Tahun lalu, Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, mengumumkan Istana akan diisi oleh orang-orang Harvard. Akbar Faisal, Timses Jokowi dan anggota dpr dari Hanura marah, dia membuat surat terbuka. “Kenapa harus orang-orang Harvard?” kritiknya.

Luhut tetap merekrut alumni Harvard, dia yakin akan hal itu.

Saya minder dengan langkah pak Luhut ini. Mengapa? Saya hanyalah anak desa, yang hanya mampu menggapai kampus ITB, itupun di luar mimpi saya.

Ketika saya mengunjungi Harvard University, pada tahun 1995, saya baru terasa kerdil, bahwa ada “langit di atas langit”. Harvard terlalu tinggi buat saya. Saya hanya memegang sepatu patung Harvard, berdoa, agar ada keturunan saya mampu ke sana. Selebihnya bermain catur di Harvard Square, tempat catur taruhan 5 dollar.

Sejak reformasi berlangsung dengan suasana pemulihan ekonomi, wajah wajah baru berambut klimis dan rapi menghiasi dunia kehidupan profesional negeri ini. Mereka adalah alumni alumni Amerika dan Eropa, yang masuk bersamaan dengan perusahaan-perusahaan keuangan dan pembiayaan kelas dunia. Lincah, gagah, smart dan pintar berdiplomasi menjadi ciri khas mereka. Mereka akhirnya menguasai lapisan elit profesional negeri ini dan lulusan alumni terbaik lokal menjadi pembantu mereka.

Banyaknya alumni eropa, Amerika dan Australia, sudah kita saksikan saat ini. Tapi kenapa Luhut Panjaitan hanya menyebut Harvard atau orang-orang Harvard?

Tentu hal ini tidak lepas dari nama Harvard sebagai kampus terhebat didunia atau setidaknya terhebat bersama beberapa kampus lainnya, seperti Oxford university, Massachusetts Institute of Technology, Nanyang University, dan lainnya di sepuluh besar versi QS, THE, Webometric, dll.

Luhut Panjaitan tentu punya pertimbangan merekrut orang orang Harvard. Bisa jadi karena orang Harvard adalah orang-orang kelas satu di dunia. Sehingga diplomasi internasional pemerintah dapat sejajar dengan negara-negara maju. Atau pemerintah dapat mencari akses dari alumni Harvard, yang saat ini menjadi elit negara terbesar dunia, Amerika.

Termasuk Obama, Bill Gate dan pemilik Facebook Zuckenburg

Sampai saat ini Indonesia hanya berhasil memasukkan beberapa orang saja ke Harvard, setiap tahunnya. Gita Wiryawan, pada tahun 2013 mengatakan hanya 5 orang Indonesia saja yang masuk Harvard. Sedang Cina dan India sudah berhasil mengirim ribuan.

Sejauh ini orang orang Harvard pun hanya beberapa di elit nasional kita. Selain yang direkrut Luhut Panjaitan ke Istana, Jokowi juga merekrut Thomas Lembong sebagai menteri perdagangan, lalu mutasi ke kepala BKPM. Di masa SBY hanya satu orang Harvard, yakni Gita Wiryawan.

Namun, saat ini dalam Pemilu Kada DKI, ada satu orang Harvard, yakni Agus Harimurthi. Ini adalah keuntungan besar buat warga Jakarta. Seorang alumni universitas terbaik dunia, ikut bertarung dalam menyumbangkan kebaikan dirinya pada warga Jakarta.

Tentu saja hal diatas semua soal background pendidikan, namun kita harus melihat lagi karakter seseorang. Apakah dia menjadi kebarat-baratan, setelah sekolah di Amerika, atau justru sebaliknya semakin kuat ke Indonesia nya. Persis seperti masa Bung Hatta, Dr. SYAHRIR dkk sebelum merdeka. Mereka pulang dari sekolah di Belanda dengan jatidiri yang lebih kuat.

Welcome orang orang Harvard, welcome Agus Harimurti.

Dr. Syahganda Nainggolan

Dr. Syahganda Nainggolan

Pengamat Sosial Politik, Penggiat Ekonomi Kerakyatan, Direktur Sabang Merauke Circle
Dr. Syahganda Nainggolan

Latest posts by Dr. Syahganda Nainggolan (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca