Anies Baswedan dari Turun Tangan jadi Butuh Kekuasaan

0
Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Menghentikan penerapan Kurikulum 2013

anies

Saat Anies Baswedan, seorang tokoh muda dari sedikit yang saya kagumi integritasnya, memutuskan untuk ikut menjadi peserta Konvensi Capres Partai Demokrat, saya langsung kehilangan respek. Bagaimana mungkin seorang tokoh yang selama ini lantang bersuara pemberantasan korupsi, malah merendahkan diri mengikuti pemilihan capres dari partai penguasa yang banyak kader-nya terjerat kasus korupsi.

Pada masa itu, seorang sahabat saya, memforward sebuah email yang berisi “alibi” Anies Baswedan. Email dengan subject “saya pilih turun tangan, ikut tanggung jawab”. (suratnya silahkan di googling atau contoh lihat disini)

Saya membalas email sahabat tersebut untuk memenuhi hasrat yang kecewa, dengan memberikan tanggapan seperti berikut :

===================================================

From: “Ferry Koto”
Date: Thu, 12 Sep 2013 13:19:40 +0000
To: xxxxxx
ReplyTo: xxxxxxxx@gmail.com
Subject: Re: Surat dari Anies Baswedan
Buat saya, dia sdh salah langkah, apapun alasannya, dia “bangga” dgn dirinya intinya… “Aku” nya yg memutuskan ikut konvensi, bukan lagi perjuangan nya, idea2x nya….

Klau mau jujur, siapa sich anies? Pantaskah jadi Pres Indonesia saat ini? Sdh sperti apa kontribusi, seberapa paham dia mengurus negeri, seberapa mengerti dia dunia Politik kepemimpinan… Sorry to say, anies bukan apa2x masih.. 🙂

Seorang pejuang, akan maju untuk menang, bukan untuk kalah, dia harus tahu dimedan apa dia berperang, dimedan apa dia berjuang..Bukan hanya sekedar mendapat “predikat” tambahan pernah berjuang dimedan yg tdk semua orang “diundang”,.. Bukan sekedar untuk pembuka pintu bagi “diri”, sekedar hanya pragmatisme “harapan” ke depan..

Janganlah kita tutup mata pada sebuah kenytaan, dimana “pertunjukan” konvensi ini adalah untuk membuat semua mata mengarah kesana. Jgn hanya lihat “aku”, tapi pedulilah pada “mata dan hati” yang akan dipengaruhi, apa mereka akan mendapat manfaat nanti dari “hasil” pertarungan tsb, atau hanya sekedar diambil “suaranya” untuk kembali melegitimasi sebuah kekuasaan yg jelas2x sdh gagal menjalankan amanah kepemimpinan nasional, yg sdh dgn jelas gagal memberi artikulasi perjuangan para pendiri bangsa,..

Anies, mengecewakan, dan tdk pantas lagi jadi panutan

Wass
FK

========================================================

Saya rasa masa itu banyak orang yang sama kagumnya dengan saya pada sosok Anies, harus kecewa dan tidak bisa menerima pilihan yang diambil Anies ini. Banyak pasti yang mencoba mengingatkan Anies, memberi argumentasi untuk batalkan niatnya tapi Anies nampaknya sudah bulat tekadnya dan merasa sudah benar ijtihat yang diambil.

Terlihat dalam setiap pemberitaan dan acara debat Konvensi, Anies memuji-muji Konvensi Demokrat yang dia ikuti. Dan saya yakin, akibat “puja-puji” ini, suara Partai Demokrat dapat mencapai 10,19%. Jika tidak ada konvensi mungkin bisa jauh dibawah itu.

Hasil Konvensi sudah kita ketahui bersama, Anies tidak bisa mengungguli Dahlan Iskan sebagai pemenang Konvensi. Harapan Anies untuk maju sebagai capres atau setidaknya cawapres untuk mendapat Otoritas memperbaiki negeri ini sirna sudah.

Anies tidak mendapat manfaat langsung dari Konvensi ini, Rakyat dan pendukungnya apa lagi. Yang pasti, Partai Demokrat terbantu perolehan suaranya dari Anies lewat Konvensi. Dahlan Iskan pemenang konvensi pun tidak mendapatkan manfaat, karena akhirnya Demokrat tidak mengusung pemenang konvensi menjadi capres atau cawapres.

Sia-sialah Konvensi tersebut akhirnya. Seperti yang saya tulis diemail saya diatas, konvensi ini akhirnya terlihat “belang” aslinya, hanya untuk menaikan suara Partai Demokrat !!

Tadi nya saya berharap Anies segera sadar kondisi politik saat ini dan kembali pada “habitat” nya yang turun tangan secara langsung di tengah masyarakat. Kembali berkegiatan dan memberikan kemanfaatan ditengah masyarakat tanpa perlu ada OTORITAS (bahasa lain dari kekuasaan versi Anies) ditangan.

Harapan saya, Anies kembali menjadi tokoh panutan yang dapat dibanggakan, yang tidak perlu ada kekuasaan ditangan, baru dapat berbuat.

Menjadi tokoh yang suatu saat bisa diandalkan jika negara memanggilnya untuk menyelesaikan suatu persoalan yang hanya bisa dipercayakan kepadanya.

Saya sangat berharap, Anies kembali seperti dulu, yang yakin bahwa turun tangan ke masyarakat, memberikan manfaat kemasyarakat secara langsung, akan memberi dampak yang tidak kecil untuk perbaikan negeri.

Saya yakin, jika hal itu dilakukan Anies terus menerus, dan kemanfaatan dirinya dirasakan langsung oleh masyarakat, kepercayaan masyarakat padanya akan terus tumbuh, tidaklah hal mustahil suatu saat rakyat akan memberikan OTORITAS pada Anies.

Sayang harapan itu harus berakhir hari ini, karena ternyata Anies kembali lebih memilih mengejar OTORITAS itu melalui pertarungan lain.

Sebuah pertarungan yang lagi lagi Anies ada disana sebagai “pemanis”, agar bisa merayu suara rakyat. Pertarungan Capres antara Jokowi-Jusuf Kalla dengan Prabowo-Hatta.

Dalam email yang disampaikan kepada para simpatisan dan pendukungnya, Anies menulis “alibi”, kenapa akhirnya dia memutuskan untuk mendukung salah satu Capres.(baca disini)

Semua argumentasi Anies sama “rasa” dengan dulu dia maju di Konvensi Demokrat, yang intinya Anies butuh Otoritas untuk memperbaiki negeri ini, otoritas untuk menjalankan misinya.

Hebat-nya, demi meyakinkan bahwa pilihannya sudah benar, Anies mengklaim capres yang dia labuhkan dukungannya adalah yang PASTI membawa perbaikan, membawa pembaharuan, dibanding capres yang lain.

Bisa dipastikan Anies sedang sadar menulis “alibi” nya tersebut, dan pasti paham dia sedang mengkampanyekan pada orang yang selama ini menjadi simpatisannya, orang yang menjadi pengagumnya, bahwa capres yang dia didukung adalah pilihan yang layak untuk diberikan dukungan.

Keputusan yang diambil Anies ini bukan hanya membuat saya kehilangan respek, tapi terjun bebas kepercayaan saya kepadanya. Integritasnya sudah saya ragukan, dan saya memandang Anies sudah tidak berbeda dengan para Politikus yang saling berebut Kekuasaan (Otoritas dalam bahasa Anies). Segala alasan yang dibuat dalam tulisannya tersebut, hanyalah pembenar untuk “Aku” nya yang sudah bersyahwat politik, syahwat kekuasaan.

Syahwat Anies ingin mencicipi kue kekuasaan ini sangat kentara sekali, hanya kepintarannya menulis argumentasi yang terlihat logis saja yang membuat syahwat itu tertutupi.

Padahal, jika memang Anies meyakini memiliki kapasitas untuk ikut dalam pemerintahan mendatang, ikut memiliki otoritas seperti yang dia harapkan, tidaklah diperlukan dukung mendukung Capres. Jika dia cukup berkapasitas (menjadi menteri misal) bisa jadi, siapapun presiden nya mendatang, ada kemungkinan mendapatkan itu jika dilihat dari track record dan kemampuannya.

Dengan menjadi tim sorak dari salah satu kubu, maka Anies makin menegaskan diri nya lebih sesuai di jalur politik dari pada pengabdian, berkarya, terjun langsung ke rakyat. Untuk itu mungkin pantas kita berikan ucapan selamat menempuh kehidupan baru kawan Anies …

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca