Budi Gunawan Diduga Memalsukan KTP Untuk Buka Rekening Bank

2
Wisma yang diduga milik Budi Gunawan di jalan Duret Sawit VII/17A Jakarta

Jakarta – Komisaris Jendral (Komjen) Pol Budi Gunawan diduga menggunakan identitas palsu pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) saat mengurus pembukaan rekening Bank. Di dalam KTP tersebut dicantumkan nama “Gunawan” tapi menggunakan foto dari Komjen Budi Gunawan.

Kasus pemalsuan KTP ini sudah lama terjadi dan menjadi salah satu alat bukti yang sedang didalami Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka suap dan gratifikasi.

KTP tersebut menggunakan alamat di Jalan Duren Tiga Selatan VII Nomor 17A, RT 10 RW 02, Kelurahan Duren Tiga, Kecamatan Pancoran yang merupakan alamat sebuah wisma dengan nama Wisma Lestari. Menurut penduduk sekitar seperti yang dilansir sebuah media Ibu kota, Wisma tersebut milik Komjen Budi Gunawan.

Budi Gunawan menggunakan KTP tersebut untuk membuka rekening di BCA dan BNI Warung Buncit pada 5 September 2008, saat Budi Gunawan masih menjabat Kapolda Jambi. Diduga kedua rekening digunakan untuk menampung aliran dana suap mutasi jabatan dan perlindungan pelaku kriminal. Ditemukan milyaran aliran dana yang masuk kedalam dua rekening tersebut oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Belum ada keterangan resmi dari Budi Gunawan terkait dugaan pemalsuan KTP ini. Sementara KPK sesuai putusan praperadilan diminta menyerahkan semua berkas perkara

MENARIK DIBACA

loading...

10 KOMENTAR

  1. Sesuai dengan apa yang dilansir dalam al-Qur’an dan hadis Rasul, maka dapat kita simpulkan bahwa korupsi merupakan perbuatan haram dan suatu dosa besar. Bahkan menurut Munir Mulkan secara ekstrim tindak korupsi dapat dikatakan sebuah kekafiran yang nyata, sebab kekafiran bukan semata-mata karena sesorang tidak bersedia menyatakan diri beriman kepada Tuhan secara formal (verbal/lisan), tetapi lebih empiris dalam praktek korupsi, politik uang, dan politik preman (dengan kekerasan). Penyelewangan jabatan, penggunaan berbagai ancaman kekerasan dalam praktek politik, manipulasi hukum dan perundangan yang berlakumerupakan bentuk pemalsuan lagika rakyat dan sekaligus pemalsuan kesalehan yang secara sistematis bisa menghancurkan sisitem demokrasi dan kesalehan keagamaan (Abdul Munir Mulkan, 2007: 224).
    Kekafiran (ingkar terhadap Tuhan) orang yang melakukan korupsi menjadi nyata menurut Mulkan ketika sikoruptor sebenarnya tidak terlalu percaya bahwa Tuhan memperhatiakan dan melihat apa yang mereka lakukan dan tidak terlalu percaya bahwa Tuhan akan membalas setiap tindakan buruk yung mereka lakukan (ingkar pada hari akhir/pembalasan). Disamping itu kedermawanan dari hasil korupsi bisa merupakan tindakan mempermainkan kekuasaan Tuhan ketika pelaku percaya akan memperoleh ampunan dari Tuhan (Abdul Munir Mulkan, 2007: 224).
    Menurut Syahatah jika diklasifikasikan secara sistematis bahwa diantara justifikasi syara’ (al-Qur’an) terhadap bahaya dan keharaman korupsi adalah;
    Pertama, korupsi termasuk salah satu bentuk perampasan harta orang lain dengan cara yang kotor, batil, dan semena-mena. Deskripsi ini dalam al-Qur’an digunakan untuk menggambarkan orang yang melakukan korupsi (suap), seperti yang dilansir dalam surah al-Baqarah (2): 188
    Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.

Tanggapan Pembaca