Artikel : Buka Dulu Topengmu, Sudirman Said (II)

9
Arie Soemarno dan Karen Agustiawan

Dirman Sang Mafia: Bermula dari Pertamina

Semua kisah tentang Dirman bermula di Pertamina. Endriartono Sutarto, mantan Panglima TNI Era SBY, yang menjadi Komisaris Utama (Komut) Pertamina, (sempat punya hubungan “manis” dengan Rini Sumarno), merupakan sosok penting yang membawa Dirman ke Pertamina.

Endriartono menitipkan Dirman ke Ari Sumarno, Dirut Pertamina kala itu. Oleh Ari, Dirman dijadikan staf ahli Dirut, dan selanjutnya diberi tugas sebagai Senior Vice President (SVP) untuk Integrated Supply Chain (ISC). Endriartono menenteng Dirman ke Pertamina karena kecerdikan Dirman mengambil hatinya ketika masih jadi Tim Penataan Unit Bisnis TNI. Satu paket dengan Dirman adalah Karen Agustiawan (sosok yang pada akhirnya menggantikan Ari sebagai Dirut) dan Widhyawan Prawiraatmadja (saat ini Staf Ahli Menteri ESDM).

Pasca Endriartono, Ari Sumarno adalah sosok utama yang mengisi hari-hari Dirman selanjutnya. Tak terlalu lama bagi Dirman untuk merajut hubungan batin dan bisnis dengan Ari.

Siapa sesungguhnya Ari dan apa peran Ari bagi Dirman?

Ari Sumarno merupakan pegawai karir di Pertamina yang mengawali kerjanya di bagian pengolahan. Karirnya sesungguhnya sudah tamat pada awal 1990-an, ketikadia terbukti melakukan penyimpangan dalam pembangunan Kilang LNG Bontang (Baca: detik disini  dan Artikel disini). Jabatan Ari diturunkan dan tidak diberikan kewenangan apapun. Namun, karena kelihaiannya, kartunya selalu hidup.

Pasca reformasi, Ari dipromosikan menjadi Presiden Direktur Petral Singapura, perusahaan yang menjadi trading arms Pertamina dalam memasok minyak mentah dan BBM untuk kebutuhan dalam negeri. Saat Ari Sumarno menjabat Presdir Petral, ada dua sosok penting yang membantunya: yaitu Hanung Budya (terakhir menjabat selaku Direktur Pemasaran Pertamina) dan Daniel Purba (saat ini menjabat SPV dari ISC).

Tapak-tapak mafia Ari di sektor migas mulai dilangkahkan di Petral ini. Petral adalah pintu masuk bagi para mafia migas mengejar rente ekonomi Republik ini. Di era keemasan Orde Baru, Petral menggandeng Permindo (milik Bob Hasan dan Bambang Trihatmodjo Soeharto) untuk bersama mencari rente ekonomi. Di balik Permindo, ada sosok God Father yang memegang kendali kunci yang mengatur semua rantai bisnis pasokan minyak mentah dan BBM ke Indonesia. Dia adalah NASRAT MUZAYYIN. (baca disini). Cukong migas pemegang paspor Libanon ini adalah tokoh sentral tersembunyi yang menjadi GURU BESAR dari semua para mafia migas di Indonesia, termasuk Dirman! Tak banyak kalangan yang bisa mengendus sosok satu ini.

Runtuhnya Orde Baru bukan berarti kiamat bagi Nasrat. Pengalaman dan kepiawaiannya menelusuri seluk beluk bisnis migas mengantarkan salah satu anak didiknya, Ari, ketampuk puncak kendali Petral. Selang beberapa waktu kemudian, Muhammad Reza Chalid/the Legend, salah satu murid Nasrat lainnya, diberi akses luas oleh Purnomo Yusgiantoro (waktu itu Menteri ESDM) untuk masuk dan “belajar” di Petral, sekaligus berkongsi dengan Ari.

Kekosongan Permindo, diisi oleh Reza dengan dukungan penuh Ari dan Nasrat. Di fase inilah seorang Reza yang masih lugu dengan bisnis minyak dibimbing dan digembleng oleh Nasrat, Sang Guru Besar. Hubungan mesra empat serangkai ini, Nasrat-Purnomo-Ari-Reza, berjalan terus dan mulus selama beberapa tahun. Sampai pada satu titik, sang Guru Besar, Nasrat, merasa murid utamanya, Reza, mulai menggangu dan mengusik area nyaman yang selama ini ia nikmati di Petral dan Pertamina. Reza, adalah murid yang cerdik dan lihai, yang menyalip gurunya, Nasrat.

Ari hanya kurang dari 3 tahun di Petral. Pada tahun 2004, dia dipromosikan menjadi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina. Posisinya di Petral digantikan oleh Hanung Budya dan posisi Hanung selaku VP digantikan oleh Daniel Purba. Kedua nama terakhir inilah yang menjadi operator dari Reza dalam melebarkan bisnis pengadaan minyak mentah dan BBM dalam negeri.

Di waktu bersamaan, Sang Guru Besar, Nasrat, pelan tapi pasti tersingkir dari gelanggang permainan, hingga akhirnya, Reza mengambil alih kendali. Merasa bahwa Reza makin kuat dan berkuasa, Nasrat komplain ke Ari. Hubungan keduannya renggang. Melalui Purnomo Yusgiantoro, waktu itu, terumuskanlah satu formula kesepakatan antara sang Guru dan muridnya, dalam bisnis pengadaan minyak mentah dan BBM Pertamina. Nasrat, karena sudah kenyang puluhan tahun mendapat porsi 30%, dan Reza memegang 50% dari total pasokan yang dibutuhkan. 20% sisanya dibagi-bagi untuk akomodasi pihak lain.

Perdamaian bisnis ini adalah jalan emas bagi Ari Sumarno sebagai pebisnis. Karena loyalitasnya selama ini pada Nasrat, Ari mendapat jatah saham 35% di Concord Energy, milik Nasrat (baca disini). Ari lantas mendudukkan puteranya, Yuri Soemarno, sebagai salah satu Direktur di Concord Energy. Lewat bendera Concord, Ari mulai gagah dalam dunia bisnis migas, dan secara pelan berani mengurangi porsi Reza.

Kompetisi bisnis Reza dan Ari dimulai! Dari yang semula bertindak sebagai tandem bisnis dan sahabat, Ari berbalik menjadi orang terdepan yang berhasrat mengubur Reza dan kerajaan bisnisnya. Melalui back up Concord Energy dan kolaborasi dengan sang Guru Besar, Ari lantas diangkat sebagai Dirut Pertamina, pada tahun 2008.

Di Pertamina era Ari, muncul tiga aktor migas baru yang langsung berkoordinasi ke Ari, yaitu Dirman, Widhyawan Prawiraatmadja, dan Karen Agustiawan. Tiga sosok baru itu memperkuat Ari sehingga dirinya tambah yakin bisa melumat Reza dengan Petralnya. Skenarionya, Ari bakal mendorong Concord Energy sebagai pengganti Petral via PT Pertamina Integrated Supply Chain (ISC Pertamina), dengan pola transasi belakang layar sebagai business arranger. Ari konsisten membabat Reza dan membuka jalan seluas-luasnya bagi gurunya, Nasrat, untuk kembali menguasai.

Kembali ke Dirman. Ia adalah sosok yang culun dan biasa saja dalam percaturan bisnis migas. Kelebihannya satu saja: sangat patuh dan tunduk ke Ari. Tak lebih.

Dirman yang awalnya jadi staf ahli Dirut, lantas ditugasi sebagai SPV di ISC, unit baru yang dibentuk untuk menggantikan peran Petral (yang masih dikuasai Reza) dalam pasokan minyak mentah dan BBM nasional. Ditaruhnya Dirman di ISC adalah upaya kamuflase atas rencana jahatnya guna melapangkan jalan Concord Energy menguasai bisnis migas Pertamina.

Dirman secara sadar menutupi wajahnya dengan topeng aktivis antikorupsi dan memperalat MTI, untuk jadi tameng bagi tujuan bisnis jahat mafia migas. Begitulah modusnya. Sederhana tapi sukses mengelabui publik. Selalu direkayasa ke publik bahwa ISC adalah antithesis dari Petral, dipimpin sosok anti korupsi, Dirman, dan karenanya patut didukung Presiden dan publik. Sehingga agenda-agenda busuk yang sudah dirancang para mafia migas, Ari, Nasrat, dan Dirman dapat berjalan mulus.

Untuk back up di lini pengadaan migas, Ari memanggil pulang adik seperguruannya, Daniel Purba,dan memberinya jabatan VP di ISC, guna membantu Dirman yang selalu lugu namun patuh. Daniel Purba masih muda saat itu. Karenanya, meski dia banyak memfasilitasi Reza di Petral, tapi masih bisa dipengaruhi, digandeng, dan dijadikan operator untuk mengeksekusi kepentingan Ari. Terbukti sampai sekarang, tiga serangkai Ari Sumarno, Dirman dan Daniel Purba masih berjalan mesra. Hanung karena tidak tunduk pada Ari, akhirnya disingkirkan.

Melalui perancangan mereka, praktis Petral kehilangan pengaruhnya. Saat itulah mesin ISC dihidupkan untuk siap-siap take off bersama dengan Concord Energy yang dipiloti oleh Nasrat. Dirman, selaku pendatang baru di bisnis ini, mulai dikenalkan dengan Nasrat dan Concord Energy. Ari perintahkan Dirman untuk mendownload ilmu mafia dari Nasrat dan Daniel Purba. Dan sukseslah Dirman menjadi keluarga besar salah satu mafia migas di Republik tercinta ini. Selamat datang mas Dirman, welcome to the Club!!!

Sesungguhnya Ari, Reza, Dirman, Daniel, Hanung dan lain-lain memiliki satu guru, Nasrat. Pembeda mereka tegas: Reza bisnis melalui Petral sebagai periuk utamanya, sedangkan Ari dan Dirman memakai Concord Energy dan ISC sebagai ladang penghisapan minyak. Dalam hal ini Ari dan Dirman setia dengan sang Guru, Nasrat.

Mari kita lihat apa yang dilakukan Dirman pertama kali memimpin ISC. Selang beberapa hari dilantik, November 2008, dia langsung terbang ke London bersama Daniel Purba dan menginap di Rizt Carlton untuk bertemu dengan Perusahaan Minyak Nasional (NOC) Libya yang difasilitasi oleh Concord Energy.

Pertemuan itu menyepakati Perusahan Migas Libya itu memasok minyak mentah ke Pertamina dengan harga yang telah diatur. Dirman meyakini deal ini ada di bawah kewenangannya karena sudah “direstui” oleh Ari selaku Dirut. Saat itu juga Dirman menandatangani Sales and Purchase Agreement atas nama ISC Pertamina untuk volume 4 juta barel minyak mentah.

Penunjukan langsung dari Dirman itu jelas melanggar prosedur tata cara pengadaan minyak di Pertamina. Tidak ada klausul mengenai penunjukan langsung. Semua pengadaan harus dilakukan dengan mekanisme tender, termasuk jika ada NOC dari sebuah negara ingin ikut memasok minyak ke Pertamina. Prosedur lain yang dilanggar adalah tidak adanya persetujuan dari 3 Direktur lainnya di Pertamina sebelum sebuah dokumen pengadaan minyak ditandatangani.

Bagi Dirman, itu hanyalah sebuah prosedur formal yang tidak ada artinya. Namun, bagi pihak yang mengerti pola bisnis minyak yang berlaku di dunia internasional, upaya tidak transparan Dirman (yang selalu mengklaim dirinya sebagai tokoh Masyarakat Transparansi Indonesia) merupakan sebuah kejahatan bisnis.

Seperti biasanya, penyesatan publik diskenariokan dan dilancarkan dengan penjelasan bahwa dealing langsung ke NOC dan tidak melalui trader akan menjadikan harga beli minyak lebih murah, tanpa ada fee atau pengeluaran lain. Ini berbeda dengan mekanisme tender di Petral, yang selalu memakai trader. Begitulah penyesatan, sekaligus, pembenaran Dirman untuk menyembunyikan praktek bisnis yang sesungguhnya: melangengkan bisnis Concord Energy.

Bagaimana sesungguhnya modus operandi ISC melalui NOC tersebut?

Pola yang dibangun sangatlah halus dan canggih untuk ukuran Indonesia, di mana transaksi semua itu dilakukan di Luar Negeri dan memiliki underlying documents yang lengkap. Praktek kejahatan bisnis Ari dan Dirman bisa dilacak dari pertemuan Dirman dan NOC Libya di London itu, yang penuh perancangan matang sebelumnya.

Peran dari Nasrat dan Concord Energy, dan Ari Sumarno sangatlah sentral. Nasrat-lah yang mengatur deal semua bisnis. Untuk setiap barrel yang dipasok ke Pertamina melalui ISC, NOC Libya harus berkomitment membayar sejumlah fee kepada Concord.

Lantas, apa bedanya Concord Energy dengan ISC, dan perusahan Reza dengan Petral?

Yang satu melalui satu proses yang seakan-akan transparan melalui tender di Petral, dengan Reza penguasanya, dan satunya lagi melalui proses tertutup negosiasi dengan NOC via ISC, dengan Concord Energy memainkan seluruh perancangan bisnisnya. Ujungnya adalah rent seeker ekonomi. Sama-sama mengutip dollar dari tiap barrel BBM yang dipasok ke Pertamina. Namun, wajah Dirman selalu dihiasi topeng antikorupsi.

Rencana jahat itu tinggalah rencana. Dokumen penunjukan langsung yang sudah diteken Dirman di London, yang tidak transparan dan melanggar prosedur itu, seharusnya efektif pada bulan Juni 2009. Pesta yang diharapkan terjadi, bubar lebih awal.Awal 2009, Ari Sumarno dipecat dari Dirut Pertamina, digantikan oleh Karen Agustiawan, anak didiknya sendiri.

Perjanjian yang sudah diteken Dirman bersama dengan NOC Libya dibatalkan oleh Karen. Selain itu, Dirman dimutasi dari ISC, karena sudah menjadi jangkar praktek bisnis kotor Ari dan Nasrat. Jadi, adalah kebohongan kalau didepaknya Dirman dari SPV ISC karena semata-mata desakan dari Reza. Sejarah membuktikan bahwa diberhentikannya Dirman dari SPV di ISC lebih dominan karena hasrat yang menggebu-gebu dalam menggelar karpet merah ke Concord Energy dengan cara menampik aturan hukum dan mengkhianati asas transparansi.

Reza, Ari, dan Dirman setali tiga uang: berasal dari satu Guru, dan mencari keuntungan untuk diri dan kelompoknya dengan memperalat jabatan dan menginjak-injak hukum. Jika Dirman mengeksploitasi ketidaktahuan publik melalui opini bahwa Petral dan Reza itu mafia, sesungguhnya pula dia dan Ari, bersama Nasrat, juga mempraktekkan hal sama dalam bentuk lain. Intinya, mereka—Dirman di dalamnya ikatan—adalah korps mafia. Publik selama ini telah ditipu habis-habisan.

Penyamaran cantik Dirman senantiasa berhasil karena bertopeng pendiri MTI dan pejuang anti mafia melalui usahanya untuk membubarkan Petral. Padahal, perangai yang ditunjukannya tidak lebih dan tidak kurang sama dengan kelakuan orang yang dituduhkan olehnya sebagai mafia. Inilah yang sering disebut pepatah sebagai serigala berbulu domba!

Lihatlah kebijakannya tentang audit forensik Petral. Mengapa audit forensik yang dilakukan Dirman atas Petral hanya diberlakukan dalam kurun waktu 2012 s.d 2014? Mengapa audit tidak dimulai sejak tahun 2001, saat Ari jadi Dirut Petral dan Direktur Pemasaran Pertamina, saat Ari masih mesra bergandengan dengan Reza?

Pertanyaan serupa juga berlaku atas ISC itu sendiri pada saat Dirman selaku SPV di ISC. Jika tidak ada niat yang busuk untuk menyembunyikan sesuatu, tentunya tidak ada alasan untuk membatasi jangka waktu audit forensik tersebut. Jelas bagi Dirman, mengaudit sang mentor, Ari, dan sang Guru Besar, Nasrat, merupakan tindakan tak terpuji bagi murid dan loyalis terbaik.

Sosok yang dikesankan suci, baik, anti korupsi, pro transparansi dan anti mafia ini sesungguhnya sedang memainkan lakon bertopeng: anti korupsi. Skenarionya disusun mentornya utamanya, Ari. Dan Dirman sungguh menikmati lakon yang ia perankan itu, hebatnya lagi dengan sukses. Sekali lagi, selamat Dirman!


Penulis Anonimhttp://www.kompasiana.com/mti

Sumber : http://www.kompasiana.com/mti/buka-dulu-topengmu-sudirman-said-i_5650a74460afbd710cf93188

Baca juga :
Artikel : Buka Dulu Topengmu, Sudirman Said (I)
Artikel : Buka Dulu Topengmu, Sudirman Said (III)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca