Aneh, Kenapa Harus Dukung Jokowi ?

0

monyet_bingung

Lagi-lagi saya dapat pertanyaan dari seorang sahabat, Mendukung Jokowi (Joko Widodo) sebagai Calon Presiden (capres) apa tidak ? Teman ini berargumentasi sengaja menanyai saya karena melihat saya yang gandrung dengan sosialisme maka dia simpulkan keputusan PDI-P yang capreskan Jokwi selayaknya saya ikut mendukung.

[ads2][ads1]

Sungguh pertanyaan aneh buat saya, bukan karena sampai saat ini saya bukan kader PDI-P tapi memang banyak hal yang aneh dilihat dari sudut manapun soal dukung mendukung pancapresan Jokowi ini, apalagi kemudian dikaitkan dengan PDI-P yg cocok sebagai rumah bagi nasionalis, sosialis.

Keanehan pertama, soal PDI-P, walau saya hormat dan respek pada PDI-P sebagai Parpol dan satu-satu-nya Partai yang menurut saya masih dengan tegas dan konsisten menunjukan identitas Nasionalis nya, tapi tentu soal dukung mendukung ini, tidak mungkin saya dukung PDI-P. Bukan karena saya yang sosialis ini juga seorang Islamis yg tidak suka dengan sekurelisme, tapi ini karena senyatanya sudah tidak ada di system politik dinegeri ini dukungan diberikan pada PARPOL. Rakyat hanya memberikan suaranya pada CALEG, kita memilih Caleg, bukan parpol, dan parpol sejatinya hanya kendaraan yg ditumpangi oleh CALEG. Jadi pada system ini dukungan kita berikan pada Caleg, bukan pada Partai. Lain lagi mungkin jika kader Parpol yang harus ikut instruksi Partai.

Jadi untuk point soal saya sosialis dan hubungan dengan PDI-P ini, tidak ada korelasi nya terkait dukung-mendukung Jokowi, ndak nyambung sama sekali. Apalagi saya juga tidak yakin Jokowi memahami ideologi Nasionalis dan sosialis yang diusung oleh PDI-P, belum pernah ada satupun karya tulisannya atau pemikirannya perihal ini.

Kedua, tadinya bisa jadi segera saya akan putuskan mendukung salah satu capres yang sudah pemanasan, yang sudah siap menuju garis start. Saya siap putuskan dukungan apabilan Gugatan Prof Yusril Ihza Mahendara yang meminta penghapusan Presidential Threshold (PT) dan pendaftaran capres sebelum PILEG, DILOLOSKAN. Tapi cilakanya, gugatan tersebut ditolak oleh MK dengan alasan yang tidak masuk nalar (prof Yusril menyebut aneh).

Jadi batal-lah saya dukung mendukung, karena sejatinya belum ada satupun capres yang bisa didukung. Wong semua masih Bakal Calon (BALON) Presiden. Dari BALONPRES baru bisa jadi CAPRES, itupun kalau partai yang menggadang-gadang bisa meraih Kursi DPR 20% atau 25% Suara Nasional. Jadi sangat tidak masuk akal jika saya yang bukan kader harus dukung BALON. Sudah dukung capres belum tentu menang, kan makin tipis harapan dukung BALON yang masih harus ikut seleksi dulu.

Nach alasan saya yang ketiga, sebenarnya ini pribadi sekali, ndak enak saya sebutkan, karena nyatanya ini semua masih Balon. Sangat subjektif alasan ketiga ini, kenapa saya belum dukung Jokowi.

Saya ingin sich sampaikan keteman tersebut, tapi saya khawatir hubungan kami bisa renggang. Dan lebih khawatir lagi dari seorang teman dia bisa berubah menjadi memusuhi saya, gara gara menganalisa BALON.

Saya tahu, sejak dulu teman ini pendukung Jokowi, sejak Jokowi maju Pilkada DKI, dia ngefans berat sekali dengan Jokowi. Walau masa itu saya juga dukung Jokowi, cuma alasan kami beda. Saya mendukung, lebih karena egois-nya saya untuk membuktikan Hipotesa saya, bahwa Jokowi pasti menang di DKI. Saya menghipotesa masa itu, kejengkelan Rakyat DKI sudah memuncak, kekecewaan mereka sudah diluar batas. Maka sejatinya pertarungan di DKI adalah pertarungan kekecewaan yang direpresentasikan dengan sosok Jokowi melawan orang-orang yang selama ini telah berkuasa tapi tidak mampu wujudkan mimpi warga DKI.

Keegoisan agar Hipotesa saya terbukti benar, yang kemudian ke setiap orang saya katakan Jokowi pasti menang, Jokowi adalah harapan Warga DKI, Jokowi akan bisa memenuhi keinginan DKI. Padahal sejatinya saya tidak tahu itu, hehehe, karena saya hanya memenuhi hasrat membuktikan hipotesa saya bahwa kali ini kekecewaan Rakyat akan berwujud sebagai perlawanan dalam memilih pimpinan DKI, dan akan menang !

Tidak ada satupun dalam argumentasi yang saya bangun disandarkan pada data kemampuan kemimpinan Jokowi, wawasan apalagi visi nya untuk DKI. Saya betul betul egois saja waktu itu. Dan kawan ini senang sekali merasa sejalan dengan saya yang juga dukung Jokowi maju Pilkada DKI.

Itu sich alasan saya dukung waktu Pilkada DKI, dan sebatas di teman-teman saja, saya ndak tanggung jawab kalau itu ngefek sehingga ikut naikan suara orang memilih Jokowi masa itu…hehehe.

Nach alasan saya kali ini belum medukung Jokowi sebagai capres, alasan ketiga, tidak dapat saya ungkap saat ini, nunggulah setelah Pileg ini selesai. Baru masuk akal, orang yang bukan kader PDI-P, bukan Caleg, ikut dukung mendukung, karena sudah tahu jumlah kursi PDI-P, sudah tahu lolos atau tidak dari BALON PRES menjadi CAPRES.

Kita tunggu pileg dulu ya..

jokowi_next DKI

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca