ICW Sarankan KPK Mulai Jerat Aktor Korupsi dari Korporasi dan Penikmat Pasif Hasil Korupsi

2
Konferensi Pers ICW, Senin (29/12) di Kantor ICW Jakarta

Jakarta – Hari ini tepat 11 tahun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hadir di Indonesia. Banyak catatan dan saran yang dialamatkan ke lembaga anti rasuah yang sekarang dinakhodai oleh Abraham Samad itu.

Beberapa catatan diberikan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW), lembaga swadaya masyarakat yang selama ini menyoroti persoalan korupsi di negeri ini. Peneliti divisi hukum ICW Tama S. Langkun menyarankan, ke depan KPK perlu menjerat aktor-aktor lain yang terkait dengan tindak pidana korupsi.

Dia menyampaikan, salah satu yang perlu dilakukan KPK adalah menjerat korporasi yang terlibat dalam praktek korupsi. Pasalnya, dalam beberapa proses persidangan, hakim meyakini bahwa korupsi juga dilakukan oleh korporasi.

“Sampai sekarang, KPK belum pernah menjerat korporasi yang terlibat korupsi,” katanya saat memberikan catatan terhadap 11 tahun usia KPK di Kantor ICW di Jakarta, Senin (29/12).

Menurutnya, KPK juga perlu menjerat para penikmat pasif tindakan pencucian uang yang dilakukan secara masif. Pasalnya, penikmat pasif tersebut turut menikmati sebagian dana dari hasil korupsi. “Ini menurut saya jadi catatan penting, ke depan yang harus diproses bukan saja pelaku korupsi, tapi juga penikmat uang,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, sektor penerimaan negara perlu lebih disorot oleh KPK. Sebab, selama ini KPK dinilai masih kurang memproses korupsi di sektor tersebut. Padahal, kerugian negara yang ditimbulkan akibat korupsi di sektor tersebut sangat serius.

Dia menambahkan, KPK juga perlu fokus pada fungsi koordinasi dan suprvisi. Karena bagaimanapun, selama ini Undang-Undang memberikan tugas kepada KPK untuk memberantas korupsi sejak dari pencegahan hingga ke penindakan. “Menurut catatan kami, ini belum maksimal dilakukan KPK,” pungkasnya.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca