Berita BBM Hatta Rajasa : Media hanya jualan berita atau menyampaikan kebenaran ?

4

Hari ini media seperti berlomba lomba menyiarkan “berita” adanya kebocoran percakapan BBM Hatta Rajasa, Menkokesra yang juga calon Presiden dari PAN, besan Presiden RI, dengan Jero Wacik Menteri ESDM melalui pesan singkat di Blackberry Messenger (BBM). Kebocoran ini disajikan dalam bentuk gambar screen capture dari percakapan BBM tersebut. Digamber tersebut terlihat Hatta Rajasa meminta Jero Wacik mengamankan sesuatu dengan kode “air mineral”, juga ada pihak lain yang disebut seperti Bunda Besan, Bunda Putri, Ivan Gberg dan sebuah singkatan MSH.

Gambar ini muncul pertama kali di media social Twitter diduga melalui account @wulan_BBCNews yang saat ini sudah tidak ditemukan atau disuspend.

Sangat disayangkan media khususnya online, langsung beramai ramai menurunkan tulisan soal “kebocoran BBM” ini dengan judul yang tendensius tanpa melakukan cek dan ricek berimbang apalagi melakukan verifikasi kepada pihak terkait yang diberitakan. Padahal sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan Dewan Pers tentang PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER, menjadi kewajiban setiap media untuk melakukan verifikasi dalam memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan, apalagi terhadap berita yang dapat merugikan pihak terkait.

Jika ditilik screen capture tersebut ditemukan beberapa keganjilan, apalagi jika di lakukan verifikasi pada pihak terkait ataupun yang mengetahui kebiasaan kedua pihak tersebut dalam menggunakan BBM. Keganjilan pertama dapat dilihat dari BBM Jero Wacik yang sudah memberikan jawaban “86” namun status masih “D” padahal dilihat dari timestamp nya BBM an ini sangat serius bukan pesan yang dikirim sambil lalu. Keganjilan kedua yang melakukan screen capture adalah Jero Wacik dimana jika isi BBM ini adalah benar maka adalah konyol orang sekelas Jero Wacik meng-captue percakapan yang “sudah disandikan”. Apalagi Jika diverivikasi kepihak terkait, makin ganjil karena BBM Hatta Rajasa tidak pernah berprofile picture demikian dan ada status profile nya. Belum lagi jika dikaitkan dengan sumber berita yang tidak jelas dan keberadaannya entah dimana jika ingin dikonfirmasi, validasi.

Gambar yang disebarkan ini bisa dirasakan sangat jauh dari “Kebocoran” dibanding adanya motif untuk melakukan black campaign terhadap pihak pihak terkait.

Apakah media demikian inginnya menyajikan berita “yang ingin dibaca oleh pembacanya” dibanding menyajikan fakta dari sebuah berita? Kalau demikian yang terjadi, maka akan hilanglah harapan menjadikan Media- Pers sebagai satu lagi pilar demokrasi yang akan menjaga keseimbangan, menyajikan kebenaran, dari 3 pilar yang lain, eksekutif, yudikatif dan legislatif.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca