BI: Pelemahan Rupiah Wajar

0

rupiahBank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini merupakan suatu hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, itu karena pengaruh eksternal. BI memastikan selalu mengawasi pergerakan rupiah.

“Untuk Indonesia walaupun kondisi rupiah melemah kami masih melihat itu adalah sesuatu yang wajar dan kami terus mengawasi itu,” ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta, Jumat.

Menurut Agus, pelemahan rupiah tersebut memang terpengaruhi oleh faktor perkembangan ekonomi global yang berdampak terhadap negara-negara berkembang.

“Kita tidak usah risau tentang itu, itu memang adalah perkembangan daripada dunia ketika kita melihat hasil pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) dan kemudian diperkirakan kondisi di Amerika lebih baik dan kemudian berdampak pada semua negara,” ujar Agus.

Ia menuturkan pergerakan nilai tukar rupiah merupakan suatu hal yang dinamis dalam beberapa bulan terakhir di mana ketika Oktober rupiah menguat kemudian November melemah kembali.

“Kita juga tahu bahwa ini didukung sama banyak investor yang juga ambil keuntungan berdampak pada posisinya (rupiah),” ujarnya.

Agus menambahkan, pihaknya juga tidak menargetkan suatu tingkat nilai tukar tertentu namun akan meyakinkan nilai tukar rupiah masih sesuai dengan fundamental ekonominya dan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan di Tanah Air.

Berdasarkan kurs Jakarta Inter Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah pada Jumat sebesar Rp 11.706, naik hampir 150 basis poin lebih dibandingkan Jumat (15/11) pekan lalu Rp 11.561.

Agus Martowardojo menilai perekonomian Indonesia harus lebih siap pada 2014 dalam menghadapi gejolak (shock) ekonomi global, terutama rencana pengurangan stimulus moneter oleh Bank Sentral AS The Fed.

“Saya rasa kini sudah ada satu progres yang baik, tetapi pada tahun depan kita harus mempersiapkan lebih baik karena stimulus dari Federal Reserve itu akan dikurangi,” ujar Agus.

Agus menuturkan bahwa upaya untuk menurunkan defisit neraca transaksi berjalan saat ini masih terus berlangsung demi menjaga stabilitas sistem keuangan. “Kalau kita lihat dari kuartal dua rasionya (defisit) 4,4 persen terus kemudian bisa membaik ke 3,8 persen,” kata Agus.

Selain itu, dengan tingkat inflasi yang diperkirakan di bawah 9 persen pada akhir 2013 serta nilai tukar yang sedikit melemah merupakan langkah-langkah antisipasi perkembangan ekonomi pada tahun 2014.

“Ini merupakan upaya untuk membuat ekonomi kita lebih siap dengan shock yang mungkin terjadi,” ujar Agus. Dari sisi tingkat suku bunga, BI juga telah menaikkan BI rate 175 basis poin dalam enam bulan terakhir.

Menjelang akhir tahun, menurut Agus, akan banyak investor yang masuk ke dalam negeri. Mereka sebelumnya sudah confidence dengan kondisi di Tanah Air.

“Mereka mungkin menghitung real interest rate 2014 bahwa tingkat inflasi 3,5-5,5 persen. Dengan tingkat bunga yang ada di Indonesia berarti sudah positif. Dalam arti real interest rate positif, investor lihat hal baik dengan Indonesia,” kata Agus. (Devita)

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca