Bandingkan Prestasi Bulu Tangkis Dengan Sepak Bola, La Nyalla Dikirimi Surat Terbuka

13
La Nyalla Mattalitti

Jakarta – Akibat komentarnya yang membandingkan prestasi olah raga Bulu Tangkis dengan Sepak Bola, La Nyalla Mattalitti, Wakil Ketua Umum PSSI, dikirimi surat terbuka.

Pengirim surat terbuka tersebut adalah admin dari komunitas pencinta bulu tangkis indonesia dengan alamat akun @G_minton di twitter. Tulisan diunggah hari ini, Kamis (25/12), di sebuah laman di internet dengan alamat http://gminton1000.blogspot.com.

Sebagaimana diketahui, La Nyala yang juga Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, pada Rabu, 17 Desember 2014 mengeluarkan statemen terkait kebijakan Kementerian Pemuda dan Olahraga membentuk Tim Sembilan yang berfungsi mengawasi kinerja induk organisasi sepak bola Indonesia PSSI.””Sepak bola sudah bagus. Harusnya dia urusi cabang lain seperti bulu tangkis, berkuda, dan yang sedang down-down itu,” kata Nyala waktu itu.

Berikut Surat Terbuka yang ditulis olah G_minton :

Surat Terbuka untuk Bapak La Nyalla

Selamat pagi, selamat siang, selamat malam, atau malah Selamat Natal. Tergantung Bapak La Nyalla Mattaliti membacanya dalam keadaan apa, saya harap dalam keadaan yang baik, tidak seburuk federasi olahraga yang Bapak pimpin. Bapak La Nyalla, mungkin saya salah telah menyebut bahwa PSSI merupakan federasi olahraga yang anda pimpin, bukan dipimpin oleh Bapak Djohar Arifin, tapi sepengamatan saya, saya melihat bahwa PSSI dipimpin oleh Anda. Bukan berarti saya tutup mata terhadap kerja Bapak Djohar Arifin.

Bapak La Nyalla yang cerdas (semoga), saya sudah membaca banyak media massa, pernyataan Bapak tentang down-nya bulutangkis dan berkuda di Indonesia. Bapak La Nyalla, anda memang cerdas, bulutangkis di Indonesia memang sedang down. Saya kurang tahu jika berkuda, jujur saya tidak mengikuti perkembangan cabang olahraga ini. Bulutangkis Indonesia memang sedang down pak. Jika Bapak La Nyalla tahu, bulutangkis Indonesia sebenarnya sedang mengalami kebangkitan. PBSI (induk Bulutangkis Indonesia) sebelum diketuai oleh Bapak Gita Wirjawan memang membuat bulutangkis Indonesia hancur. Bapak Gita Wirjawan dengan segala jajarannya memanggil Rexy Mainaky pulang kampung untuk mengurus bulutangkis negeri ini. Rexy, sang peraih Emas Olimpiade Atlanta 1996 telah sukses menggembleng bulutangkis di timnas Malaysia dan Inggris. Rexy Mainaky bukan satu-satunya legenda yang berada di jajaran kepengurusan PBSI loh pak, masih banyak legenda atau mantan pemain di jajaran kepengurusan PBSI. Beda ya pak dengan jajaran kepengurusan PSSI yang lebih mementingkan “yang penting teman satu partai, yang penting deket, yang penting bisa diajak kompromi”. Oh iya, tahukan Bapak La Nyalla, jika Rexy dipanggil pulang oleh Bapak Gita Wirjawan saat Rexy melatih di Filipina? Maafkan saya ya pak La Nyalla, jika saya menyebut-nyebut Filipina. Maafkan saya jika membuat Bapak ingat bahwa PSSI telah dibungkam 0-4 oleh Filipina. Saya sebenarnya juga malu pak.

Bapak La Nyalla yang kaya raya, seandainya Rexy tetap di Filipina dan Filipina menaturalisasi pemain bulutangkis dari Indonesia, China, Korea, atau Jepang yang memiliki keturunan Filipina, Filipina juga bisa kok pak mengalahkan Indonesia dengan telak. Tetapi pak, bulutangkis tidak seterkenal olahraga yang anda kelola, jadi tidak banyak pemain keturunan Filipina bermain bulutangkis di negara lain. Naturalisasi di bulutangkis berbanding terbalik pak dengan yang ada di sepakbola. Jika di sepakbola kita mengimpor pemain, di bulutangkis kita mengekspor pemain. Banyak pebulutangkis kelahiran Indonesia yang bermain di luar negeri. Mereka di sana menjadi pemain tim nasional dan mendapat penghasilan yang lebih memuaskan ketimbang jadi pemain level klub di sini.

Bapak La Nyalla yang merupakan Wakil Ketua PSSI sekaligus Ketua Badan Tim Nasional (BTN), apakah Bapak masih ingin mengontrak pelatih asing? Apakah Bapak masih ingin menaturalisasi pemain demi mendongkrak prestasi sepakbola Indonesia seperti yang dilakukan Singapura? Ingat pak, kita ini negara dengan penduduk terbanyak ke-4 (kalau saya tidak salah), masa PSSI tidak bisa memilih 11 pemain inti untuk Tim Nasional. Oh iya pak, saya khilaf lagi, yang memilih pemain inti kan pelatih ya pak, bukan Ketua BTN ataupun Wakil Ketua PSSI.

Bapak La Nyalla yang diisukan akan menjadi Ketua PSSI periode berikutnya, saya beritahu ya pak, di bulutangkis, banyak pelatih Indonesia yang berkeluhkesah bahwa sulit mencari pemain putri berkualitas, bahkan pemain putri yang mau main bulutangkis dengan serius saja jumlahnya sedikit. Bapak La Nyalla, di bulutangkis, uang yang berputar tidak sebanyak di sepakbola. Jadi, daya tarik di olahraga ini tidak sebanyak daya tarik di sepakbola. Bapak La Nyalla, saya beritahu lagi ya, kontrak Adidas-Messi dalam setahun jauh labih besar ketimbang kontrak Adidas-semua pemain bulutangkis yang ber-apparel Adidas. Dengan tumpah-ruahnya uang di sepakbola, menurut saya, di Indonesia ini banyak yang bermain bola dengan serius, tolong pak, pilih mereka berdasarkan talenta dan sikap mereka, bukan berdasarkan titipan si A, si B, atau titipan sponsor.

Bapak La Nyalla yang sudah ke Mekkah berkali-kali, seperti yang saya katakan di awal tadi, bulutangkis Indonesia sedang bangkit. Tim pelatih yang dikomandoi Rexy sedang melakukan regenerasi, pemain yang dianggap sudah tidak berprestasi, didepak dari Timnas/Pelatnas. Beda ya pak dengan di PSSI (Indonesia menjadi negara dengan rata-rata pemain tertua di AFF Cup 2014). Tapi tua bukan masalah pak jika dia masih berprestasi. Oh iya, PBSI sedang melakukan regenerasi. Apakah Bapak tahu nama-nama ini, Jonatan Christie, Rosyita Eka, Firman Abdul Kholik? Pasti Bapak tidak tahu, tidak masalah kok pak. Saya berani bertaruh, tidak sampai 10% masyarakat Indonesia tahu nama-nama tersebut. Bapak bisa cari tahu di mesin pencari kok, Bapak kan pasti langganan layanan internet dengan kecepatan wah, tidak seperti saya yang hanya berlangganan 50 ribu per bulan + wifi gratisan di kampus. Tapi saya juga salut sama Bapak, Bapak Indra Sjafrie maksudnya, yang telah menemukan talenta-talenta seperti Evan Dimas, Hargianto, Hansamu Yama, dll. Anak-anak kecil di Indonesia pun banyak yang bercita-cita jadi seperti Evan Dimas, bukan jadi seperti Jonatan Christie.

Bapak La Nyalla yang disukai banyak suporter karena sering dielu-elukan namanya di stadion-stadion di Indonesia, tahun ini sepakbola lagi-lagi mengambil perhatian masyarakat Indonesia. Lagi-lagi bukan karena prestasi pak, tapi karena problematika. Ada Sepakbola Gajah, ada klub yang ditengarai klub wasit karena dimiliki oleh seseorang yang punya akses ke satuan baju hitam, dan muara dari semua itu pak, hancur-leburnya kita di AFF Cup. Padahal target di AFF Cup 2014 itu adalah meraih gelar juara. Jadi, Bapak (seandainya masih di PSSI apalagi menjadi Ketua PSSI) ingin menargetkan lagi Indonesia juara AFF Cup 2016? Sudah ada Australia loh pak. Oh iya, ngomongin tentang Australia, ada salah satu pemain bulutangkis Indonesia yang sekarang bermain atas nama Australia. Dia di sana mendapatkan banyak keuntungan seperti biaya pendidikan dan biaya penanganan cedera. Dia memang sedang cedera pak beberapa bulan yang lalu. Tapi apa daya, uang di bulutangkis tak semenjanjikan di sepakbola.

Bapak La Nyalla yang suka muncul sebagai pahlawan di salah satu atau salah dua stasiun televisi nasional, kami para pecinta bulutangkis iri pak sama sepakbola yang hampir tiap hari ditayangkan secara live. Saya yang enggak berlangganan tv berbayar hanya bisa livestream pak untuk menonton bulutangkis, itu pun saat saya masih di kampus. Tapi apakah Bapak tahu? Saat Asian Games kemarin, bulutangkis Indonesia meraih 2 emas (+ medali lain) loh pak. Dan saya senang sekali karena ditayangkan secara live oleh televisi nasional. Bapak nonton enggak?

Jadi pak, dengan segala kesederhanaan di bulutangkis Indonesia, mereka masih bisa berprestasi. Jangan lagi menumpahkan problematika sepakbola ke cabang olahraga lain, kalau Bapak mau, sini tumpahkan saja uang yang ada di PSSI, tapi kami maunya uang yang halal pak. Bapak juga sudah di-smash Taufik Hidayat kan pak? Atau Bapak masih ingin diinjak salah satu kuda kepunyaan atlet berkuda Indonesia yang saya tidak tahu namanya? Ingat pak, bulutangkis dan berkuda tidak segemerlap sepakbola. Syukuri yang sudah dipunyai PSSI. Banyak Persatuan Olahraga di Indonesia yang ingin seperti PSSI, mendapat banyak perhatian, bergelimang uang, dan selalu ditayangkan di televisi.

Sekian ya Pak La Nyalla, mohon maaf pak, jika saya terlalu banyak memberitahu Bapak, tapi setidaknya saya tidak menunjuk-nunjuk cabor/orang lain untuk menghindari kenyataan.

Salam,
Admin @G_minton

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca