Jika Quick Count bukan sandiwara, Berapa Kursi Parpol

3

KIP Aceh

Tulisan saya sebelumnya tentang menyikapi hasil Quick Count (silahkan baca disini) mendapat respon beragam. Ada yang sependapat ada yang sebaliknya, ada juga yang menuduh saya sama dengan pemrotes lain yang tidak menerima hasil QC. Saya maklumi semua tuduhan tersebut, karena realitas saat ini, sikap saling mencurigai, saling menuduh sudah menjadi kelaziman. Ini lah buah dari bentuk kepemimpinan elit di Indonesia, dari perilaku elit yang saling jegal, saling serang, saling curiga, pertikaian yang dipertontonkan pada rakyat negeri ini. Menyedihkan, butuh usaha yang akan sangat lama dan energi yang sangat besar untuk memperbaiki kondisi masyarakat ini.

[ads1][ads2]

Soal tuduhan, saya seperti membela PKS dalam tulisan tersebut, saya tidak paham dari sudut mana menilainya, tapi tidak mengapa, saya anggap itu pujian saja. PKS yang di hajar habis-habisan sejak 2013, memang layak dibela. Dibela bukan karena elit nya yang berbuat salah, tapi serang-serangan pada mereka yang sudah berupa kezaliman luar biasa. Bagi orang beragama, apapun agamanya, saya yakin ada perintah kita tidak boleh menzalimi orang, walau orang tersebut berbuat salah. Kesalahan harus dihukum sesuai kesalahannya, bukan malah ikut berbuat salah dengan menindas, menghina, menghakimi, menghujat.

Ada juga kader PDI-P dan simpatisan Jokowi, mungkin dari barisan pendukung, menuduh saya tidak menerima kemenangan PDI-P dengan hasil QC ini. Tuduhan ini juga saya tidak paham, dari bagian mana membaca tulisan saya sehingga berkesimpulan demikian.  Saya akan tunjukan di tulisan saya kali ini, bahwa justru saya sedang mengingatkan bahwa hasil QC yang diumumkan tanpa didukung data tersebut membahayakan perolehan KURSI PDI-P.

Untuk tuduhan saya tidak mempercayai lembaga QC, itu jauh sekali melencengnya. Karena ditulisan tersebut jelas saya tidak mempertanyakan lembaga QC tapi mempertanyakan Parpol, apa alasan mereka bisa menerima pengumumam QC ini ?

Soal kenapa saya tidak menanyakan ke lembaga tersebut, ini tuduhan aneh lagi. Kenapa saya yang harus bertanya? kalau dibalik pertanyaannya sekarang, apakah lembaga QC tersebut ada yang meminta mereka melakukan QC dan mengumumkan-nya saat proses PILEG masih berlangsung? siapa yang menyuruh dan membiaya mereka? Kalau tidak ada yang meminta, kenapa mereka tidak sertai pengumuman hasil QC yang tidak pernah diminta rakyat tersebut dengan data-data TPS mana yang di sampling? Dapil yang disampling? Propinsi yang disampling? metode yang digunakan? seperti apa koefisien perbedaan satu daerah sampling dengan daerah lain? seberapa besar pengaruh CARA HITUNG KURSI dengan sampling yang diambil ?
Lha koq saya/rakyat yang diminta tanya? mestinya yang sudah berani mengumumkan dong yang tunjukan bukti pendukung hasil QC nya ! tapi, parpol saja tidak minta dan meng-amini saja, apalagi rakyat ya.. menggelikan.

Baik lah, tidak ada masalah semua tuduhan tersebut, hanya perbedaan melihat sudut pandang, plus adanya masih penilaian atas opini yang berdasarkan suasana hati dan dukung-mendukung. Nasib rakyat NKRI….

Sementara, kita terima saja hasil QC ini, sebagaimana dengan manis nya seluruh Parpol menerima dan mengambil langkah politik berdasarkan hasil QC tersebut.

Sekarang mari kita bermain-main dengan simulasi atas hasil QC yang sudah di-amini tersebut. Mensimulasikan berapa realnya perolehan kursi dengan hasil QC yang berdasarkan suara pemilih nasional tersebut jika diproyeksikan ke Dapil.

Dasar menghitung perolehan Kursi

Pertama, kita harus tahu dulu apa dasar perhitungan perolehan kursi DPR-RI. Berdasarkan perundang undangan yang menjadi dasar Pemilu kali ini cara menghitung kursi PILEG 2014 berbeda dari PILEG 2009.

Berikut yang menjadi dasar perhitungan Kursi DPR-RI

    1. Ambang Batas atau Parliamentary Threshold (PT) : adalah batas minimal perolehan SUARA NASIONAL suatu partai politik untuk dapat diikutkan dalam perhitungan Suara dalam pemperoleh Kursi di DPR-RI. Sesuai dengan aturan PILEG 2014, besarnya PT adalah 3,5%, artinya Parpol yang perolehan suara kurang dari 3,5% secara nasional akan dihapus keikut sertaanya dalam perhitungan kursi di seluruh DAPIL.
      Walaupu misal, disuatu Dapil, Partai tersebut memperolah suara 50%, tetap tidak diikutkan dalam perhitungan suara untuk mendapatkan Kursi DPR-RI di Dapil tsb.
      Dari hasil QC CSIS-Cysrus maka PBB dan PKPI tidak diperhitungkan suara nya diseluruh dapil. Suara nasional yang diperhitungakan hanya 97.30% (lihat grafis). Hanya disinilah saya lihat QC ini bermanfaat, yaitu untuk tahu Partai apa yang tidak lolos PT.hasil quick count cysrus
    2. Perolehan Kursi di masing masing DAPIL berdasarkan jumlah suara sah keseluruhan Partai yang lolos ambang batas atau dengan kata lain seluruh suara sah di DAPIL bersangkutan dikurangi suara Partai yang tidak lolos PT (kita sebut saja Jumlah suara BP/Bilangan Pembagi).
      Jumlah Suara BP ini sangat tergantung dengan tingkat GOLPUT di suatu dapil dan SUARA TIDAK SAH.
      Dari parameter Golput dan Suara Tidak sah ini saja, sudah terlihat bias hasil QC yang berdasarkan sampling SUARA NASIONAL, tanpa memperlihatkan berapa besarnya GOLPUT dan SUARA TIDAK SAH… mana datanya ?
      Apalagi masing-masing Propinsi, masing masing DAPIL punya variasi GOLPUT dan Suara tidak sah yang berbada-beda.
    3. Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) adalah Jumlah Suara BP dibagi kursi yang tersedia di dapil tersebut.
      Angka ini menentukan perolehan kursi. Nilai BPP dipengaruhi jumlah Daftar pemilih tetap, dan dipengaruhi yang menggunakan hak pilih, dipengaruhi suara tidak sah, dan DIPENGARUHI Partai yang tidak lolos ambang batas (PT).
      Apakah diseluruh Dapil, suara partai yang tidak lolos PT jumlahnya pasti dibawah 3,5%? bagaimana kalau di Bangka Belitung misal, suara PBB 20%? kan artinya jumlah suara yang tidak diikutkan perhitungan BPP akan makin besar dibuang, dan harga BPP semakin murah ?

    4. Cara menghitung perolehan kursi di Dapil adalah dengan 2 Tahap langsung selesai (kita sebut kursi 1 dan kursi 2). dimana tahapannya adalah sebagai berikut :
      * KURSI 1 (tahap 1) : Dilihat partai mana yang suaranya diatas bilangan pembagi pemilih (BPP). Jika sama atau lebih besar dari BPP maka dapat 1 suara. Jika dua kali BPP maka dapat 2 suara, demikian seterusnya. Sisa suara ditahap KURSI 1 ini dipindahkan ke tahap KURSI 2. Parpol yang suaranya kecil dari BPP maka seluruh suara dipindah ketahap KURSI 2. Jika kursi tidak habis di tahap 1 ini, maka dilanjutkan pembagian ke tahap 2.
      * KURSI 2 (tahap 2) : Seluruh sisa suara dan suara parpol yang tidak mendapat Kursi ditahap 1, akan dirangking sesuai besarnya suara tahap 2. Rangking inilah yang menentukan apakah prapol mendapat tambahan kursi atau tidak.
      Langkah ke empat inilah yang sangat berbeda dengan PILEG 2009, tidak adalagi sisa suara di bawa ke propinsi, semua habis di Dapil.
    5. ( lagi lagi Pancasila ) Dengan system perhitungan berbasis Dapil dan habis di dapil, maka jangan kaget Parpol yang memperoleh suara 2-3 kali lipat dari partai yang terendah, bisa jadi jumlah PEROLEHAN KURSINYA akan sama.
      Ini ditentukan MAHAL atau TIDAK nya BPP, seberapa besar nilai BPP, makin besar BPP maka makin besar kemungkinan KURSI PARPOL JUARA sama dengan KURSI PARPOL PALING BONTOT.

Kalau sudah begini, tanpa pengetahuan data dan metodologi hasil QC, bagaimana meyakini bahwa pengumuman QC itu bisa menyimpulkan HASIL NYA MENDEKATI BENAR, dan akan sesuai dengan REAL COUNT nanti ? apa tidak malah nanti menggiring RC agar sesuai QC? bukan nuduh, hanya khawatir, karena Panitia di KPPS saja kelelahan menghitung, bagaimana di tingkat lebih tinggi, apalagi KPU ?

Becanda semua parpol sepertinya ya ?

Simulasi Perolehan Kursi berdasarkan hasil QC

Saya akan bertanggung jawab dengan opini saya dengan menyajikan simulasi perhitungan suara berdasarkan hasil QC yang diterima semua parpol tersebut.

Berikut simulasinya berdasarkan Dapil yang ada di Jawa Timur, yang merupakan Dapil Mahal.

Silahkan lihat simulasi untuk dapil JATIM 1 (Sidoarjo – Surabaya)

simulasi_QC_diproyeksi_kekursi_dapil_1

Dari tabel simulasi Dapil Jatim 1 diatas :

  • Pemilih terdaftar, data diambila dari data KPU-RI
  • Perkiraan data Golput 30% disesuaikan dengan data rata-rata Golput Pileg 2009. Angka ini bisa lebih besar lagi di Dapil Jatim 1 ini, berdasarkan partisipasi 2009 dan partisipasi beberapa kali pilkada, Golputnya sampai 35-40%
  • Suara sah, berdasarkan data suara sah Pileg 2009 secara nasional 85%. Fakta Data lapangan yang kami temukan di Dapil 1, banyak surat suara tidak sah di TPS, setidaknya 20% suara tidak sah (bukan golput, tapi nyoblos semua, atau kosong )
  • Suara Bilangan Pemilih (BP) adalah jumlah suara yang diikutkan untuk menentukan BPP setelah dibuang suara partai yang tidak lolos PT di dapil tersebut. Merujuk data Quick Count besarnya 97,30% dari suara sah.
  • Kursi tersedia di Dapil Jatim 1 ini adalah 10 kursi
  • Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) adalah yang menentukan harga 1 kursi. dimana BPP adalah Jumlah BP dibagi jumlah kursi tersedia.

Nach dari table simulasi diatas, ternyata PDI-P, jumlah kursinya sama dengan PILEG sebelumnya, tetap 2 kursi. dan kursi lain dibagi rata kesemua partai yang ada, sesuai dengan rangkingnya. Jika BPP lebih besar, bisa jadi PDIP juga akan dapat 1 kursi.

Di table tersebut juga terlihat PKS, NASDEM dan PPP yang perolehan suaranya hanya 1/3 PDIP ternyata bisa dapat 1 kursi atau 50% kursi PDI-P. Sementara Golkar Yang Juara 2 di QC, dengan suara hampir 2 kali lipat PAN, harus puas Kursinya sama dengan PPP yang paling buncit.

Jadi bagaimana hasil QC bisa menggambarkan hasil Perolehan KURSI ini ?
PILEG itu memilih kursi bukan rebutan besarnya suarakan ? Ada apa SBY, sang ahli strategi koq iklas lempar handuk ? Padahal kawan2x Koalisinya digabungkan suaranya mengalahkan PDI-P ?… #garukkepala

Baik, sekarang kita simulasikan berdasarkan realitas kekuatan Parpol di Dapil Jatim 1, ini dilandasi data realitas saat pilgub, pilkada dan data data survei elektabilitas internal atas kekuatan parpol di Dapil ini, juga kekuatan saat kampanye PILEG. Saya simulasikan dengan menghitung porsentase perolehan kenaikan suara dibanding PILEG 2009. Misal PDIP realitas kekuatannya di Dapil ini adalah 11%, kemudian merujuk hasil QC dimana PDI-P mengalami kenaikan perolehan suara 35% pada pileg kali ini, maka saya berikan PDIP kemungkinan perolehan suara 15%. demikian partai yang lain.

simulasi_QC_diproyeksi_kekursi_dapil_1_realitas_kekuatanNach lho ? ternyata  dengan mengambil pertumbuhan perolehan suara dari hasil QC, malah PDI-P hanya mendapatkan 10% kursi sama dengan Partai lainnya ? What’ wrong ? wach sia-sia kerja keras kader, 3 kali lipat suara dari nasdem tapi kursinya sama, 1 kursi saja !!

Masih belum puas ?

Ini Simulasi berdasarkan Dapil V Jatim yang lumbung PDI-P juga

simulasi_QC_diproyeksi_kekursi_dapil_5

Lho kerja keras kader PDI-P dibawah, berdasarkan hasil QC ternyata hanya bernilai 1 kursi.  Jadi ?

Terlihat, BPP makin murah, maka dengan hanya 19% suara yang juara tersebut dengan system perhitungan yang baru, tidak ada artinya, bahkan nilainya sama dengan partai yang hanya peroleh suara nasional 6%.

Masih ragu ? ini coba lihat proyeksi ke Dapil Sumbar 1

simulasi_QC_diproyeksi_kekursi_dapil_sumbar_1

Jika di cermati, Sumbar 1 ini adalah basis PBB juga, setidaknya PBB bisa mendapatkan lebih dari 3,5% suara, tapi suara tersebut harus dibuang dari BPP jika merujuk pada pengumuman hasil QC. Bayangkan makin kecil nilai BPP. Dan jangan lupa PKS selalu merajai Dapil Sumbar 1 ini, juga PPP. Kalu sudah begini bagaimana dong hasil QC bisa di-relasikan dengan Dapil Sumbar 1 ini ?

Oleh karena itu penting kita tahu, dimana sampling yang dilakukan oleh lembaga QC tersebut, bagaimana mereka menegakan kebenaran data hasil samping mereka. Karena ternyata perolehan suara Nasional bisa kecil sekali pengaruhnya atas perolehan KURSI di DAPIL, belum lagi fakta bahwa besarnya peran suara Golput, suara tidak sah, suara parpol yang kena ambang batas di suatu Dapil.

Selamat menikmati hiburan QC ini…..

BTW : Siapa ya yang akan mulai menunjukan data data sampling QC nya ?… masih tidak ada? ya terimalah kalau begitu hasil Real Count sama dengan hasil QC, dan tahun 2019 sekali lagi saya usulkan PILEG SAMPLING SUARA SAJA, atau seperti zaman Orde Baru lagi saja, hasil Pemilu sudah bisa dipastikan sebelum Pemilu berlangsung….

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

1 KOMENTAR

Tanggapan Pembaca