Akibat Tidak memiliki Pengalaman Jokowi Blunder Memilih Tim Transisi

2

Hendro_rini_sby

Jakarta – Tim Transisi yang dibentuk oleh Calon Presiden terpilih berdasarkan Rekap KPU RI, Joko Widodo (Jokowi), menuai banyak kontroversi. Selain kontroversi soal keberadaan tim yang belum saat nya dibentuk karena belum selesainya proses hukum terkait PILPRES, persoalan tidak dilibatkannya Parpol pendukung, juga persoalan dalam penunjukan orang yang mengisi posisi di Tim Transisi Jokowi.

Sebelumnya mencuat penolakan berbagai kalangan, termasuk dari kelompok pendukung Jokowi sendiri, atas ditunjuk nya Rini Soemarno, Mantan Memperindag, Orang kepercayaan Megawati, sebagai Ketua Tim Transisi. Rini dianggap memiliki persoalan masa lalu yang dikhawatirkan akan mempengaruhi kerja Tim Transisi dan pemerintahan Jokowi mendatang. Rini dikenal sebagai arsitek pemberian Surat Keterangan Lunas (SKL) bagi pengemplang Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI). Penunjukan Rini ini tidak sejalan dengan janji Jokowi saat Kampanye yang tidak akan memasukan orang yang terkait dengan persoalan masa lalu, baik kasus Korupsi, HAM dan pelanggaran Hukum lainnya.

[ads1][ads2]

Belum selesai kontroversi soal Rini Soemarno, Jokowi kembali melakukan langkah blunder baru dengan menunjuk Jendral (Purn) AM. Hendropriyono sebagai penasehat Tim Transisi.

Hendro, mantan Ketua BIN, selama ini selalu dikaitkan dengan berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Mulai dari Kasus Talangsari saat menjabat sebagai Komandan Resor Militer 043/Garuda Hitam Lampung, hingga kasus dibunuhnya aktivis HAM Munir.

Pakar politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, mengatakan inilah konsekuensi rakyat memilih calon presiden yang kurang pengalaman.

“Inilah konsekuensi memilih orang yang kurang pengalaman. Dia tidak ada kehati-hatian, terlalu kagum sama orang,” ucap ilmuwan politik dari Universitas Indonesia itu, Jumat (15/8).

Hendropriyono yang juga Guru Besar Ilmu Intelijen pertama di Indonesia adalah orang yang dikagumi banyak pihak, punya pengalaman bagus dan punya pikiran bagus.

“Lalu Jokowi terperangkap. Padahal, seharusnya dia hati-hati ada isu pelangaran HAM, isu Orde Baru, itu harusnya jadi pertimbangan penting. Karena akibat isu-isu itu juga dia bisa menang,” jelas pengamat politik sepuh itu.

Dia juga sesalkan pernyataan-pernyataan ngawur dari Jokowi untuk menjelaskan alasannya memilih Hendropriyono sebagai penasihat Tim Transisi.

“Blunder dan penjelasannya ngawur,” tandasnya.

Kepada media massa, Jokowi mengaku sudah mempertimbangkan secara matang nama Hendropriyono karena punya pengalaman dan kompetensi. Jokowi juga mengharapkan publik tidak mengkaitkan kasus pelanggaran HAM dengan peran Hendro di tim transisi. Alasannya, tidak etis.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca