86 Tahun Nasyiatul Aisyiah: Lakukan Evaluasi Kaderisasi

6

Yogyakarta – Sebagai organisasi kader, perkaderan merupakan proses panjang untuk mempersiapkan penggerak organisasi sehingga perjuangan Nasyiatul Aisyiyah selama 86 tahun dapat terus dilangsungkan. Akan tetapi, masih banyak persoalan pada kader Nasyiah.

“Kurangnya kader selalu menjadi keluhan di banyak jenjang Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah. Kalaupun jumlah kader dianggap cukup, namun komitmen atau militansinya dipertanyakan,” ungkap Abidah dalam workshop Perkaderan Nasyiatul Asyiah yang di adakan PP Nasyiatul Aisyiah di Yogyakarta, (25-26/10).

Menurut Abidah, persoalan kader tersebut selaras dengan penyelenggaraan perkaderan formal yang masih belum rutin di setiap jenjang Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah. “Penyelenggaraan perkaderan formal di Nasyiatul Aisyiyah banyak yang penuh fleksibilitas, baik waktu maupun materi,” ujarnya.

Kendala lain adalah adanya anggapan bahwa tuntutan penyelenggaraan perkaderan seperti dalam SPNA (Sistem Perkaderan Nasyiatul Aisyiyah) sulit diwujudkan di lapangan.

“Di Nasyiatul Aisyiyah, banyak terjadi reduksi makna perkaderan, yaitu hanya sebagai transfer materi semata yang juga dapat diperoleh kader Nasyiah melalui bacaan atau forum pendidikan/pelatihan lainnya,” jelas Abidah.

Norma Sari, Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiah periode 2012 – 2016, mengutarakan bahwa SPNA sebagai rujukan penyelenggaraan perkaderan Nasyiatul Aisyiyah perlu direvisi agar up to date dan kontekstual, serta materi perkaderan dapat disesuaikan dengan kondisi praktis di lapangan.

“Kami berharap kader-kader yang dididik di Nasyiatul Aisyiyah akan menjadi kader penggerak bagi masyarakat, bangsa, dan Negara yang aktif, advokatif, dan ramah memperjuangkan kualitas hidup kaum perempuan dan anak,” jelas Sari.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca