Anggaran Subsidi BBM Jebol

2

chatib-bisriJAKARTA – Posisi sebagai net importer minyak membuat Indonesia terus waswas dengan besarnya subsidi bahan bakar minyak (BBM). Konsumsi yang terjaga tidak lantas membuat pagu anggaran aman. Depresiasi rupiah lah yang kini membuat anggaran subsidi BBM jebol.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, berdasar pantauan hingga awal November, realisasi subsidi BBM hingga akhir tahun ini memang akan melampaui pagu anggaran yang sudah ditetapkan. “Tahun ini berpotensi lebih besar (dari pagu anggaran),” ujarnya kepada Jawa Pos akhir pekan lalu.

Sebagaimana diketahui, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2013, subsidi BBM dipatok di angka Rp199,8 triliun. Menurut Askolani, Kementerian Keuangan kini memantau ketat realisasi subsidi BBM. “Berapa persentase (kelebihan)-nya, sedang kita kalkulasi,” katanya. Sebelumnya, data sementara dari Direktorat Perbendaharaan memproyeksi realisasi subsidi BBM bakal menembus Rp224 triliun.

Askolani mengakui, tahun ini, pemerintah bisa sedikit lega karena laju konsumsi BBM subsidi bisa ditekan dengan adanya kenaikan harga pada Juni lalu. Sehingga, lonjakan konsumsi BBM seperti yang terjadi pada 2012 lalu bisa dicegah.

Sebagai gambaran, tahun lalu volume BBM subsidi dipatok 40 juta kiloliter. Namun, lonjakan konsumsi pada pertengahan tahun membuat pemerintah menambah jatah sebesar 4,04 juta kiloliter. Lalu, karena konsumsi terus melonjak, pemerintah kembali menambah kuota sebesar 1,23 juta kiloliter. Pada akhir tahun, realisasi konsumsi tercatat 45,07 juta kiloliter.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, laporan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut konsumsi BBM subsidi hingga akhir Oktober sebesar 33 juta kiloliter, masih jauh dari kuota 48juta kiloliter. “Konsumsi sampai akhir tahun diperkirakan 46,6 juta kiloliter, atau paling tinggi 47 (juta kiloliter),” ujarnya.

Lalu, apa yang membuat subsidi BBM tahun ini berpotensi membengkak? “Kali ini dipengaruhi depresiasi rupiah,” kata Askolani. Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah dalam APBN Perubahan 2013 ditetapkan sebesar Rp9.600 per dolar AS. Namun, rata-rata realisasi nilai tukar hingga akhir Oktober sekitar Rp10.500 per dolar AS.

Depresiasi rupiah memang membuat anggaran subsidi BBM melonjak. Ini disebabkan sebagian BBM subsidi berasal dari impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sepanjang periode Januari-September 2013, impor BBM sudah mencapai US$21,76 miliar. Sedangkan impor minyak mentah untuk diolah menjadi BBM sebesar US$12,13 miliar. Sehingga, totalnya mencapai US$33,89 miliar atau sekitar Rp372 triliun. Angka impor ini lebih tinggi jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar US$29,65 miliar

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca