Benny Susetyo : 100 Hari Presiden Jokowi Seolah Menomorduakan Demokrasi dan HAM

0
Diskusi 100 hari Presiden Jokowi

Jakarta – Pengamat politik Setara Institute Benny Susetyo melihat ada persoalan kerja dalam 100 hari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, pemerintahan Jokowi dalam 100 hari pertama seolah menomorduakan demokrasi dan Hak Asasi Manusia.

“Seolah demokrasi dan HAM tidak lagi penting. Seolah yang dikejar adalah ekonomi. Ini berbahaya,” katanya dalam diskusi Kontras dengan tema ‘Peringatan 100 Hari Jokowi – Mas Joko Berani Nggak?’ di Jakarta, Selasa (03/02).

Padahal, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi demokrasi dan Hak Asasi Manusia, maka sulit mengharapkan pertumbuhan ekonomi. “Itu menyebabkan kekisruhan saat ini dan investasi jadi mandek karena ketidakjelasan pemimpin saat ini soal HAM,” tegasnya.

Dia menjelaskan, Presiden seharusnya tidak semata hanya mengutamakan kepentingkan partai, melainkan harus mempunyai sikap, independensi dan keberanian. Namun, ujarnya, saat ini pemerintah terkesan seperti kedodoran.

Padahal, imbuhnya, jika kekacauan terjadi maka akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi mandeg dan menyebabkan sebuah ketidakpastian. “Dia (Presiden Jokowi) harus betul-betul memahami kerja tanpa mengabaikan sila kedua dan kelima. Kalau semua dibendakan, ini berbahaya,” tukasnya.

Benny menambahkan, kegaduhan beberapa waktu terakhir terkait persoalan KPK – Polri terjadi karena persoalan direduksi dalam cara pandang kebendaan. Semua dilihat dengan pola pikir untung dan rugi. Akibatnya, seperti terjadi drama dalam sinetron.

Dia mengingatkan, komunikasi politik yang buruk akan menciptakan kegaduhan politik. Sebaliknya, komunikasi yang baik akan menata kehidupan politik nasional.

“100 hari menurut saya adalah suasana yang sangat serius. Karena dalam 100 hari leadership dipertanyakan. Karena itu akan muncul pertanyaan apakah dia mampu membawa Indonesia ke depan,” tutupnya.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca