TEACCH, Cara ITS Terapi Anak Autis

4

TEACCHSebuah karya bagi masyarakat kembali lahir dari tangan para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kali ini, karya tersebut ditujukan kepada para anak autis untuk membantu mereka dalam proses terapi.

Adalah tiga mahasiswa Jurusan Teknik Informatika ITS, yakni Nurul Wakhidatul Ummah, Muhammad Rizky Habibi, dan Mentari Queen Glossyta yang melahirkan aplikasi tersebut. Karya tim DigiD2 itu bahkan berhasil mendapatkan double penghargaan dalam Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi (Gemastik) 6.

Ide ini muncul ketika Muhammad Rizky Habibi melihat aplikasi untuk orang berkelainan mental di Brunei Darussalam. Dia merasa, aplikasi tersebut juga diperlukan di Indonesia. ”Jika Brunei bisa menciptakannya, mengapa Indonesia tidak?” ungkap Nurul Wakhidatul Ummah, seperti dikutip dari ITSĀ Online, Selasa (19/11/2013).

Berawal dari situ, Fidah -begitu panggilan akrabnya- bersama dua temannya mencari yayasan autis untuk meriset ide mereka. Yayasan ini juga akan dijadikan praktik aplikasi yang mereka buat. ”Akhirnya kami menemukan Yayasan Cakra Autis. Di situ kami riset dan mempraktikan aplikasi yang kami buat,” jelasnya.

Setiap satu bulan hingga satu minggu sekali, Fidah dan tim rutin mengunjungi yayasan tersebut. Dari situ mereka mengetahui bagaimana pola kebiasaan anak-anak autis. ”Selama ini kan mereka biasa diberi terapi autis secara konvensial, padahal setelah diketahui mereka sebenarnya lebih tertarik pada teknologi,” urai Fidah.

Sejalan dengan rencana implementasi ide itu, mulai Januari 2013, Fidah dan tim mulai membangun aplikasi mereka yang dinamakan Treatment and Education of Autism with Kinect and Prompt Technology (TEACCH). Saat ini, TEACCH pun sudah mencapai tahap penyempurnaan.

Fidah menjelaskan, aplikasi TEACCH dirancang dengan desain yang fleksibel sehingga mudah digunakan oleh siapa saja dan dapat dipraktikan di mana saja. Sebelum melakukan terapi, aplikasi ini akan terlebih dulu mendiagnosa tingkat keparahan penderita autis.

”Gejala pokok autis sebenarnya ada tiga, komunikasi, kognitif dan motorik. Jadi perlu diagnosa terlebih dahulu agar penanganannya sesuai,” tutur mahasiswi angkaan 2011 tersebut.

TEACCH menggunakan diagnosa berstandar internasional, yakni Autism Treatment Evaluation Checklist (ATEC). Menurut Fidah, proses mendapatkan diagnosa berstandar internasional tidak mudah. Mereka harus menghubungi semacam lembaga autis internasional melalui email.

Selain terdapat diagnosa, aplikasi ini memiliki beberapa fitur yang memudahkan pengguna mengoperasikannya. Mulai dari prosedur penggunaan, informasi-informasi umum tentang autis, hingga pengolahan database anak-anak yang diterapi. ”Nanti hasilnya akan muncul sesuai biodata yang diinput dan di situ akan ditunjukkan bagaimana perkembangan anak tersebut setelah rutin terapi,” papar Fidah.

Penggunaan aplikasi ini pun disesuaikan dengan tingkat autis yang diderita. Mereka menyebutnya tiga tahapan, yakni tahap awal, tahap menengah dan tahap lanjut. Tahap awal adalah jika tingkat autis yang diderita sudah tinggi, sedangkan lanjut untuk yang rendah. Pengklasifikasian itu ditujukan untuk penyesuaian perlakuan terapi.

”Misal untuk tahap awal, kita tunjukkan huruf A, lalu ada suara dari aplikasi yang akan mengatakan ini huruf A. Untuk tahap menengah, akan ditampilkan huruf dan aplikasi akan bertanya kepada anak tersebut. Anak yang sedang diterapi harus memilih salah satu huruf sesuai dengan yang ditunjukkan di layar dengan memencet tombol yang telah disediakan,” katanya.

Fidah mengaku, pembuatan tombol tersebut terbilang cukup sulit. Sebab, agar instruksi dari tombol direspon PC, maka harus dihubungkan. “Menghubungkannya itu yang sulit. Kami meminta bantuan dari anak robotik,” cerita mahasiswi berhijab itu.

Sedangkan untuk yang tingkat lanjut, TEACCH menggunakan hardware bantu berupa Kinect yang dapat mendeteksi gerakan tubuh. ”Cara kerjanya ini nanti anak akan menghadap layar dan ditunjukkan gambar-gambar. Jika diminta mengambil bola, maka dia harus menggerakkan tangannya sesuai posisi bola di layar dengan posisi tubuhnya tetap berada di titik yang sama,” ungkapnya.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca