Tenaga Kerja Filipina Bakal Serbu Indonesia

0
Arif Yahya Direktur Utama Telkom

Arif yahya dirut telkomPelaksanaan ASEAN Economic Community (AEC) 2015 sudah di depan mata. Tenaga kerja Indonesia harus benar-benar disiapkan untuk menghadapi pasar bebas ASEAN tersebut. Salah satu dampak AEC 2015 adalah serbuan ribuan tenaga kerja asal Filipina yang akan bekerja di Tanah Air, terutama untuk segmen peluang kerja kelas menengah.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia Arief Yahya mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia dihadapkan pada perdagangan bebas AEC 2015. Pada momen tersebut, tingkat persaingan usaha akan sangat ketat. Apalagi, arus lalu lintas produk dari luar negeri akan masuk dan membanjiri pasar dalam negeri.

Tak hanya itu, saat pasar bebas Asia dibuka, tingkat persaingan di dunia kerja pun akan semakin ketat. Karena, akan banyak tenaga kerja asing yang masuk dan bekerja di perusahaan yang ada di dalam negeri. “Serbuan ini perlu diwaspadai oleh kita semua karena kalau tidak siap, kita akan menjadi market bagi produk asing dan kita akan menjadi penonton di rumah kita sendiri,” ujar Arief pada sela peresmian gedung Assesment Center Indonesia di Bandung, Jawa Barat, Senin (11/11).

Menurut Arief, hal yang perlu diwaspadai adalah ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perdagangan bebas AEC 2015. Karena itu, kualitas produk dan sumber daya manusia perlu ditingkatkan. Khusus peningkatan sumber daya manusia, kata Arief, harus menjadi prioritas, terutama masalah pengembangan kualitasnya.

“Saya prediksikan, pada 2015, ribuan tenaga kerja dari Filipina akan masuk dan menyerbu pasar kerja di Tanah Air. Khususnya, untuk level tenaga kerja di kelas menengah,” ujar Arief.

Arief melanjutkan, masuknya ribuan tenaga kerja asal Filipina ke Indonesia tentunya harus diwaspadai oleh semua. Saat ini, tenaga kerja asal Filipina tersebut tengah bersiap untuk masuk ke dunia kerja di Indonesia. Sehingga, pada pelaksanaannya nanti, mereka akan langsung menyerbu pasar kerja dalam negeri. Kondisi itu, kata dia, sudah terjadi di Singapura dan Dubai. Di kedua negara tersebut, tenaga kerja asal Filipina telah mendominasi dunia kerja kelas menengah. Bahkan, mereka sudah banyak yang mulai bekerja di Australia.

“Tenaga kerja asal Filipina itu bahasa Inggrisnya lebih bagus dari kita. Biaya upahnya pun relatif lebih murah sehingga hal itu membuat perusahaan banyak yang merekrut mereka,” katanya.

Menurut Arief, tenaga kerja asal Filipina memang bisa menjadi ancaman bagi para tenaga kerja dalam negeri. Apalagi, selama ini, mereka pun telah mengisi dunia kerja yang ada di mal-mal besar yang ada di dunia, khususnya di Singapura, Dubai, dan Australia. “Kami berharap, masyarakat dan semua pihak dapat lebih bersiap menghadapi itu sehingga nantinya tidak kalah bersaing,” katanya.

Saat ini, kata Arief, Telkom sedang bersiap meningkatkan kualitas SDM guna menghadapi momen perdagangan bebas Asia. Pada 2012, Telkom menganggarkan alokasi dana sebesar Rp 150 miliar untuk peningkatan SDM di beberapa sektor. Tahun ini, Telkom menganggarkan sekitar Rp 500 miliar untuk program peningkatan SDM.

“Rencananya, tahun depan alokasinya akan terus bertambah dan menjadi sekitar Rp 750 miliar,” kata Arief.
Tidak hanya itu, Telkom pun saat ini telah mengirim seribu orang SDM-nya ke luar negeri untuk peningkatan kualitas SDM melalu program talent global. Program itu termasuk melakukan sertifikasi terhadap seribu orang tenaga kerja.

Bahkan, saat ini Telkom Indonesia meresmikan gedung Assesment Center Indonesia (ACI) di Jalan Hegarmanah Bandung, Jawa Barat. ACI akan melayani assessment untuk berbagai perusahaan BUMN/BUMD, pemerintah, maupun swasta. “Dulu, assesment center ini hanya untuk internal karyawan Telkom, khususnya untuk kelas manajer hingga direksi. Tetapi, sekarang ACI bebas untuk umum, bisa perusahaan swasta, BUMN/BUMD, ataupun pemerintahan,” kata Arief. n ed: eh ismail

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca