FOKUS

Kado Istimewa Hari Kemerdekaan Indonesia dari ITS

0

Yole Indonesienne Garuda 4

Surabaya – Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2014 terasa istimewa, karena ada dua kado dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Kado istimewa itu berupa catatan prestasi dalam ajang internasional yakni trofi “Spirit of Atlantic Challenge 2014” dari ajang kebaharian dunia “Atlantic Challenge International (ACI) 2014” di Vannes, Prancis (19-27 Juli 2014) yang diikuti belasan negara.

[ads1][ads2]

Satu kado lagi yakni medali emas dari ajang “International Mathemathics Competition (IMC) 2014” di Bulgaria (29 Juli-4 Agustus) yang diikuti lebih dari 193 institusi dari 44 negara.

Yang menarik, belasan negara yang menjadi peserta ajang bertaraf internasional ACI-2014 di Vannes, Prancis, mengagumi kapal ITS “Baita Sena” yang menyabet “Spirit of Atlantic Challenge 2014” itu.

“Banyak peserta yang mengagumi Baita Sena, karena kapal itu penuh dengan ukiran, bahkan ada yang bilang bahwa ‘Baiat Sena’ itu cantik,” kata kru Tim Maritime Challenge ITS (MCI) Natya Besari kepada Antara saat tiba dari Prancis di Bandara Juanda Surabaya (8/8).

Di sela penyambutan Tim MCI oleh Pembina Tim MCI Prof Daniel M Rosyid dan sejumlah alumni anggota MCI, mahasiswi Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS itu menjelaskan Indonesia juga dikenal oleh peserta ACI sebagai negara pembuat kapal.

“Itu karena sejak Indonesia menjadi satu-satunya wakil Asia Pasifik pada ajang itu selalu membuat kapal sendiri, bahkan kapal Merdeka 2 (Garuda Nusantara) dibeli orang Amerika, sedangkan kapal Merdeka 3 (Rojo Segoro) dipinjam tim Lithuania,” katanya.

Oleh karena itu, dalam lomba kebaharian yang diikuti peserta dari 13 negara, di antaranya Prancis, Amerika, Irlandia, Rusia, Lithuania, dan Italia itu, Tim Indonesia tercatat tiga kali meraih trofi prestisius “Spirit of Atlantic Challenge” (2002, 2012, 2014).

“Saat pengumuman, Indonesia disebut peraih trofi penghargaan ‘Spirit of Atlantic Challenge 2014’ bersama Lithuania, tapi Tim Lithuania akhirnya menyerahkan trofi itu kepada Indonesia, karena mereka tahu bahwa kapal yang mereka pakai juga buatan ITS,” katanya.

Dalam ajang bertaraf internasional itu, Tim MCI juga meraih juara pertama “ropework” (tali temali) dan juara kelima “jackstay transfer” (lomba dayung dengan memindahkan barang dari kapal ke kapal lain).

“Tapi, semua nilai dari belasan lomba yang diadakan dalam ajang itu diberi penghargaan berupa lima trofi yakni Atlantic Challenge Trophy, John Kerr Trophy, Spirit of Atlantic Challenge Trophy, Lance Lee Trophy, dan L’Esprit,” katanya.

Dari kelima trofi itu, kata Natya yang juga Humas Tim MCI 2014, Tim Indonesia meraih trofi “Spirit of Atlantic” yang merupakan trofi paling bergengsi, karena diserahkan langsung oleh Presiden ACI, Lee Scarbourgh.

“Sebagai kru ‘Baita Sena’, saya merasa mendapatkan pengalaman luar biasa mulai dari membuat sendiri kapal itu, lalu berlatih dan mengikuti lomba itu di Prancis, hingga bisa berinteraksi dengan peserta dari negara lain. Kepada mereka, kami kenalkan Indonesia,” katanya.

Rencananya, kapal “Baita Sena” tiba di Surabaya pada 20 September mendatang, namun 15 anggota tim MCI sudah datang semuanya dan disambut Pembina MCI di bandara serta disambut Rektor ITS Prof Tri Yogi Yuwono di kampus setempat (8/8).

Motivasi
Kebanggaan senada juga diungkapkan Ketua Tim MCI Ahmad Basori. Ia mengaku hal yang membuatnya paling bangga adalah ada penilaian secara voting dari peserta untuk peserta lain.

“Tim Indonesia mendapatkan penilaian tertinggi dari ratusan peserta dari belasan negara, karena diangga sebagai tim yang paling menginspirasi tim lain,” katanya.

Rasa bangga juga diungkapkan Pembina Tim MCI Prof Daniel M Rosyid, karena Tim Indonesia sudah tiga kali meraih trofi “Spirit of Atlantic Challenge” itu.

Penghargaan itu diraih tim MCI untuk pertama kalinya pada tahun 2002 di Rockland-USA dan selanjutnya pada tahun 2012 di Bantry-Irlandia.

“Itu karena ITS berusaha menerapkan pendidikan teknik secara benar. Pendidikan teknik yang benar itu tidak berhenti pada gambar, melainkan sampai ke bengkel, karena itu kami mengajari mahasiswa untuk membuat sendiri kapal,” katanya.

Selain itu, para mahasiswa ITS juga mengikuti sendiri lomba itu. “Kalau peserta dari negara lain merupakan peserta campuran dari pelajar, mahasiswa, dan profesional,” katanya.

Kebanggaan sivitas akademika ITS itu juga dilengkapi dengan prestasi dalam ajang IMC 2014 di Bulgaria, karena Muhammad Yasya dari Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya meraih medali emas (First Prize).

Yasya merupakan salah satu dari tujuh mahasiswa Indonesia yang mengikuti kompetisi itu. Selain Yasya, Yoshua Yonathan Hamonangan dari jurusan Matematika UI (Second Prize), Pramudya A dari Teknik Elektro UGM (Second Prize), Taufiq A dari Matematika UGM (Third Prize), Sofihara Alhazmi dari Pendidikan Matematika UPI (Third Prize).

Selain itu, dua mahasiswa peraih penghargaan “Honorable Mention” yaitu Dian Sitorumi dari Jurusan Matematika ITB dan Muhammad Ardiyansyah dari Jurusan Matematika UGM.

“Ini sangat membanggakan kami dan menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang telah dilalui para mahasiswa ITS sudah on the track sesuai yang digariskan oleh ITS selama ini,” kata Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Hubungan Alumni ITS Bambang Sampurno.

Selain itu, peran para dosen pembimbing di bidang matematika yang ada di ITS selama ini juga cukup besar karena telah melakukan pembinaan secara intensif, sehingga bisa membuahkan hasil yang membanggakan seperti ini.

Menurut Bambang, ITS juga akan memberikan “reward” khusus kepada mahasiswa peraih medali internasional, dan juga diupayakan agar bisa mendapatkan beasiswa untuk studi lanjut.

Sementara itu, sesuai Permendikbud Nomor 95 Tahun 2013, para pemenang kompetisi internasional juga akan mendapatkan beasiswa S1 untuk peraih medali perunggu, beasiswa S1 dan S2 untuk peraih medali perak, dan beasiswa S1, S2 dan S3 untuk peraih medali emas.

“Semoga prestasi yang ada bisa menjadi motivasi untuk memperluas bidang kompetisi perguruan tinggi di kancah internasional, tidak hanya untuk satu bidang,” kata Bambang Sampurno.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca