BI Rate Naik, Rupiah Kian Terdepresiasi

0

rupiahKenaikan BI Rate tidak mampu menahan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini terbukti dengan semakin terdepresiasinya rupiah.

“Tidak ada kaitannya kenaikkan BI Rate dengan pelemahan nilai tukar rupiah,” kata pengamat valuta asing Farial Anwar, di Jakarta, kemarin.

Bahkan Farial menegaskan, justru dengan dinaikkannya BI rate membuat persoalan ekonomi tidak bisa dikendalikan lagi. “Saat harga BBM (bahan bakar minyak) dinaikkan maka inflasi pun turut terkerek dan rupiah pun terkoreksi dari sebelumnya Rp 9.600 menjadi Rp 11.500 per dolar AS,” kata Farial.

Dia mengatakan, dengan kenaikkan BI rate membuat tekanan terhadap perekonomian Indonesia. “Tidak ada kaitannya penyesuaian BI rate dengan rupiah. Malah menyebabkan beban perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dengan semakin tingginya inflasi dan rupiah seiring dengan penguatan harga BBM telah menyebabkan tingginya biaya hidup sehingga menjadi problem Indonesia.

Dia memaparkan, dengan penyesuaian BI rate telah menimbulkan keluhan bagi dunia usaha akan potensi meningkatnya bunga kredit.

Dia menegaskan, pelemahan nilai tukar rupiah secara prosentase memang kecil bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya, seperti bath Thailand, dolar Singapura. Tapi, katanya, bila dilihat dari sisi nilai nominal maka rupiah paling terdepresiasi.

Dia mengatakan, secara teoritis tidak ada kaitannya kenaikkan BI rate dengan penguatan nilai tukar rupiah. Selanjutnya, dia menyatakan, pelemahan rupiah lebih karena disebabkan Indonesia menggunakan rezim devisa bebas.

Dia memaparkan, rupiah akan terus tertekan sepanjang likuiditas dolar AS tidak ada. Itu terlihat dari masih tingginya permintaan dolar AS ketimbang kesediaannya. Dia menilai, minimnya persediaan dolar AS karena eksportir masih enggan melepas dolar AS-nya. Sementara itu, para importir membutuhkan dolar AS untuk mendapatkan barang impor.

Farial juga memproyeksikan, rupiah hingga akhir tahun ini akan sulit di bawah Rp 11.000 per dolar AS. Pasalnya, likuiditas dolar AS yang minim.

Dia juga menyoroti dengan sentimen global yang positif seharusnya dapat menguatkan dolar AS tapi sebaliknya rupiah terus mengalami tekanan. “Baik ada sentimen positif dari penundaan tapering off (pelonggaran stimulus moneter dari bank sentral AS) ternyata tidak berdampak terhadap rupiah. Ini berbeda dengan mata uang lainnya,” tambahnya.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, laju nilai tukar rupiah masih dalam tren melemah sepanjang sepekan kemarin. “Sentimen dari momentum menjelang rilis BI rate juga sempat membuat pelaku pasar di pasar valas bersikap menunggu,” katanya.

Selain itu, laju dolar AS juga masih dalam kenaikan setelah memfaktorkan rilis kenaikan data nonfarm payrolls meskipun dari rilis unemployment rate naik tipis dan consumer spending AS yang turun tipis. Meskipun, laju mata uang euro bergerak menguat dibandingkan dolar AS seiring rilis beberapa data dari Jerman dan Italia yang cukup positif.

Data-data dari Eropa itu belum dapat mengalahkan dominasi dolar as terhadap mata uang emerging market. “Apalagi, adanya kenaikan BI Rate 25 basis point bukannya membuat rupiah dapat bertahan di tengah spekulasi tersebut, justru malah memperparah pelemahannya,” kata Reza.

Laju nilai tukar euro, lanjut dia, yang mulai tertahan kenaikannya seiring dengan persepsi factory output zona Euro yang turun dan pertumbuhan yang masih akan melambat dimanfaatkan pelaku pasar untuk beralih ke dolar AS yang masih menunjukkan tren kenaikannya. “Penguatan dolar AS seiring dengan masih beredarnya spekulasi tappering off yang akan mulai dilakukan pada bulan Desember,” tambahnya.

BI mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada triwulan ketiga mengalami depresiasi rata-rata sebesar 8,18 persen ke level Rp 10.652 per dolar AS atau secara point to point sebesar 14,29 persen ke level Rp 11.580 per dolar AS. (Agus)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca