CNSS Ingatkan pemerintah Indonesia, terkait darurat Energi pada tahun 2033

1
Dwi Soetjipto, Direktur Utama PT. Pertamina

Surabaya – Dalam kajian yang diadakan oleh Central for National Strategic Studies (CNSS) di Surabaya, Rabu (8/4) mendapatkan temuan yang mengejutkan. Dari berbagai data yang berhasil dihimpun dan kemudian disimulasikan, didapat kenyataan cadangan energi di indonesia hanya mampu untuk di pergunakan sampai tahun 2033.

Dwi S Wanudyatanto, Manager program CNSS, menyatakan dalam rilis yang diterima redaksi bahwa pada tahun 2033, Indonesia akan mengalami kondisi darurat energi.

“Jika keadaan dan kebijakan energi tidak direncanakan dengan baik dan ber-orientasi pada penggunaan energi jangka panjang oleh pemerintah Jokowi-JK. Indonesia akan mengalami gawat darurat Energi.” ugkapnya.

Menurut Dwi, Langkah-langkah pengelolaan energi harus tepat olah dan tepat guna, dan itu harus di tata mulai sekarang dan selanjutnya.

“Sederhananya pemerintahan sekarang harus tegas dalam menjalankan UU No 30/2007 tentang energi, yang bertujuan untuk tercapainya kemandirian pengelolaan energi, serta peraturan pemerintah ¬†no.79/2014 pasal 6 butir (a) tentang kebijakan energi nasional,” jelasnya.

Pemerintah diharapkan mentaati PP No. 79/2014 pasal 6a tersebut dengan konsisten. Dimana dalam pasal tersebut tegas adanya pembatasan ekspor energi. “Sumber daya energi tidak dijadikan sebagai komoditas ekspor semata tetapi sebagai modal pembangunan nasional,” ungkap Dwi tentang isi pasal 6 tersebut.

Jika pemerintah kompromistis dalam menjalankan UU dan PP tersebut, sudah dipastikan masa depan generasi bangsa ini akan terpuruk dan semakin  sengsara. Tidak kalah pentingnya pemerintah juga harus memberdayakan lembaga-lembaga Penelitian baik yang bernaung dalam pemerintahan ataupun yang berada di perguruan tinggi, untuk mencari solusi energi alternatif yang realistis untuk menyambut darurat energi nasional tersebut.

Dampak dari darurat energi yang paling berbahaya adalah porak porandanya NKRI, turunya moralitas dan budaya akibat ketidak setabilan harga pangan, dan semua itu akan berujung pada produktifitas masyarakat. Jika produktifitas masyarakat melemah maka yang terjadi adalah kekacauan dimana-mana seperti pada era orde baru yang klimagnya ditahun 1998.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca