Mahasiswa Indonesia juara lomba sains di India

1

Institut teknologi india

London – Mahasiswa Indonesia di India, Constantinus Satrio, berhasil menyabet juara pertama dalam ajang lomba bergengsiAnnual Science, Technology, and Management Festival of IIT Delhi (TRYST) yang diadakan Indian Institue of Technology Delhi, New Delhi India , baru baru ini.

[ads2][ads1]

Karya Satrio, mahasiswa Indonesia, tahun ketiga program studi strata 1 aplikasi komputer, di Universitas Agra, ini bertemakan Manual Automatic Transmission Controller, demikian Humas PPI India,Taufiq Kusuma, dari London, Kamis.

Satrio dalam presentasinya mengatakan,   sistem pengendalian transmisi sepeda motor yang bisa di kendalikan dengan dual mode yaitu mode manual yang sewaktu-waktu bisa diubah ke mode otomatis atau sebaliknya sangat bermanfaat.

Dikatakan dia, orang yang lebih cenderung suka menggunakan mode manual mengalami gangguan otot, atau ada anggota keluarga lain yang sudah tua, yang sewaktu-waktu ingin menggunakan motor dalam mode otomatis.

Motor jadi lebih fleksibel, efisien, karena ada saat-saat tertentu ketika motor lebih nyaman dalam mode manual dan ada kalanya dalam mode otomatis.

Inovasi mahasiswa yang hobi memasak, balap motor, angkat besi, dan mengutak atik alat-alat elektro ini juga dinilai dari segi efisiensi, ekonomis, dan tentu memenuhi kerealistisan untuk di aplikasikan atau merupakan teknologi tepat guna.

Satrio menjawab lugas semua keraguan dewan juri pada saat sesi tanya jawab setelah mempresentasikan karyanya seperti yang ditampilkan di video rekaman presentasinya tersebut.

Ada dua alasan teknis yang dijelaskan Satrio yaitu murah dan bisa diaplikasikan, karena desain yang disederhanakan, serta kontrol kopling dan karburator menggunakan solenoid meminimalkan jumlah komponen yang dipakai, karena tidak perlu throttle position sensor.

Jumlah transistor penggerak daun karburator juga berkurang dari empat menjadi satu.

Solenoid juga memungkinkan pemasangan transmisi ini tanpa merubah mesin, karburator, ataupun gearbox, hanya tinggal potong kabel gas, kopling, dan merubah sistem pengungkit transmisi dari luar gearbox. 2.

Peningkatan efisiensi hingga 20 persen : Transmisi sepeda motor berbasis CVT mengalami rugi daya hingga 20 persen, sebab gesekan yang terjadi saat perpindahan rasio transmisi di karet penggerak. CVT juga rentan mengalami kerusakan mendadak jika dipergunakan untuk beban berat.

Transmisi otomatis tidak mengalami rugi-rugi daya karena menggunakan gearbox manual yang dikontrol oleh motor listrik, serta kopling yang dikontrol solenoid, sehingga daya yang dipergunakan untuk perpindahan gigi hanya listrik dari alternator motor.

Ketahanan dan reliabilitas transmisi otomatis juga meningkat, diserahkan karet CVT harus diganti secara berkala, sementara transmisi tidak memerlukan overhaul berkala jika tidak ada kerusakan pada sistem kontrol elektroniknya.

Dalam penelitian ini, Satrio tidak mendapat bantuan dana dari pihak-pihak yang seharusnya bisa membantu.

IIT Delhi merupakan universitas top tidak hanya di India, tetapi juga di dunia bersama dengan IIT Bombay yang masuknya lebih susah dari pada masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca