Negeri dengan rakyat tanpa pernah jadi tuan

5

Hari ini saya dalam perjalanan kesuatu daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel), sebuah kabupaten yang berjarak hanya 40km dari kota Makassar. Setelah sebelumnya menempuh penerbangan 1 jam 20 menit dari bandara Juanda-Sidorjo, dilanjutkan dengan menaiki taxi berargo milik pengusaha daerah asli Sulsel. Berangkat dari Terminal 2 Juanda selepas sholat subuh dengan penerbangan terpagi agar bisa sampai ditujuan sepagi mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan, sehingga memiliki waktu yang leluasa menunggu penerbangan kembali pada malam hari nya.

Perjalanan dengan taxi ditempuh lebih kurang 1,5 jam untuk menuju sebuah pabrik semen terbesar milik Negara (BUMN) di kabupaten Pangkajenen dan Kepulauan atau lebih populer dengan singkatannya, kabupaten Pangkep. Melintasi kabupaten Maros tetangga kota Makassar, pemandangan indah dengan hamparan sawah yang luas disertai bukit-bukit batu yang tiba-tiba seperti mencuat dari dalam bumi. Bukit yang disebut bukit Karst, yaitu hamparan perbukitan cadas yang sangat luas. Bukit Karst sepanjang Maros – Pangkep adalah yang terluas ketiga di dunia.

Dalam perjalanan ini saya tidak hendak berbagi keindahan alam sebagai bukti kekuasaan Allah atas bumi Sulawesi yang indah. Tapi ingin membagi pandangan atas sesuatu yang terlihat, yang membuat bayangan masa lalu saya hadir kembali didepan mata. Berkali-kali ke lokasi pabrik ini, selalu berkali-kali pula ingatan masa kecil di Riau melintas. Pikiran selalu berkecamuk, apakah ini adalah suratan takdir. Sebuah suratan takdir bagi daerah, bagi rakyat yang daerahnya mengandung sumber daya alam berharga dan berlimpah.

dsc011391
Hamparan perbukitan Karst Pangkep

Menuju kelokasi pabrik, melewati jalan kecil yang sempit, hanya cukup di lalui 2 mobil saja. Melintasi perkampungan penduduk dengan rumah-rumah sederhana dikiri-kanan jalan. Jalan ini adalah salah satu jalan menuju ke lokasi pabrik semen terbesar di Indonesia Timur tersebut. Jalan yang dilalui penuh lubang disana-sini, rusak. Mendekati pabrik kita melintas di pinggir sebuah sungai yang besar dengan air yang tidak jernih.

Sepanjang perjalanan tidak tampak tanda-tanda bahwa kita sedang menuju ke lokasi pabrik dengan pendapatan pertahun Rp2 Trilyun (2012). Di sepanjang jalan kabupaten, sebelum masuk ke jalan menuju pabrik, kita tidak juga melihat sebuah kota yang berkembang. Bangunan terlihat seadanya dan tata kota yang terkesan tidak terkelola dengan baik. Ada pasar yang baru dibangun tapi terlihat sudah ada genangan air disana sini.

Kembali ke jalan kampung yang menuju lokasi pabrik, dengan pemandangan rumah-rumah sederhana di pinggir jalan, jauh dari kesan adanya geliat ekonomi yang besar disana. Tidak tergambar bahwa ada pabrik dengan pendatapan Rp 2 Trilyun hanya berjarak selemparan batu saja dari kampung tersebut.

Kota kaya minyak dengan air berminyak

Melihat kondisi ini, melintas bayangan kemasa 30-an tahun silam, saat masih berada di kota kecil Dumai di propinsi Riau. Kota Dumai, adalah kota yang sangat kecil dan berada dipinggir propinsi Riau, berbatasan dengan laut, ditepi pulau sumatera. Kota ini memang kota sangat kecil tapi wilayahnya sejatinya sangat luas, ini dikarenakan sebagian besar wilayahnya digunakan untuk daerah kilang minyak, daerah explorasi minyak dan segala kawasan lain yang menopang perusahaan minyak.

kilang putri tujuh dumai
Kilang Putri Tujuh Dumai

Setidaknya masa itu 3/4 wilayah Dumai dikuasai oleh perusahaan-perusahaan minyak, tinggallah secuil kawasan yang ditempati penduduk di sekitaran pabrik dan di kota Dumai sendiri.

Dumai masa itu hanya memiliki 2 ruas jalan utama, yaitu Jl. Sudirman dan Jl. Sutan Syarif Kasim. Hanya di 2 jalan itulah terlihat bahwa ini adalah sebuah kota (kecil). Diluar 2 ruas jalan utama itu, kita hanya menemui perkampunga-perkampungan penduduk yang tidak tertata rapi, jauh dari sentuhan pembangunan dan jalan raya kecil serta gang-gang sempit.

Saya masih ingat masa itu, Apak (panggilan saya pada ayah) termasuk orang yang mencari peruntungan dengan datang ke Dumai untuk berkerja di perusahaan kontrak minyak yang ada disana. Tapi kemudian Apak lebih memilih berusaha sendiri dibidang angkutan penumpang, mengoperasikan mobil pribadi untuk transportasi tamu yang datang ke Dumai atau mengantar penumpang ke kota Pekanbaru.

Saya ingat sebelum saya sekolah TK, tinggal dirumah petak kecil berdinding kayu, sebagaimana umumnya rumah kebanyakan penduduk Dumai. Didepan rumah yang terletak di gang Karya 2 tersebut, ada lapangan volley sederhana tempat anak-anak muda berkumpul dan bermain volley saat sore hari. Kawasan tersebut sering banjir saat musim hujan tiba dan air sering masuk kedalam rumah.  Setelah masuk TK, saya ingat kami menempati rumah kontrakan yang lebih bagus di kawasan yang sama, milik seoarang polisi, sebuah rumah yang cukup layak, yang sudah bertembok tidak lagi berdinding kayu. Kemudian hari kami bisa memiliki rumah sendiri di Jl. Hang Tuah.

Saya cukup beruntung, karena Amak (panggilan saya untuk ibu) dan Apak termasuk 2 orang minang yang paham bahwa pendidikan buat anak adalah yang sangat utama. Saya disekolahkan di sebuah TK yang bagus masa itu di Dumai dan boleh masyarakat umum sekolah disana. Sekolah TK Bhayangkari Dumai, tempat awal saya mengenal sekolah, dan bergaul dengan anak anak dari berbagai kalangan termasuk anak dari kalangan pekerja di perusahaan minyak. Saya ingat karena Dumai masih tidak begitu ramai, dari rumah saya berjalan kaki ke sekolah, melewati selokan (disana disebut Parit) yang airnya kumuh penuh kotoran. Melewati Jl. Hangtuah yang kalau hujan, parit disamping jalan meluap dan membanjiri rumah yang ada disepanjang jalan.

Memasuki usia SD, Amak menyekolahkan saya di SD Komplek yang sangat terkenal masa itu di Dumai, sumbangan dari Caltex Pacific Indonenesia (CPI) perusahaan minyak asing yang kemudian hari menjadi Chevron. SDN 10 Labourhousing namanya, bersama-sama dengan 2 SDN lain dalam satu kompleks. SD saya ini SDN yang termasuk bagus dengan bangunan permanen dari beton, masa itu masih banyak SD bahkan SLTA yang dindingnya dari kayu.

Masa itu saya melihat dan menyaksikan, dan selalu membekas dalam pikiran hingga saat ini. Bahwa banyak warga Dumai yang hidup dikampung dan rumah yang sangat sederhana, tapi disudut lain kawasan Dumai, ada juga komplek perumahan megah tempat berada rumah-rumah bagus dengan tata kawasan yang indah dengan segala fasilitasnya. Saya sering diajak Apak berjalan sore hari dengan mobilnya ke perumahan milik PT. Pertamina di Kawasan Bukit Datuk namanya.

Perumahan Bukit Datuk, kawasan yang tertata dengan apik dan asri. Komplek perumahan dengan berbagai fasilitas. Bahkan mereka punya Bioskop sendiri masa itu, Sekolah sendiri dari TK sampai SLTA, komplek belanja dan makanan, punya arena bermain, punya kolam renang juga lapangan Golf. Sekali waktu kami juga berjalan ke Komplek milik CPI di Bukit Jin, yang tidak kalah lengkap fasilitasnya dan relatif lebih ketat penjagaannya. Apak sering memotivasi saya, agar sekolah yang tinggi dan nanti bisa bekerja diperusahaan minyak besar tersebut.

Yang sangat membekas dihati saya pada masa kecil tersebut adalah, ternyata ada begitu besar perbedaan kehidupan kebanyakan warga kota Dumai dengan warga yang lebih beruntung (kebanyakan pendatang dan asung) yang bekerja di perusahaan Minyak. Juga ada perbedaan kondisi fisik kota, kondisi fisik kampung, dengan yang ada dikomplek Pertamina dan komplek milik CPI.

Saya juga ingat, jika saya dan teman teman ingin berenang atau bermain air masa itu, kami pergi kesuatu sungai yang terletak di belakang kantor Pos besar Dumai. Berenang di sungai dengan air yang berwarna coklat dan terlihat ada bekas-bekas jejak lemak minyak. Sebuah tempat berenang yang membuat anak-anak bergembira, selain juga ada yang bermain kepinggir laut (jangan bayangkan pantai yang bagus), juga sungai lain yang banyak mengalir di Dumai.

Disamping sekolah SD saya tersebut, ada sebuah bangunan milik Pertamina yang juga jadi pusat kesehatan -kalau tidak salah masa itu. Bangunan tersebut luas dan asri sekali. Mereka memiliki kran-kran air ditengah hamparan rumput hijau disekitar bangunan. Air yang keluar dari kran tersebut sangat jernih sekali, sangat jauh jernihnya dibanding air minum penduduk kota Dumai masa itu yang rata rata menampung air hujan atau air sumur yang disaring. Waktu saya kelas 4 SD hingga tamat, saya sering bersama teman teman menyusup memasuki bangunan tersebut dan bermain-main air dari keran yang ada dilapangan rumputnya dan sering kami meminum air jernih yang keluar dari kran tersebut. Pengalaman yang membekas, saya ingat ada juga teman saya Aseng dan Ahong, 2 putra dari suku china yang jadi teman karib saya masa itu, yang juga penduduk dengan kondisi ekonomi pas-pasan.

Pengalaman kecil saya di Dumai, sampai kelas 6 SD sangat membekas hingga saat ini dihati saya. Betapa pincang nya kehidupan warga Dumai yang daerahnya menyembur minyak yang hingaa saat ini tiada habis. Kehidupan kebanyakan warganya sangat sederhana kalau tidak boleh dibilang miskin. Mereka menggantungkan air minum saja dari tampungan air hujan, hidup di kampung yang sering dilanda banjir jika hujan, dan minim fasilitas untuk menopang kehidupan yang layak. Penduduk yang hanya menikmati jalan kecil dan penuh lobang, bahkan saya ingat sekali jika kami ingin ke kota Pekanbaru masa itu, harus melewati jalan tanah yang licin, berlubang serta banjir jika hujan.

Sementara perusahaan Minyak, -yang saya tidak tahu masa itu berapa untung nya-, mampu membangun komplek perumahan elit dengan berbagai fasilitas nya dengan segala kenyamanannya. Bahkan perusahaan minyak tersebut punya lapangan terbang sendiri, Pinang Kampai namanya, untuk kebutuhan pekerja dan keluarganya. Mereka hidup dengan standart kehidupan yang layak, selayaknya kenikmatan yang diperoleh karena minyak yang menyembur dari bumi lancang kuning. Belakangan saya juga tahu, perusaahan minyak tersebut punya jalan khusus yang menghubungkan dengan kota lain seperti Duri-Rumbai-Pekanbaru. Jalan ini saya tahu saat liburan ke Dumai beberapa tahun lalu, saat anak sulung saya anfal dan harus segera dilarikan ke rumah sakit di Pekanbaru untuk pengobatan.

Kapan Rakyat jadi Tuan atas kekayaannya sendiri ?

Bayangan masa kecil semasa di Dumai, selalu muncul jika saya datang ke kawasan seperti pabrik Semen di kabupaten Pangkep ini. Tidak jauh berbeda, rakyat sekitar pabrik yang mengolah kekayaan alam disana, kehidupannya sangat sederhana kalau tidak boleh dibilang miskin, apalagi jika dibandingkan dengan kehidupan para pekerja pabrik yang tinggal di rumah-rumah dikomplek pabrik.

Ini tidak hanya saya lihat dan temui di Pangkep, tapi hampir semua daerah yang pernah saya kunjungi yang sumber daya alamnya berlimpah dan di exploitasi. Yang sumber daya alam dan kekayaannya mampu menghasilkan keuntungan berlimpah ruah untuk negara tapi nyatanya kehidupan warganya, rakyat tempatan, tidak terlihat sejahtera.

Bagi saya ini sangat memprihatinkan dan tidak ada keadilan sama sekali bagi Rakyat ditempat dimana kekayaan alam berlimpah tersebut diambil. Padahal dengan sangat jelas di konstitusi negara kita, di UUD 45, ada pasal 33 yang sangat jelas dan tegas menyebutkan diayat 3 bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Kemakmuran rakyat yang mana kah yang dimaksud ? Jika senyata nya kehidupan rakyat di daerah dimana kekayaan alam itu diambil, masih tidak layak hidupnya, masih tidak pantas disebut makmur. Jangankan makmur, bahkan untuk memenuhi kehidupan dasarnya saja banyak diantara mereka yang tidak mampu.

Kemiskinan yang membuat Bodoh dan akhirnya tidak berdaya 

Didalam perjalanan mengantar saya kembali ke bandara, setelah dari pabrik semen besar tersebut, dalam perbincangan kami, saya mengetahui Pak Saraba, supir taxi tersebut memiliki 4 orang anak. Tiga orang telah menyelesaikan SLTA dan tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, saat ini sudah bekerja di kota Makassar. Alasan ketiadaan biaya dan merasa tidak memiliki kemampuan untuk sekolah lebih tinggi.

Anaknya yang bungsu masih duduk di bangku SLTA. Saya berpesan agar anak nya tersebut di ikhtiarkan untuk bisa sekolah sampai Perguruan Tinggi. Saya sampaikan apa yang dulu pernah disampaikan Apak kepada saya, “agar nanti anak bapak bisa berhasil, bisa hidup lebih baik seperti yang tinggal di rumah-rumah bagus seperti di perumahan yang tadi kita lewati, agar bisa bekerja dan jadi pemimpin di perusahaan semen besar tadi”

Soal biaya saya katakan bahwa banyak beasiswa tersedia saat ini, tapi saya mendengar jawaban pesimis dari bapak tersebut , “Anak saya tidak pintar untuk sekolah tinggi”.

Dalam hati saya hanya meruntuk, justru kemiskinan lah yang membuat banyak anak jadi tidak pintar, jangankan beli buku untuk bacaan mereka, jangakan untuk lest membayar guru, untuk makan dan memenuhi gizi saja mereka kurang. Justru ketidak pintaran anak miskin-lah yang harus-nya mendorong pengelola negeri ini memberi mereka kemudahan bersekolah, memberi mereka beasiswa, agar berubah kehidupan mereka, agar terentas dari kemiskinan yang melanggengkan kebodohan, yang melanggengkan ketidak berdayaan.

Dalam hati kembali saya bertanya, “sampai kapankah Rakyat tidak bisa jadi tuan atas kekayaannya sendiri?’

MENARIK DIBACA

loading...

2 KOMENTAR

  1. Idea yanng bagus, mari di discovering … silahkan undang teman2x lainnya, bisa dikomunikasin lewat email, FB atau media online lainnya… saya ikut support demi kota dumai yang lebih baik untuk warganya

  2. Halo Pak Ferry Koto…
    Saya Risna, miris memang melihat banyak daerah yang harusnya kaya karena hasil buminya tapi justru tidak berkembang seperti kota lain (saya lihat kota pangkalpinang dan Sumbawa). saya juga menghabiskan masa kecil dikota Dumai. Orang tua dan keluarga besar saya sekarang masih berdomisili disana. Yang menjadi perhatian saya sampai sekarang adalah masalah air bersih. Masak sudah 30 tahun masih aja masyarakat harus membeli air bersih. belum ada fasilitas air bersih di Kota Dumai. Terakhir saya baca di internet salah satu koran lokal Pekanbaru menyebutkan usaha pemkot untuk menyediakan layanan air bersih tertunda dengan banyak dalih yang diutarakan. Salah satunya masalah investor pengelola, masak iya Dumai yg segitu kaya dan dieksploitasi habis-habiskan oleh perusahaan asing ga bisa minta ‘bantuan’ mereka???
    Bagaimana kalau kita bentuk forum perduli kota Dumai sehingga bisa menampung aspirasi dan ide2 dan tentu saja langkah-langkah konkret untuk realisasi, sehingga masyarakat tidak hanya bisa mengeluh dan para SDM yang berkompetensi bangun dari tidurnya. Miris melihat kondisi seperti ini selama 30 tahun.

Tanggapan Pembaca