CNSS : Mengkoreksi Kembali Ketahanan Energi Indonesia

4

Surabaya – Center for National Strategic Studies (CNSS) menggelar sebuah Kajian Strategis yang bertemakan “Menakar Ketahanan Energi Nasional” yang diselengarakan di Surabaya. Kajian ini dihadiri oleh Prof. Ir. Mukhtasor, M.Eng., Ph.D yang merupakan mantan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai pembicara dan BEM serta mahasiswa-mahasiswa sekitar Surabaya sebagai partisipan.

Kajian strategi yang diadakan di Sekertariat CNSS jalan Tenggilis Utara ini merupakan rangkaian dari kegiatan rutin yang dikelola olah CNNS dalam upayanya untuk mengawal pengelolaan energi nasional demi terciptanya ketahanan energy nasional sebagaimana yang terdapat dalam UU No 30 tahun 2007.

“Sebenarnya undang-undang tentang pengelolaan energi yang dapat menciptakan energi nasional sudah cukup bagus. Tinggal pelaksanaanya saja yang perlu ditingkatkan,” ungkap Mukhtasor.

Mukhtasor yang juga Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menjelaskan bahwa pengawalan terhadap pengelolaan energi nasional sangat perlu dilakukan mengingat hanya dengan pengelolaan yang baik ketahanan energi akan dapat dicapai. Dalam implementasinya, pengelolaan yang baik masih susah untuk direalisasikan.

“Berbicara energi tentu terkait dengan banyak sektor seperti politik dalam negeri, politik dunia dan ekonomi. Sektor-sektor inilah yang berperan dalam pengelolaan energy di Indonesia.” jelasnya.

Banyaknya sektor yang berperan dalam pengelolaan energi membuat pemerintah tidak mudah dalam mengeluarkan peraturan tentangnya. Sehingga perlu dimengerti juga bahwa terkadang kebijakan pemerintah tentang energi masih terkesan kurang jelas.  Meskipun pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang Kebijakan energi yang tertuang dalam PP No. 79 tahun 2014 mengenai ketahanan energi menuju tahun 2025.

Mukhtasir juga menyoroti tentang energi baru dan terbarukan (EBT) dan rendahnya konsistensi pemerintah dalam pelaksanaan.

“Dulu masyarakat disuruh untuk menanam jarak secara masal untuk bahan baku biodiesel, tetapi sekarang sudah tidak terdengar lagi tindak lanjutnya. Harusnya pemerintah konsisten dalam kebijakannya, jika rencana ketahanan energy 2025 ingin tercapai. ” tegasnya.

Dalam kajian ini juga dibahas tentang cadangan energy Indonesia yang semakin menipis seiring dengan upaya peningkatan jumlah produksi sumber energi fosil. Kondisi ini tentunya akan berakibat buruk terhadap ketahanan energi yang direncanakan dapat tercapai pada tahun 2025.  Mengingat belum ditemukannya ladang baru untuk sumber energi fosil.

“ Peningkatan jumlah produksi akan mengurangi tabungan energi fosil kita. Jika kondisi ini terjadi secara berkesinambungan tanpa adanya perbaikan, kemungkinan besar energi fosil kita akan habis pada tahun 2030 dan pada tahun 2033 kita telah menghadapi krisis energy.” tutup Mukhtasor.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca