Kompol Husaima Dicopot dari Kapolsek Jagakarsa, Suami Kritik Polri

4

Jakarta – Komisaris Polisi Husaima, akhirnya di copot dari jabatannya sebagai Kapolsek Jagakarsa pada tanggal 12 Maret lalu. Pencopotan ini buntut dari peristiwa kaburnya 5 orang tahanan yang berada dalam tahanan polsek Jagakarsa pada 9 maret yang lalu.

Wakil Kepala Polda (Wakapolda) Metro Jaya Brigjen Nandang Jumantara yang langsung menyampaikan pencopotan Kompol Husaima ke media pada Jumat (13/3). Pengumuman ini hanya 1 hari setelah Kompol Husaima berhasil meringkus kembali kelima tahanan yang kabur tersebut. Alasan pencopotan karena Kompol Husaima dianggap lalai sehingga kelima tahanan yang berada dalam tanggung-jawabnya kabur dari tahanan.

Alasan yang digunakan untuk mencopot Kompol Husaima, membuat suami Kompol Husaima, Mansur Margolang kecewa. Tindakan yang diambil Polri ditanggapi oleh Mansur melalui surat yang dikirimkan ke media.

Berikut isi surat dari Mansur yang bekerja sebagai seorang construction manager di sebuah perusahaan konsultan asing, yang dikirimkan ke media pada Sabtu (14/3);

Menanggapi komentar Wakapolda Metro Jaya Brigjen Nandang Jumantara yang dimuat di berita media-media online Jumat, tanggal 13 Maret 2015.

Saya suaminya Husaima, yang bekerja di perusahaan consultan asing sebagai Construction Manager, sangat kecewa membaca komentar Wakapolda Metro Jaya Brigjen Nandang Jumantara, yang mengatakan Husaima lalai. Saya rasa job desk-nya Kapolsek, Kapolres, Kapolda dan Kapolri tidak mengawasi dan menjaga tahanan secara langsung. Dari tanggapan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Nandang Jumantara‎ sepertinya benar‎ adalah job desknya (mengawasi dan menjaga tahanan secara langsung), maka seharusnya secara ‘struktural organisasi’ Kapolres, Kapolda dan Kapolri “lalai” juga. Kok tidak di copot ya.

Secara Institusi, saya yakin adanya struktur organisasi dari Kapolsek sampai ke pengawas dan penjaga tahanan, dan orang-orang yang berada di struktur tersebut dalam hal kasus ini seharusnya mendapat sanksi juga.

Saya setuju, pencopotan Husaima adalah risiko yang harus diterima (dia pun sudah menerimanya) tapi apakah sudah melalui prosedur yng benar? dan haruskah ini di publikasikan? saya bahkan tahu dia tidak pernah diperiksa dan di BAP secara internal kepolisian. Apakah organisasi Kepolisian RI seperti ini SOP-nya ? sangat disayangkan sekali seandainya jawabannya ‘ya’. Maka pantaslah KEPOLISIAN ribut dengan KPK.

Perlu Pembaca mengetahui, kenapa saya mengomentari masalah ini, karena saya merasa bertanggung jawab dengan hal ini. Ketika ada pengangkatan Husaima sebagai Kapolsek dia sangat sedih bahkan menangis berjam-jam, sampai saya bingung melihatnya dan kemudian saya bertanya kenapa kamu menangis? husaima menjawab bahwa sebagai Kapolsek nantinya, dia tidak banyak memiliki waktu untuk keluarga sehingga dia takut saya sebagai suami complain dan akan berpengaruh terhadap hubungan kami.

Saya sangat mengenal istri saya, dia memang orang yg sangat komit dan bertanggung jawab dgn pekerjaannya dan juga org yg sangat sayang sama keluarga, saat itu dia ingin menghadap Kapolda utk minta diganti namun saya memberi nasehat bahwa jabatan Kapolsek adalah jabatan yg sangat bagus utk berbuat kebaikan membantu masyarakat sbg kantor polisi terdepan pelayanan masyarakat serta jabatan itu adalah Amanah, saya meyakinkan husaima bahwa saya sbg suaminya akan mensupport dan berpesan supaya amanah ini dijalankan dengan baik dan benar.

Bentuk konkretnya adalah Seminggu setelah dia menjabat saya berkunjung ke kantornya, dan langsung saya minta dia untuk melaksanakan renovasi musholla polsek yg hampir roboh dan tidak berfungsi, agar di fungsikan sebagaimana mestinya. Karna saya yakin dengan adanya fungsi mushalla yang benar dan dengan anggota rajin beribadah dapat membangun mental dan kinerja polisi agar lebih baik.

Serta masih banyak lagi terobosan-terobosan yang dia buat, baik dalam hal perbaikan fisik bangunan polsek maupun perbaikan kinerja anggotanya, serta memperhatikan kesejahteraannya. Saya tahu hal ini, karena kita selalu mendiskusikan berbagai hal.

Saya dan anak saya juga sering mendampingi dia dalam melaksanakan tugasnya di malam hari sampai pagi. Bahkan ketika 2 hari sebelum kejadian ( sabtu 8/3/15 ) saya menemani istri saya di kantornya sampai sore sambil mengecek dan memberi masukan-masukan saran untuk rencana renovasi dan pembangunan ruang pelayanan polsek.

Saya sangat kecewa dengan pencopotan tersebut yg di publikasikan di media ini, karna saya merasa ini adalah bentuk penghakiman dia dan keluarga saya secara sosial masyarakat, seolah dia tidak pernah melakukan sesuatu hal yang baik untuk polsek, termasuk untuk penangan kasus ini. Selama penanganan kasus ini dia meninggalkan keluarga selama 2 hari (9 – 11 Maret 2015) untuk menangkap kembali para tahanan yg kabur, dan dia berhasil menangkap semua tahanan yg kabur. Tanggal 12 Maret 2015 katanya dia dicopot dari Jabatan Kapoolsek (sehari setelah semua tahanan yang kabur tertangkap). Saya sangat kaget mendengar berita ini sekaligus kecewa dengan Kinerja Kepolisian RI dalam memperlakukan dia ( Husaima istri saya).

Saya tidak berharap dan tidak peduli dia jadi apa dan menjabat apa, karena secara financial saya sebagai Contruction Manager merasa mampu untuk menghidupi anak istri saya. Yang terpenting dia sebagai polisi, bisa melaksanakan amanat saya “membantu dan tidak mempersulit pelayanan masyarakat dan memperhatikan kesejahteraan anggotanya”.

Kedepan saya harapkan Kepolisian sebagai Institusi Negara RI memiliki Kinerja yang jauh lebih baik dan transparasi dalam pemberian reward dan punisment terhadap kasus-kasus seperti ini. Sehingga para anggota polisi bisa melaksanan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat.

Demikian tanggapan saya sebagai suaminya Kompol Hj. Husaima SH,MH. wass..

With best regard,

Mansur Margolang

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca