Jokowi Diharapkan Blusukan ke KPK, Tidak Hanya Lihat Dari Istana

0
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang Dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar

Jakarta – Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar berharap Presiden Joko Widodo bisa sensitif terhadap upaya melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurutnya, seharusnya Presiden Jokowi sadar bahwa upaya melemahkan KPK sebenarnya adalah cara untuk melemahkan kekuasaan Presiden.

“Karena dengan KPK lemah, koruptor tambah banyak. Dan akibatnya Jokowi makin tidak berarti,” katanya di Jakarta, Minggu (25/01).

Dia menilai, penetapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto sebagai tersangka, secara tidak langsung telah melemahkan KPK. Apalagi, jika Wakil Ketua KPK lainnya Adnan Pandu Praja ditetapkan juga sebagai tersangka, maka bukan tidak mungkin makin menghancurkan KPK.

Oleh karena itu, dia menyarankan Jokowi untuk tampil memberikan perlindungan terhadap KPK dan memberikan akses 24 jam kepada lembaga anti rasuah itu.

“Datang Jokowi ke KPK segera. Jangan ngeliat hanya di istana, KPK sedang susah. Jangan kalau lagi ada begini-begini gak blusukan,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini terjadi ketegangan antara KPK dan Polri akibat ditetapkannya Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri pada Jum’at (23/1).  Banyak pihak menduga hal ini terkait dengan ditetapkannya Komjen Pol Budi Gunawan, calon Kapolri yang diusulkan Presiden Jokowi, sebagai tersangka kasus rekening gendut.

Presiden Jokowi yang diharapkan dapat bertindak tegas dan mengambil perannya sebagai kepala Negara ternyata tidak sesuai harapan banyak pihak.

Terkait penangkapan Pimpinan KPK, sikap Presiden Jokowi dinilai berbagai kalangan tidak memiliki ketegasan. Sehingga terkesan membiarkan pelemahan KPK tetap terjadi. Padahal banyak pihak berharap Jokowi menggunakan kekuasaan yang ada pada nya untuk segera menyelesaikan persoalan ini, sesuai janji kampanye nya yang akan mendukung pemberantasan Korupsi dan penguatan KPK.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca