Ingin Berperan-nya (kembali?) Angkatan 77/78

0

D'lloyd

Rencana hari minggu ini akan habiskan waktu membaca sebuah Buku baru pemberian Prof. Daniel M. Rosyid, Guru Besar Teknik Kelautan ITS. Sebuah buku tentang Modernitas Indonesia Abad 21 dalam perspektif Maritim dan Energi. Buku yang dari judulnya saja sudah mempesona saya untuk segera membacanya, apalagi ini ditulis oleh seorang pendidik sekaligus praktisi dibidang maritim.

[ads2][ads1]

Baru saja membaca beberapa lembar, dapat kiriman link tulisan dari seorang teman, tentang sebuah tulisan menarik di Kompasiana yang ditulis oleh Dr. Musni Umar. Teralihkan lah niat membaca untuk sementara.

Tulisan di Kompasiana tersebut sangat mengelitik dengan judul mengaduk-ngaduk rasa penasaran “Angkatan 77/78: Pemerintahan SBY Tidak Beri Manfaat Nyata Pada Rakyat Jelata, Pro Pemodal dan Pro Asing“.

Bukan hanya rasa penasaran ingin tahu argumentasi apa yang digunakan untuk mendukung kesimpulan tentang pemerintahan SBY, tapi yang lebih menggelitik adalah karena kesimpulan ini dilakukan olehangkatan 77/78. Sebuah angkatan yang kalau dihitung masa nya dari sekarang adalah sebuah angkatan yang sudah cukup “tuwir”. hehehe,.. Ini serius, betul betul sudah old mestinya, tapi koq ya masih keras dan lantang suaranya menyikapi Pemerintahan SBY. Pemerintahan yang notabene kebanyakan diisi oleh angkatan ini juga (plus-minus). Dari sisi usia saja setidak nya mereka rata rata sudah di usia 58-60 tahun. Betul-betul angkatan old fashion tapi dengan spirit tetap muda dan oposan.

Siapa itu angkatan 77/78

Mari kita lihat kebelakang sejenak, mungkin banyak diantara anak muda saat ini, mahasiswa atau bisa jadi aktivis pergerakan, tidak cukup mengenal angkatan 77/78 dan kiprahnya. Beda dengan angkatan 74 yang terkenal dengan persitiwa Malari-nya, yang sampai sekarang masih sering jadi bahan diskusi dan dikisahkan sebagai pembangkit semangat juang para aktivis kampus.

Angkatan 77/78 ini merujuk pada masa Dewan Mahasiswa (DEMA) terakhir di Indonesia, sebelum dipunahkan oleh konsep NKK/BKK Daoed Joeseof. DEMA periode 77 dan 78 dikampus-kampus Indonesia diisi oleh mahasiswa dari angkatan masuk 70-74, dengan periode menjabat di DEMA tahun 77/78.

Periode DEMA ini lah masa puncak perlawanan Mahasiswa melawan kediktatoran Presiden Soeharto. Dimulai dengan kasus pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) oleh DEMA ITB, UI dan IPB di Bogor saat Pemilu tahun 1977. DPRS ini sebagai bentuk penolakan Mahasiswa atas sikap DPRD Jawa Barat yang kembali mengusulkan Soeharto sebagai Presiden.

Masa itu terkenal tokoh DEMA, seperti Al Hilal Hamdi, Kemal taruk, Farid Faqih, Ramles Silalahi. Semua penggagas DPRS ini ditahan pemerintah order baru. Penolakan kediktatoran Soeharto berlangsung terus di tahun itu, hingga pada oktober 1977 terjadi demo besar-besaran di Bandung pada peringatan Sumpah Pemuda oleh DEMA se Indonesia. Demo yang sangat besar masa itu tapi dapat ditekan militer dan tidak sampai terjadi benturan di lapangan.

Klimaks pergerakan mahasiswa menolak kedikatatoran Soeharto ini memuncak di Kampus Ganesha ITB pada Januari 1978 dengan dikeluarkannya Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978 dan pernyataan sikap “Tidak Mempercayai dan Tidak Menghendaki Soeharto Kembali Menjadi Presiden RI”. DEMA ITB masa itu digawangi oleh Herry Achmadi, Rizal Ramli, Indro Tjahjono (pasti semua pembaca tahu apa posisi mereka saat sekarang).

Akibat pernyataan sikap ini, Kampus ITB mengalami tindakan represif militer dengan diserbunya Kampus di Jalan Ganesha 10 tersebut oleh Kodam Siliwangi dan Pasukan Kostrad. Seluruh Aktivis masa itu dibersihkan dari kampus dan dipenjara oleh rezim Soeharto. Dan puncaknya, Mendikbud Daoed Joesoef, memberlakukan konsep NKK/BKK dan kemudian oleh Panglima Kopkamtib, Laksamana Soedomo,DEMA diseluruh Indonesia dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Berakhirlah era DEMA sebagai organisasi pergerakan mahasiswa progresif di kampus indonesia, walau masih ada beberapa yang berjalan hingga beberapa periode kepengurusan sampai 1982.

Itulah sekelumit sejarah pergerakan Mahasiswa atau DEMA tahun 77/78 dalam mewarnai pergerakan Mahasiswa Indonesia. Jika masa itu mereka turun ke jalan-jalan dan bersuara lantang akibat terpuruknya kondisi Rakyat Indonesia dan Negara, saat ini mereka tidak lagi di jalan-jalan untuk bersuara lantang tapi sudah di dalam system dan bisa bersuara lantang di dalam rapat di gedung dewan atau sidang-sidang kabinet atau pemerintah lainnya.  Tapi koq kondisi rakyat sama ya?…. apa yang salah ? … Sampai-sampai angkatan 77/78 perlu mengeluarkan pernyataan seperti di tulisan Bang Musni Umar. Apa mereka juga kebanyakan tidak didalam system selama ini ? lantas dimana?…. heheheh entahlah

Ada Apa Gerangan Angkatan 77/78

Terus terang saya terusik karena angka 77/78 ini, selain sudah old, juga koq serasa ada kotak-kotak lain dalam peran bagi perbaikan Indonesia, yang memang semakin jauh dari cita cita kemerdekaan.

Sebelumnya ada kotak kedaerahan dalam wacana Presiden mendatang yang membuat banyak pihak meradang. Seperti wacana Wapres dari Sunda yang di gaung-gaungkan tokoh Jawa Barat, Jumhur Hidayat dan Ginanjar Kartasasmita, dan membuat Bang Syahganda Nainggolan (aktifis 84) cukup meradang … 🙂

Bagi saya, cukup aneh statemen yang dilontarakan oleh eks aktifis Mahasiswa 77/78 ini. Apalagi menjelang pemilu Legisltaif dan Presiden yang sebentar lagi akan di helat. Aneh jika melihat sejarah mereka seperti yang saya kutip diatas, orang orang yang punya latar belakang pergerakan revolusioner kuat. Yang tidak takut apapun bahkan tentara bersenjata lengkap saja mereka hadapi masa itu.

Keanehan pertama, kenapa baru sekarang mereka sadar bahwa kondisi negeri makin terpuruk, terutama makin hilangnya kemandirian ekonomi, kenapa sekarang mereka merasa perlu mengeluarkan statemen bersama. Padahal pemerintah saat ini sangat jauh dari sikap represif, dan sejak reformasi semua kanal untuk menyuarakan apa yang ingin diperjuangkan sangat terbuka. Padahal pemerintahan SBY ini pun akan segera berakhir setelah 10 tahun berkuasa dan akan tinggal sejarah sebagai pemerintah paling lemah minimal di mata negara tetangga. Kenapa sekarang ?

Kedua, dilihat dari usia mereka yang rata rata 58-60 tahun, juga posisi posisi mereka saat ini, statemen ini menimbukan tanda tanya lain. Tanda tanya karena sejatinya angkatan 77/78 ini adalah angkatan yang kebanyakan berada dalam system pemerintahan dan kenegaraan saat ini. Sejak Reformasi saya melihat justru dari seputaran angkatan inilah yang banyak mengisi eksekutif juga di legilstaif. Dan rata rata tokoh angkatan ini pernah menjabat di pemerintahan dan di DPR/DPPRD dan secara umum angkatan ini juga banyak mengisi posisi penting baik di negeri maupun swasta tanah air. Sebutlah misalnya Rizal Ramli, Herry Achmadi, Indro Tjahjono, Prof Didin R, Al Hilal Hamdi, dan banyak lagi. Apa yang dilakukan selama ini oleh Angkatan 77/78 ?

Ketiga, soal usia, sungguh saya tidak membayangkan, dengan usia mereka yang rata rata 58-60 tahun tersebut masih menuntut peran untuk memperbaiki Indonesia kedepan. Tidak bisa saya bayangkan betapa banyak generasi lain yang harus antri lagi memimpin dan ikut berperan memperbaiki negeri ini dibelakang mereka. Ada angkatannya Bang Iwan Basri (angk 76, Dema 80/81), adalagi angkatannya Fadjroel Rahman, Jumhur Hidayat, Syahganda Naingolan, Pramono Anung, Priyo BS (80an), belum lagi angkatan 90-an seperti saya ini (hmmm) dan angkatan 98. Bisa-bisa angkatan tersebut lapuk dimakan usia atau seperti kata pasrahnya Bang Yuzril Ihza Mahendra, bahwa tidak adalagi harapannya memimpin Indonesia, sudah ditutup semua pintu, karena tahun 2019 sudah tua pun. Peran seperti apa lagi yang mau dilakukan angkatan 77/78 ?

Tapi, bisa jadi Angkatan 77/78 ini beranggapan mereka masih cukup muda untuk memperbaiki Indonesia. Cukup muda karena mereka membandingkan usia dengan calon-calon presiden yang digadang-gadang saat ini, seperti Jusuf Kalla (72), Megawati (67), Wiranto (67), Prabowo (62). Kalau itu sebagai pembandingnya cukup bisa dimengerti. Dan memang tampaknya, angkatan lain yang ingin masuk dan memperbaiki negeri ini harus bersabar lagi dalam antrian yang ada. Entahlah …

Berikut hasil pertemuan Anggkatan 77/78 tersebut, saat ini saya tidak ingin menggali dan menganalisa stateman tersebut serta kemana arahnya, masih membayangkan betapa Old Fashion nya pemerintahan Indonesia dan orang orang yang berperan didalamnya kedepan #merenung #harapcemas. Membayangkan bagaimana mereka nanti bertemu muka dengan pemimpin pemimpin negara sahabat yang jauh lebih muda-muda saat ini.

  1. Angkatan 77/78 yang relatif tidak terkontaminasi korupsi, kolusi dan nepotisme, ingin berperan dalam membawa perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.
  2. Angkatan 77/78 akan mengkaji perlu tidaknya kembali kepada UUD 1945 yang asli dengan mengundang para pakar untuk mendiskusikannya.
  3. Angkatan 77/78 memandang amat penting adanya perubahan yang sangat mendasar dalam orientasi pelaksanaan pembangunan ekonomi, sosial dan politik di Indonesia, karena pembangunan selama ini tidak mewujudkan tujuan Indonesia merdeka.
  4. Angkatan 77/78 berpendapat pentingnya membangun kepeloporan gerakan peradaban bangsa yang bersumber dari jati diri bangsa Indonesia.

5. Angkatan 77/78 mendesak kepada seluruh rakyat Indonesia dan pemimpin Indonesia di masa depan untuk membangun yang pro rakyat dalam kata dan perbuatan serta membangun lembaga-lembaga kenegaraan yang kredibel.

Notes :

Menurut Data Sensus 2010 :

* Kelompok Usia 0-9 tahun sebesar 45,8 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 10-14 tahun sebesar 22,6 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 15-24 tahun sebesar 40,7 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 25-29 tahun sebesar 21,3 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 30-34 tahun sebesar 19,8 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 35-39 tahun sebesar 18,5 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 40-49 tahun sebesar 30,5 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 50-54 tahun sebesar 18,5 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 55-59 tahun sebesar 8,4 Juta Jiwa
* Kelompok Usia 60-84 tahun sebesar 17 Juta Jiwa

Jika melihat data demografi berdasarkan usia diatas terlihat bahwa Kelompok Usia muda mendominasi penduduk Indonesia saat ini dan 10 tahun mendatang. Kelompok usia produktif yang tentunya memiliki semangat luar biasa dan jiwa revolusioner untuk membawa Indonesia kedepan dengan jauh lebih baik.

baca juga tulisan tulisan saya disini

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca