Beberapa Daerah Gelar Aksi 1.000 Lilin untuk Brigpol Rudy Soik

4

Kupang – Beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar aksi pembakaran 1000 lilin secara bersamaan untuk Brigadir Polisi (Brigpol) Rudy Soik. Aksi tersebut digelar dengan doa bersama, dengan maksud agar Majelis Hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap Rudy Soik.

Adapun aksi itu digelar bersamaan dibeberapa kabupaten, yakni Kota kupang, Kota Kefamenanu (Kabupaten Timor Tengah Utara), Kota Atambua (Kabupaten Belu), Kota Maumere (Kabupaten Sikka) dan Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Di Kota Kupang misalnya, ratusan warga merayakan aksi 1000 lilin, di depan Kantor Pengadilan Negeri Tinggi di Jalan El Tari Kupang, Senin (16/2/2015) malam. Dalam aksi itu, warga berharap agar Rudy Soik yang saat ini sedang menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri klas 1A Kupang terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap Ismail Pati Sanga warga Adonara, dibebaskan.

Acara diikuti organisasi masyarakat sipil kepemudaan, seperti PMKRI cabang Kupang, Ampera NTT, dan keluarga Rudy Soik, hingga pastor dan suster. Di depan Pengadilan Tinggi, mereka memanjatkan doa agar Ketua majelis Hakim, Ketut Sudira bersama dua anggotanya memutuskan dengan seadil-adilnya dan membebaskan Rudy pada hari ini Selasa, (17/2).

Koordinator umum dalam aksi 1000 lilin itu, Kristo Ngasi mengatakan, dalam aksi seribu lilin ini dirayakan sedikit berbeda, yakni menyerukan penegakan keadilan agar Brigpol Rudy Soik dibebaskan.

“Kita buat aksi di depan Kantor Pengadilan ini juga sebagai sebuah respons spontanitas dari masyarakat yang yang mendukung Brigpol Rudy Soik untuk membongkar kasus mafia Trafficking yang sedang marak di daerah ini,” kata Kristo.

Sementara itu, Romo Leo Mali salah satu pastor pemerhati masalah perdagangan manusia mengatakan, 1000 lilin itu dijadikan sebagai kampanye kemanusiaan khususnya soal perdagangan orang. Karena menurutnya, tidak sedikit terjadi kejahatan kemanusiaan terhadap tenaga kerja asal NTT yang ada di luar negeri.

“Banyak warga NTT yang meninggal di tempat kerja di Malaysia, Singapura dan sejumlah negara lainnya. Namun, kejadian ini tidak sepenuhnya mendapat respons dari pemerintah NTT, momen ini sebagai bentuk penyadaran pada masyarakat terhadap bahaya perdagangan orang,” ujar Romo.

MENARIK DIBACA

loading...

TINGGALKAN TANGGAPAN

Sila masukan komentar anda
Silahkan masukan nama disini