Abraham Samad, Ketua KPK atau Politisi ?

0

Abraham SamadDalam sebuah seminar politik kebangsaan di kantor International Conference of Islamic Scholars (ICIS), di Jakarta, Kamis (12/12/2013), Abraham Samad, Ketua KPK-RI yang hadir sebagai pemateri melontarkan statemen yang mengejutkan, bahwa Di Jawa Timur ada Koruptor besar, kelas Kakap dan KPK sulit menembus dan membuktikan nya karena demikian rapi dan canggihnya modus kejahatan yang dilakukan.

[ads1]

“Di Jawa Timur itu perampoknya kelas wahid, pelakunya berpengalaman, bahkan kategori tak bisa dimaafkan,” kata Samad saat ditanya oleh peserta kenapa di Jawa Timur, KPK tidak pernah mengungkap kasus Korupsi.

Koruptor kelas wahid di Jawa Timur itu, kata Abraham, masuk dalam kategori kelas berat karena melakukan korupsi secara rapi dan tak meninggalkan jejak. Semua kejahatannya, kata Abraham, dirancang sedemikian rupa untuk mengantisipasi adanya penelusuran KPK.

[ads2]

Ini sebuah statemen yang aneh dari seorang penegak hukum apalagi yang menjabat sebagai Ketua KPK, dimana tentunya sangat paham bahwa seorang penegak hukum haruslah bersikap, berbuat dan berucap sesuai dengan aturan hukum dan jika terkait kejahatan maka harus berdasarkan pada bukti bukti yang sudah dimiliki.

Bagaimana mungkin seoarang Ketua KPK menyatakan tidak memiliki bukti, tapi sudah mengeluarkan statemen bahwa Koruptor kakap itu ada, dan menyebutnya dengan jelas ada di Jawa Timur, seolah tahu siapa pelakunya, apa yang dilakukannya.

Pernyataan ini hemat saya tidak pantas di ucapkan oleh seorang petinggi Penegak Hukum apalagi Ketua KPK, karena menimbulkan ketidak pastian hukum pada pejabat pejabat pemerintah di Jawa Timur dan para pelaku usaha yang terlibat dalam pekerjaan pekerjaan pemerintah. Padahal UU KPK pasal 40 dengan jelas menempatkan Kepastian Hukum sebagai pijakan utama KPK dalam menjalankan kewenangannya.

Disisi lain hal ini menimbulkan spekulasi dan saling curiga di tengah masyarakat, bahkan bisa jadi pernyataan Abraham Samad ini sudah melanggar Hak Asasi banyak pejabat dan orang orang yang dituju oleh statemen ini.

Melihat statemen Abraham Samad ini, rasanya mungkin sudah tidak tepat lagi beliau menyandang amanah sebagai Ketua KPK, mungkin akan lebih baik mengaktualisasi kan kemampuannya atau kesenangannya mengeluarkan statemen sebagai orang Politik. Masuk ke partai partai politik yang memang memiliki kegemaran membuat statemen statemen semacam ini. Dan jika sebagai orang politik mungkin bisa sah sah saja, dan implikasi hukum nya tidak lah mempengaruhi tindakan lembaga penegakan hukum untuk tetap objektif.

 

Ferry Koto

Penggiat Perkoperasian dan Pendidikan, Dewan Pendidikan Surabaya, Direktur Center for National Strategic Studies (CNSS), Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media (GMKM)

Latest posts by Ferry Koto (see all)

MENARIK DIBACA

loading...

3 KOMENTAR

  1. Ungkapan seperti ini cerminan sebuah ketidak pengusaaan kondisi, ketidak tenangan, panik, lalu ingin segera menarik simpati. Paradoks, karena di satu sisi mengiyakan bahwa korupsi telah menjadi budaya, sementara di sisi lain, menangani-nya persis seperti memakai pain killer, kosmetik dan permukaan sekali.. Penanganan korupsi bukan hanya butuh berani dan nyali, tapi juga cerdas.. Satu hal yang kita sepakati, Indonesia harus bebas dari korupsi.

  2. Setuju Pak, namun tujuan yang baik pun jika dilakukan dengan cara tidak benar, tetaplah hasilnya tidak akan benar…. hemat saya, Penegak hukum harus bekerja atas dasar hukum positif, bukti dan fakta harus jadi sandarannya. Samad sebagai Ketua KPK tidak perlu mengeluarkan statemen yg kontraproduktif, apalagi jika faktanya Komisioner dan Humas KPK pun tidak pernah tahu yang dimaksud

  3. Abraham Samad memang sedang berpolitik, benar… Politik adalah sebuah cara untuk mencapai sebuah tujuan. Tujuan sederhana Abraham Samad adalah menggugah siapapun yang tinggal dan mencari nafkah di Jawa Timur untuk berkata: “Abraham Samad, saya bantu Anda untuk membongkar korupsi….”. Apakah ada diantara kita yang mau berkata? BONGKARRR, HABISI KORUPSI…!!!

Tanggapan Pembaca