Artikel : Buka Dulu Topengmu, Sudirman Said (I)

11

Panggung politik Indonesia terkini dihebohkan dengan sepak terjang Sudirman Said (Dirman), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Melalui Kompas TV. Dirman secara terbuka memaparkan dua isu bombastis yang membetot perhatian khalayak ramai. Pertama, Dirman membeberkan adanya politisi, orang kuat dan ternama di DPR yang mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden, Jokowi-Jusuf Kalla, ihwal Perpanjangan Freeport. Kedua, mengenai permainan mafia migas legendaris yang bercokol di Petral.

Tak berhenti disitu, Dirman melanjutkan manuvernya dengan melaporkan politisi kuat itu ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI. Selang beberapa jam saja, transkrip pembicaraan politisi SN (Setya Novanto), pebisnis Migas (R), Reza, dan Presdir Freeport Indonesia (MS) Ma’roef Syamsoeddin muncul di media. Publik bisa berdebat soal motif dan materi rekaman itu. Yang jelas genderang politik sudah ditabuh Dirman, sehingga menimbulkan kegaduhan politik di sana-sini.

Menarik untuk dicermati, apa motif di balik tindakan gaduh Dirman itu?

Jika menilik apa yang terjadi pada beberapa hari sebelumnya, gambaran utuh terkait manuver Dirman itu akan mudah dibaca. Jelas disimpulkan di sini, Dirman baru mengerjakan siasat politik “lempar batu sembunyi tangan”, setelah serentetan usahanya mengurus proposal percepatan perpanjangan kontrak Freeport yang dia inisiasi melalui kementeriannya (baca: Berita JPNN disini) berlarut-larut dan mengalami proses mundur karena ditolak oleh presiden Jokowi.

Bersama kolega bisnisnya Muhammad Riza Chalid (MRC), SN yang memang dikenal sebagai politisi lihai, tanpa urat malu, dan “kapal keruk” dari Senayan itu, masuk dalam jebakan “batman” dari jejaring bisnis Dirman, lantas dibukalah rekaman itu ke publik untuk menimbulkan kegaduhan guna menyembunyikan rasa malu Dirman di hadapan Jokowi.

Sejurus dengannya, kegaduhan politik ini juga bagian dari ikhtiar politik untuk mengalihkan catatan buruk kinerja Dirman dalam memimpin Kementerian ESDM, sekaligus membangun pertahanan diri agar tidak dicopot dari jabatannya.

Dengan membuka rekaman dan mengadukan SN ke MKD DPR, Dirman menampilkan diri sebagai pembabat mafia migas dan tambang di sektor energi. Melalui jejaring media yang kuat di belakangnya, terutama majalah Tempo dan gerbong ideologisnya, Dirman mendesign kesadaran dan simpati publik bahwa dia adalah reformis sejati, yang sangat layak dan pantas untuk terus menjabat ESDM 1 (sebutan untuk Menteri ESDM). Target politiknya jelas: Jokowi akan dicerca publik jika mencopot Dirman, Sang Pemberantas Mafia Migas itu!

Tapi, tepatkah menyematkan sosok pemberantas mafia migas di kabinet Jokowi-JK pada sosok Dirman ini?

Dari rentetan kebijakan dan perilaku politiknya, sebelum dan saat menjabat ESDM 1, jauh panggang dari api bahwa Dirman adalah sosok reformis, apalagi punya nyali membabat mafia migas. Publik ditipu mentah-mentah dengan suguhan informasi soal portofolio “manis” dia dalam aktivitas anti korupsinya, tanpa pernah menyinggung-nyinggung jejaring mafia bisnis migas yang mengitarinya.

Tegas dikatakan di sini, Dirman adalah bagian dari jaringan mafia migas itu sendiri. Tugasnya satu dalam jejaring mafia ini: dipajang sebagai simbol antikorupsi untuk melancarkan dan mengamankan bisnis mafia di sektor migas dan tambang. Perannya itu dari dulu hingga kini, bahkan mungkin esok, tidak berubah.

Dan jejaring mafianya akan turut runtuh jika dia dicopot dari jabatannya. Apalagi dia tahu posisinya kian terdesak karena Jokowi sudah tidak suka dengan agresifitas dia dalam pengamanan bisnis kolega-koleganya melalui kebijakan-kebijakannya, termasuk urusan perpanjangan kontrak Freeport, yang terlalu terburu-buru dan penuh jebakan bagi Pemerintahan Jokowi. Karena itu, manuver demi manuver dia lancarkan agar tetap meraup dukungan publik, sembari tak henti-henti menyajikan dilema bagi Jokowi.

Mari kita urai rentetan manuver politik Dirman beberapa hari belakangan ini. Bermula pada hari Jumat 6 November 2015 di Bandar Lampung, saat Dirman dan Rini Soemarno mendampingi Jokowi untuk kunjungan dan monitoring perkembangan proyek-proyek nasional di sana.

Dirman dapat informasi, Presiden telah menyampaikan secara lisan ke Rini bahwa dia akan dicopot dari Menteri BUMN. Penyampaian lisan itu direspon Rini dengan muka masam khasnya karena sangat kecewa dengan keputusan Presiden. Berita tidak sedap itu lantas menyebar ke tim inti Rini, termasuk Dirman. Sudah jadi rahasia umum bahwa Dirman merupakan bagian tidak terpisahkan dari Tim Rini, karena munculnya dan peran Dirman di Kabinet tidak lepas dari permainan seorang King Maker di balik layar yang bernama Ari Sumarno (banyak kalangan menyebut sebagai the Real ESDM 1), kakak kandung Rini Sumarno. (baca: Rmol.co disini dan Merdeka.com disini).

Dirman merespon kejadian di Lampung itu dengan sangat cepat, karena jika Rini Sumarno dicopot, maka sudah pasti Dirman akan senasib. Segeralah Dirman menggerakan pasukannya, baik lini formal di Kementeriannya maupun melalui tim bayangannya, yang selalu mendampingi secara intens dalam menyusun strategi politik dan penggalangan opini media (yang diketuai oleh Muchlis Hasyim, pemain utama tabloid Obor Rakyat di era kampanye pemilihan presiden 2014, yang sangat gencar menyerang dan menebar kebencian pada Jokowi-JK melalui liputan dan artikel-artikelnya. (Baca: tribunnews.com disini).

Dengan perancangan seadanya, Dirman membuat konferensi pers di Hotel Dharmawangsa pada Minggu sore, 8 November 2015. Dirman menyampaikan ke publik segala “prestasi semu”nya selama satu tahun sebagai ESDM 1. Harapannya tunggal : Jokowi akan mendengarkan itu dan berubah pikiran agar tak jadi mendepaknya dari Kabinet Kerja. Dirman menganggap dirinya telah menuai banyak prestasi, sehingga pantaslah baginya tetap bertahan di Kabinet.

Apakah gerakan politik Dirman tuntas di Dharmawangsa? Ternyata tidak. Senin 9 November 2015, Dirman perintahkan anak buahnya beriklan di media nasional, seperti Harian Kompas, Republika, Majalah Tempo dan lainnyauntuk mengetengahkan “prestasi semu” satu tahun Dirman. Iklan satu halaman penuh di berbagai media yang jauh dari kata murah, tentu saja.

Apa urgensinya menghabiskan milyaran rupiah untuk ajang narsis itu? Publik juga sudah tahu, bahwa Dirman kedodoran dalam mengelola sektor energi dan memimpin ESDM. Dirman kerap disorot ragam media nasional cetak nasional dan online sebagai menteri yang buruk kinerjanya, karena banyak program kerja kementerian yang tidak jalan, serapan anggaran yang amat rendah, kekacauan di internal ESDM, soal penanganan BBM bersubsidi, proyek 35 Ribu MW yang kacau dan masih banyak persoalan lainnya. Serapan anggaran Kementerian ESDM hingga 18 November 2015 hanya 32,40% (Baca Rmol.co disini   dan Sindonews disini).

“Perjuangan media” bernilai puluhan milyar Dirman guna mendulang simpati publik dan untuk sekedar dinilai layak sebagai menteri itu berlanjut dengan “booking” paket wawancara ekslusif di Kompas TV pada hari Selasa 10 November 2015 (Baca: kompas.com disini). Melalui wawancara itu, Dirman menyampaikan dua hal utama: masalah Freeport dan Petral, dan membumbuinya dengan “drama” penyeretan pemain lain, yakni SN, yang telah secara lancang mencatut nama Jokowi dan Jusuf Kalla dalam persoalan Freeport.

“Tembakan” peluru Dirman ke SN ini diharapkan bisa membelah kesadaran dan simpati publik, karena upaya penggalangan media hari-hari sebelumnya gagal meraup respon positif. Dirman cerdas kali ini. Tembakannya ke SN menjadi headline di semua media dan menjadi perbincangan di mana-mana. Apa yang diharapkan sedikit banyak tercapai: munculnya persepsi Dirman sebagai sosok reformis dan pro pemberantasan mafia di sektor energi.

Cukong dibalik itu semua ternyata bukan orang jauh, dia adalah Rini, yang bertindak sangat agresif mengkondisikan media pasca kejadian Lampung. Dirman yang merupakan satu kelompok dengan Rini diikutsertakan untuk “dijual” dalam operasi media.

Ada dua persoalan mendasar dari langkah konyol Dirman itu. Pertama, membuka isu-isu krusial yang bersifat strategis dan sensitif ke publik tanpa melaporkan sebelumnya ke atasannya, Jokowi. Kedua, kegaduhan yang muncul akibat dari tindakan cerobohnya. Langkah tidak beretika Dirman tersebut telah menciptakan kegaduhan baru yang cepat atau lambat akan menjadi beban di pundak Jokowi.

Kekonyolan itu tidak juga berhenti di hari Selasa itu. Kompas selanjutnya memuat versi cetak dari wawancara Kompas TV itu pada Rabu, 10 November 2015. Sampai artikel ini dikerjakan, Dirman tidak berani menyebut secara gamblang siapa politisi senayan yang dimaksud dalam kasus Freeport dan siapa mafia yang dimaksud dalam kasus Petral itu. Tapi Dirman terus melangkah dengan mengaduk-mengaduk pemberitaan media melalui pembukaan transkrip wawancara SN, R, dan MS, rekaman pertemuan, serta dokumen-dokumen lain yang dilaporkan olehnya dan Timnya, seperti Said Didu, ke MKD.

Ulah Dirman ini memantik gugatan, apa benar Dirman sosok yang pro dengan pemberantasan mafia dan korupsi atau semua ini dikerjakan olehnya semata-mata sebagai pertahanan terakhir di hadapan Jokowi, dengan memanfaatkan sentimen publik? Atau bahkan, Dirman sebenarnya sama saja dengan pihak yang dituduhkannya sebagai sosok mafia?

Jika dibuka rekaman wawancara Dirman di Kompas TV atau transkrip tertulisnya, di penutup wawancara reporter Kompas TV bertanya ke Dirman, “Kadang mas Dirman dituding sebagai bagian dari mafia migas itu sendiri”, sambil tertawa Dirman menjawab “saya kira saya lawannya mafia”.

Jawaban itu memunculkan kesan Dirman tidak yakin dengan jawabannya, karena hati nuraninya tahu persis perilakunya selama ini, yang sejatinya sama saja dengan perilaku para mafia lainnya. Kata-kata “saya kira”, bermakna ada kebimbangan di sana, yang sadar atau tidak menunjukan dilema batin Dirman: ucapan mulut yang ingin berbohong dengan nurani yang tidak bisa mengampuni perangai jahatnya. (Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=XdAKznBIWZ4 pada menit 9:40-10:00).

Lantas siapa Dirman ini?

Anak desa dari Brebes ini mulai masuk Jakarta dengan menempuh pendidikan di STAN. Berbekal pendidikan yang dimilikinya, yang bersangkutan mencoba merintis kiprahnya secara nasional. Bagi publik yang awam, sosok Dirman dikenal sebagai penggiat anti korupsi melalui NGO, Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI).

Dirman berhasil membangun persepsi bahwa dia lahir dari rahim komunitas yang memperjuangkan keterbukaan dan perlawanan atas korupsi. Dia juga dikenal sebagai sosok yang banyak terlibat dalam penataan bisnis TNI, dan juga penggiat pengembangan SDM.

Karir politik Dirman bermula ketika dia masuk sebagai anggota Tim Penataan Bisnis TNI, sebagai amanat UU Pertahanan. Melalui jaringannya di MTI, Dirman masuk ke kancah politik nasional lewat aktivitasnya di Tim itu. Dari sana, Dirman berkenalan secara luas dengan tokoh-tokoh bisnis, militer, dan politik. Sosoknya yang supel dan kegemarannya menjual-jual MTI memudahkan dia menjalin keakraban ke semua tokoh.

Tak susah bagi Dirman untuk melambungkan karirnya di dunia profesional dan bisnis, karena jejaring bisnis, politik, dan militer sudah dia rajut secara apik. Dan kelindan kepentingan tokoh-tokoh politik-bisnis-militer itu dia maksimalkan betul nantinya, saat dia “bosan” menjadi aktivis anti korupsi, dan beralih ke professional-pebisnis, namun ogah menanggalkan kegagahan predikat “aktivis” dari dirinya. Ya, bagian dari mafia migas yang juga “aktivis” antikorupsi.

Namun, jika mendengar kesaksian orang-orang terdekat yang paham sepak terjang Dirman, prasangka baik yang selalu dia bangun melalui jaringan medianya akan runtuh seketika. Dirman adalah frontman dan operator lapangan.

Dia digembleng oleh para mentornya untuk jadi aktor depan yang manis dan patuh, sebagai siasat dan taktik untuk mengelabui (deceptive action) lawan dan publik. Modus operandinya adalah dengan menciptakan kesan kuat -Dirman adalah sosok pro pemberantasan mafia dan anti korupsi.

Sementara di balik semua itu, perencanaan jahat terus dikerjakan, yakni menjadikan Dirman sebagai sumbu bagi penggarongan kekayaan negara secara sistemik, terencana, dan halus, yang dikerjakan secara bersama dan rapi oleh mafia migas di belakangnya. Selamat mas Dirman!


 

Penulis Anonimhttp://www.kompasiana.com/mti

Sumber : http://www.kompasiana.com/mti/buka-dulu-topengmu-sudirman-said-i_5650a74460afbd710cf93188

Baca juga :
Artikel : Buka Dulu Topengmu, Sudirman Said (II)
Artikel : Buka Dulu Topengmu, Sudirman Said (III)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca