Mereka yang berjibaku di industri animasi pasti punya kegalauan sejak lama. Mengapa banyak animator membuat gerakan orang berjalan atau hewan berlari, (terlihat) kaku-kaku? Padahal aplikasi pembuat animasi tidak bisa disalahkan. Aplikasi bagaimana si artist memainkan. Apalagi kini pilihan aplikasi sudah ada yang open source seperti Blender.

Pangkal musabab sejatinya sudah kami upayakan solusi belasan tahun lalu. Mas Arnas Irmal salah satu pentolan MD Animation kini, pasti paham cerita – – MD Animation bisa dijuluki kini pertama berhasil mengindustrikan animasi di Indonesia melalui serial Adit Sopo Jarwo.

Patung macan Garut
Denny Djoenaid (almarhum), animator senior

Kami pernah bersama Dikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan -red), Kemendiknas, bekerjasama mencari solusi agar persoalan dasar kepiawaian menggambar anatomi teratasi, karena sangat berpengaruh ke industri.

Contoh anatomi Simba by hand.

Kuncinya, menurut Alm, Denny Djoenaid, animator klasik senior di Indonesia kala itu, terletak ke penguasaan menggambar anatomi dengan kemampuan menggambar berkepiawaian tangan. Saya masih ingat bagaimana Denny menjelaskan desainer karakter Simba di Lion King, sampai berhari-hari main dengan anak Singa. Ia menggambar anatomi dari berbagai sudut yang dilihat.

Dikmenjur kala itu, membiayai saya bersama Denny keliling Jawa dan Bali, “menguji” kemampuan menggambar anatomi guru kesenian SMK se-Jawa dan Bali.

Lebih dari 1.000 guru kesenian se Jawa-Bali kami simak cara kerja dan mengajarnya. Al hasil, tak sampai lima jari dari mereka baik dan benar mengajar anatomi. Banyakan kami amati kelucuan menggelikan.

Di Jogja misalnya, ada guru kesenian memfoto kopi gambar anatomi buku biologi, lalu kertas kopian di letakkan di light box, lantas gambar itu diminta di-tracing (jiplak) siswa. Lah kalau begini kapan kemahiran tangan dengan cara mengamati langsung sosok dianatomi akan jadi?

Kami tertawa….

Kala itu kami berkongklusi, industri animasi tak akan tumbuh dengan suplai SDM nir kemampuan menggambar anatomi manual dengan tangan.

Maka menggambar anatomi, ibarat belajar musik klasik, bermain piano dululah dari dasar

Untung kini cikal bakal industri animasi Indonesia sudah mulai berwujud, tinggal take off go internasional.

Nah dulu itu untuk Jawa Barat kami tidak singgah ke Garut, tapi masing-masing guru kesenian dihimpun di ibukota propinsi, Jabar, di Bandung.

Pekan-pekan ini di Sosmed saya simak heboh patung Macan Garut. Persoalan sama: anatomi.

Dari saya berkeliling, menyimak studi lukis di Perancis misalnya. Dua tahun kuliah, mahasiswa digojlok menggambar anatomi. Anatomi bayi tentu beda dengan nenek-nenek 80 tahun. Memahami anatomi pasti tak akan salah membuat gerakan, ayunan langkah, misalnya. Kata Alm Denny, “Telapak kaki manusia sebelum bergerak maju ada momen beberapa detik tumit seakan bergerak ke belakang.”

Hal itu bisa dilihat kalau kita melakukan slow motion orang berjalan.

Maka menggambar anatomi, ibarat belajar musik klasik, bermain piano dululah dari dasar. Ibarat jadi reporter saya alami dulu, 1985, digojlok dua tahun hanya menulis laporan, deskripsi.

Patung Macan Garut
Patung Macan Garut yang bikin heboh

Maka, banyak seniman adi karya lukis di Barat, walupun mereka beralih dari naturalis, ke abstrak misalnya, dipastikan kemampuan menggambar anatominya kuat. Kemampuan anatomi matang, saya jamin tak bakalan melahirkan pelukis seperti ada di Indonesia, jika melukis jemari, amboiii kaku, patah-patah, seakan bukan tangan orang. Padahal katanya lukisan si pelukis khas dan mahal karena mata dibikin buta.

Nah fokus ke patung Macan Garut dan juga banyak patung-patung di tanah air lainnya; problemnya sama, kemampuan menggambar anatomi. Bila pah-poh penguasaan anatomi, maka, selesai sudah rusaknya.

Pondasi menguasai kemampuan anatomi, bermanfaat bagi industri animasi, berguna bagi pelukis jika mau jadi maestro, termasuk jurus jitu bagi pemahat, pematung.

Sayangnya kesadaran akan pentingnya penguasaan anatomi dasar sebagai seniman itu, jauh lebih disadari di era Bung Karno silam. Proklamator itu misalnya pernah meminta Lee Man Foong sebagai kurator menghimpun lukisan maestro pelukis Indonesia. Salah satu kriteria penguasaan anatomi. Buku karya Lee Man Foong tersebut sempat dicetak Istana Negara 7 seri di kertas terbaik di eranya di Jepang.

Kini penguasaan dasar anatomi ini tak lagi dipikirkan sebagai bagian keunggulan peradaban.

Maka kita pun terpingkal-pingkal terbahak-bahak, tertawa-tawa secara nasional, berjamaah-jamaah. Horeee-horeee, untuk kenaifan jika enggan disebut kepandiran tak selesai-selesai.

EDITOR: Harun S

Iwan Piliang

Iwan Piliang

Content Director Sosmed, Private Investigator, Bisnis Kuliner @RMKokiPadang #BebekdiSaung #SandraSalon
Iwan Piliang

Latest posts by Iwan Piliang (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca