Nelayan Merugi, ATLI Minta KKP Cabut Larangan Transhipment

1
Ketua DPP ATLI, Kasdi Taman

Denpasar – Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) meminta Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mencabut peraturan larangan transhipment atau bongkar muat di tengah laut.

Menurut Ketua DPP ATLI, Kasdi Taman mengatakan, bahwa adanya peraturan Kementrian Kelautan dan Perikanan No. 57 sangat menyusahkan para nelayan.

Dia meminta KKP segera membuka atau memperbolehkan para nelayan mengakut atau bongkar muat ditengah laut. Semenjak peraturan itu diberlakukan para nelayan yang tergabung dalam ATLI mengalami kerugian sekitar 35 persen.

“Apabila peraturan KKP terkait transshipment ini akan diberlakukan terus maka kami akan rugi, bahkan kami akan gulung tikar. Baru beberapa bulan ini kami sudah rugi sekitar 35 persen apabila itu nantinya akan diteruskan
bangkrut kita,” ungkapnya, di kantor ATLI, di Denpasar, Selasa (25/03).

Sayangnya dia tidak mau menjelaskan berapa angka pasti kerugiannya, yang jelas dari volume ikan munurun. Sebelum kebijakan itu diberlakukan pihaknya mampu mengambil ikan sekitar 1500 ton hingga 2.000 ton per hari, tapi kini volumenya hanya 750 ton per hari.

Dia menambahkan, bahwa Indonesia memiliki target untuk menjadi poros maritim, pensuplay ikan segar di dunia. Bila hal tersebut ditargetkan oleh Indonesia maka transshipment itu harus dicabut.

“Kita targetnya kan kirim ikan segar, yang fresh. Apabila kebijakan itu diberlakukan terus maka Indonesia tidak bisa menyuplay ikan segar. Indonesia menjadi poros maritim atau pensuplay terbesar itu hanya mimpi,” ungkapnya.

Lanjutnya, adanya kebijakan ini supaya para nelayan tidak langsung menjual ikanya ke Negara-negara terdekat. Tapi KKP juga harus ingat menjaga mutu dan kualitas ikan itu sendiri.

“Kesegaran ikan itu hanya bertahan 15 hari, dan dalam 15 hari itu sudah ada dinegara tujuan, kalau sudah lewat itu sudah mati. Sudah tidak bisa dijual, habis sudah kita,” jelasnya.

Sekali lagi dia menegaskan bahwa apabila kebijakan tersebut terus diberlakukan, para nelayan dan pengekspor ikan tuna segar akan gulung tikar atau mati.

MENARIK DIBACA

loading...

Tanggapan Pembaca