ForBali Berharap Ketegasan Jokowi Cabut Perpres 51/2014 Tentang Reklamasi Teluk Benoa

0
Massa aksi tolak Reklamasi Teluk Benoa menggelar orasi di Gedung DPRD Bali

Denpasar –  Forum Rakyat Bali (ForBALI) Tolak Reklamasi Teluk Benoa kembali menggelar aksi demontrasi bertajuk parade budaya untuk menolak reklamasi Teluk Benoa dan menuntut pembatalan Perpres No. 51 Tahun 2014, pada Jumat (30/01)

Aksi yang diikuti oleh ribuan elemen masyarakat tersebut, dimulai dari parkir timur Lapangan Renon Denpasar, bergerak menuju depan Bajra Sandhi, kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali, dan berakhir di depan Kantor Gubernur Bali.

Dengan membawa tagline “Bali Tolak Reklamasi Berkedok Revitalisasi Teluk Benoa”, aksi dilakukan sebagai respon atas rapat komisi IV DPR-RI dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang menyatakan tidak melanjutkan reklamasi di Teluk Benoa.

Meskipun rapat komisi IV DPR-RI bersama  menteri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti  menyatakan tidak melanjutkan proyek reklamasi Teluk Benoa, namun  syarat yang diberikan kepada investor dengan menyediakan tampungan air (waduk) seluas lahan yang hendak direklamasi oleh pihak investor, masih tetap mengkhawatirkan karena tetap memberi celah penyiasatan oleh investor.

“Ini seperti kisah Roro Jonggrang yang memberikan syarat yang mustahil untuk membangun seribu candi dalam satu hari. Dalam kasus reklamasi Teluk Benoa, syarat ini yang seolah-olah mustahil, tetapi tetap memberikan calah penyiasatan, sehingga kita harus tetap berhati-hati dan terus mengawal agar rencana reklamasi Teluk Benoa bisa benar-benar dihentikan,” ujar Wayan Gendo Suardana, Koordinator ForBALI.

Menurut Gendo, pemerintah pusat tidak secara jelas bersikap untuk menolak secara penuh rencana reklamasi di Teluk Benoa. Ini juga dapat dilihat dari kebijakan presiden Jokowi yang belum mencabut perpres 51/2014 untuk mengembalikan status kawasan Teluk Benoa menjadi kawasan konservasi.

Sementara di tingkat Pemerintahan Lokal, DPRD Provinsi Bali masih belum mau bersikap secara resmi untuk menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Terlihat dari sikap DPRD Bali yang tidak mau membentuk Panitia Khusus (Pansus) terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa karena menganggap hal tersebut bukanlah persoalan yang mendesak bagi Pulau Bali.

“DPRD Bali belum juga menerbitkan sikap atas kasus ini yang sejatinya telah menjadi perhatian di Bali, bahkan menjadi isu nasional dan internasional. Keadaan ini menunjukkan bahwa wakil rakyat gagal memahami persoalan yang dihadapi Rakyat Bali,” ujar Krisna Dinata selaku humas aksi ForBALI

Situasi ini menunjukkan pula bahwa Gubernur Bali dan DPRD Bali telah mengabaikan besarnya aspirasi penolakan terhadap rencana reklamasi di Teluk Benoa.

Aksi ini juga diikuti oleh musisi JRX Superman Is Dead yang membacakan puisi berjudul speaker sparatis tentang semangat perjuangan khususnya dalam menolak reklamasi Teluk Benoa, serta penampilan tarian barong bangkung dari kelompok STT yang ikut dalam aksi.

Aksi yang sempat diguyur hujan di kantor DPRD Bali ini tidak menghentikan semangat para peserta aksi yang mengikuti parade budaya ini hingga selesai.

MENARIK DIBACA

loading...

TINGGALKAN TANGGAPAN

Sila masukan komentar anda
Silahkan masukan nama disini