Anies : Kegiatan Belajar Tidak Harus Dengan Cetak Buku Baru

2
Mendikbud Anies Baswedan, dalam diskusi Mencari Kurikulum Yang Maksimal

Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengungkapkan, kegiatan belajar-mengajar tidak harus dipenuhi dengan cara selalu mencetak buku baru.

Dia menyatakan, kegiatan belajar mengajar juga bisa menggunakan sarana lain. Bahkan, untuk mengupdate informasi pada masa sekarang bisa juga dilakukan melalui handphone. “Negara tetangga kita Singapura, banyak buku-bukunya yang tidak berubah dari tahun 94 . Bukan sedikit, tapi banyak,” katanya saat diskusi yang diselenggarakan Populi Center dengan tema “Mencari Kurikulum yang Maksimum” di Jakarta, Sabtu (13/12).

Menurutnya, semua pihak harus membayangkan pola belajar-mengajar dengan cara yang berbeda dengan tidak semata-mata menggunakan pola hafalan. “Kalau kita semata-mata mengajar anak-anak (didik) mengejar hafalan, maka di situ kemudian muncul problem,” tegasnya.

Anies juga menyarankan pelibatan guru dalam penulisan buku ajar di sekolah. Pengalaman guru pengajar, ungkapnya, bisa dijadikan bahan penulisan buku ajar di sekolah.

Dia mencontohkan, di tingkat pendidikan tinggi, catatan kuliah seringkali dipakai berulang kali, kemudian dijadikan buku teks kuliah. “Tapi bukan berarti pengajar di kampus bisa membuat buku teks bagi tingkat di bawahnya,” ucapnya.

Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghentikan kurikulum 2013 untuk sekolah yang baru menerapkan 1 semester dan yang belum sama sekali menerapkan. Bagi sekolah tersebut, untuk sementara kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2006 atau yang dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) . Kebijakan penghentian kurikulum 2013 ini kemudian memunculkan pro dan kontra karena bahan ajar kurikulum 2013 sudah terlanjur dicetak.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca