yang tiba tiba muncul memberi pengharapan pada kekecewaan masyarakat DKI.

Konsistensi berjuang yang panjang dibanding  kemunculan yang secara Instan, pada Pileg 2014 telah menunjukan hasilnya, dimana Rakyat NKRI lebih memilih konsistensi dibanding figure yang instan yang di buzz melalui pemberitaan.

Apakah ini juga akan terlihat pada PILPRES nanti ?

Mari kita lihat bersama, apakah Rakyat akan memilih pemimpin yang telah berjuang secara konsisten disisi mereka selama ini, memberikan bukti, dan bisa jadi harapan untuk memperbaiki nasib mereka. Atau apakah Rakyat NKRI sama kecewanya seperti Rakyat DKI dan memperoleh penyalurannya lewat Figure Jokowi.

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca