Konsorsium Maritim : FLNG Opsi Terbaik Pengelolaan Blok Masela

7
Acara Focus Group Discusion Konsorsium Maritim di ITS

Surabaya – Pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela di Laut Arafura, Maluku dengan skema gas alam cair terapung (Floating LNG/FLNG) merupakan opsi terbaik dibandingkan darat. Hal itu diungkapkan oleh Juru Bicara Konsorsium Maritim, Ketut Buda Artana.

“Kajian teknis maupun ekonomis menunjukkan, skema FLNG Masela masih lebih baik dibandingkan darat,” kata Ketut Buda Artana, usai diskusi ‘Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Migas di Laut Dalam’ di Kampus ITS Sukolilo, Surabaya, Senin (16/11).

Ketut menjelaskan, aspek teknis yang dikaji meliputi keselamatan, olah gerak (seakeeping), penanganan dan proses gas, geoteknik dan bencana. Adapun aspek ekonomis mencakup waktu konstruksi, fleksibilitas operasi, investasi, serta pengaruh terhadap pertumbuhan wilayah, industri, dan kandungan lokal.

“Diskusi ditujukan memberi masukan yang obyektif ke pemerintah, agar lebih memberi manfaat bagi bangsa dan negara. Tidak ada sedikitpun keinginan dari Konsorsium Maritim memperkeruh suasana dan memihak kepada salah satu alternatif teknologi. Ini murni diskusi akademik dan teknis,” papar Ketut.

Dari aspek keselamatan, Ketut mengatakan, teknologi FLNG sudah memiliki tingkat keselamatan yang bisa diterima. Aspek ‘safety‘FLNG sudah countable dan predictable. Kajian kuantitatif dan simulasi memberi gambaran tingkat risiko FLNG saat beroperasi,” ujar utur Guru Besar ITS tersebut.

Dia mencontohkan, risiko tabrakan kapal saat proses ship to ship LNG sudah teruji dan terbukti aman.

Sementara, pengajar Teknik Kelautan ITS Kriyo Sambodho mengatakan Masela merupakan daerah dengan risiko gempa dan tsunami yang tinggi. “Pada periode 1900-2013, tercatat terjadi 2.248 gempa di sekitar Masela.” ujarnya.

Kalau menggunakan pipa, apalagi dengan opsi panjang sampai 160 km atau 600 km, maka akan berbahaya dengan ancaman gempa dan longsoran yang terjadi. Demikian pula, opsi darat lebih rawan terkena tsunami dibandingkan laut.

“Artinya, dengan potensi gempa dan tsunami yang tinggi tersebut, maka opsi FLNG Masela akan lebih baik dibandingkan darat,” imbuhnya.

Konsorsium Maritim terdiri dari ITS Surabaya, PT. PAL, Biro Klasifikasi Indonesia (BKL), LHI-BPPT, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).

sumber : http://geomaritim.com/

MENARIK DIBACA

loading...

TINGGALKAN TANGGAPAN

Sila masukan komentar anda
Silahkan masukan nama disini