Merdeka dari bangsa lain, dijajah bangsa sendiri !

4

sukarno-hatta-syahrir

 

Terperanjat membaca berita tentang dipindahnya Konvensi Rakyat dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya ke sebuah Hotel di Surabaya. Acara yang sedianya akan berlangsung sabtu 5 January 2014 di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR dipindah karena Rektor UNAIR membatalkan persetujuan acara Konvensi diadakan di Kampus UNAIR. Diduga ada intervensi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh untuk melarang kegiatan Konvensi Rakyat ini di Kampus Kampus di Indonesia, termasuk yang rencananya akan diadakan di USU Medan.

[ads2][ads1]

Konvensi Rakyat adalah sebuah kegiatan yang di gagas oleh tokoh masyarakat, rohaniawan, akademisi, tokoh perempuan dan budayawan untuk mencari Calon presiden yang kompeten dan pro terhadap aspirasi dari masyarakat. Komite Konvensi Rakyat tersebut diketuai oleh KH. Salahuddin Wahid dan Rommy Fibri selaku Sekretaris Komite Konvensi, dengan anggota diantaranya Jendral (purn) Try Sutrisno, Profesor Asep Warlan Yusuf, Aristides Katoppo. Diharapkan dengan Konvensi Rakyat ini dapat dimunculkan calon Presiden yang ideal (mengutip KH Salahuddin Wahid) dan bisa jadi alternatif Parpol nanti dalam mengusulkan Capres nya.

Rasanya sulit saya percaya, M. Nuh (mendikbud) yang buku nya baru saja saya baca, “Menyemai Kreator Peradaban“, tentang Pendidikan di Indonesia dan segala cita cita yang ingin beliau wujudkan agar bangsa ini menjadi bangsa besar melalui jalan pendidikan, mengintervensi ataupun mempengaruhi Rektor UNAIR untuk membatalkan, melarang acara konvensi ini di kampus UNAIR.  Sangat bertolak belakang dengan cita cita yang tersurat di buku tersebut, yang membawa misi untuk mencerdaskan Anak Negeri ini sehingga menjadi bangsa yang unggul tidak kalah dengan bangsa bangsa lain di dunia.

Saya melihat Ruh perjuangan pendiri Bangsa, Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir dalam setiap pemikiran Muh. Nuh dalam bukunya tersebut. Bahwa mencerdaskan anak negeri melalui pendidikan adalah perjuangan yang harus diambil agar Bangsa Indonesia bebas dari Penjajahan dan bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa bangsa lain di dunia. Pendidikan lah yang bisa secara permanen menjadikan bangsa ini Merdeka, pendidikanlah yang bisa membuka pemikiran anak bangsa bahwa mereka memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan bangsa bangsa lain di dunia. Pendidikan juga yang akan mengantarkan Rakyat Indonesia untuk tidak inferior dari Bangsa lain didunia.

Pendidikan bukanlah semata jalan untuk membuat Rakyat yang bodoh menjadi Pintar, yang tidak tahu menjadi paham. Pendidikan tidak semata soal Mencerdaskan, tapi pendidikan bagi Pendiri bangsa (kita sepakat semestinya) adalah sebuah Pencerahan, sebuah penyadaran dan muaranya adalah pendidikan harus menjadi jalan agar setiap orang Terdidik memanfaatkan Kecerdasananya untuk memberdayakan dan memberikan kemanfaatan pada sekitarnya. Dalam cita cita Indonesia Merdeka, Kecerdasan kalangan terdidik harus dapat menggerakan Rakyat, menumbuhkan kesadaran Rakyat atas hak hak nya.

Janganlah semata Kecerdasan yang didapat dari jalan pendidikan hanya untuk kepentingan sendiri, yang akhirnya malah membodohi orang lain dengan kecerdasan yang dimiliki. Apalagi kecerdasan hanya digunakan untuk menguasai orang lain dan memaksakan kebenaran Pikiran Sendiri.

Sangat saya tidak percaya berita bahwa M.Nuh yang memahami pentingnya Pendidikan dan paham tujuan pendidikan sebagai Pencerahan mengintervensi sebuah kegiatan yang memiliki semangat Pencerahan yang sama dengan pendidikan itu sendiri. Sulit saya pahami logika yang digunakan jika benar sebagai Mendikbud beliau menggunakan kekuasaannya untuk melarang kegiatan Konvensi rakyat tersebut.

Memilih pemimpin secara Demokratis bukanlah jaminan untuk terpilihnya Pemimpin yang terbaik, Namun mencerdaskan rakyat akan hak-hak demokrasi mereka, memberi peluang terpilihnya pemimpin terbaik !!

Dalam hal pendidikan Demokrasi, maka melakukan pendidikan politik, memberi kesempatan rakyat untuk cerdas atas hak dan pilihannya adalah suatu keharusan dan dengan sepenuh hati harus didukung oleh siapapun yang memahami arti pendidikan sebagai Pencerahan.

Saya khawatir, jika benar ini adalah intervensi Mendikbud apalagi Beliau adalah juga seorang pendidik, mantan Rektor sebuah perguruan Negeri yang menyandang nama besar 10 Nopember, sebagai kampus Pejuangan, ini akan makin menegaskan kondisi bangsa ini, Bahwa kita Merdeka dari Bangsa lain, Tapi kembali dijajah Bangsa sendiri !!

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca