Home >> Ekonomi >> Hadapi AEC, Kesiapan Indonesia Diragukan

Senin, 18 November 2013 20:47 120 Views

Hadapi AEC, Kesiapan Indonesia Diragukan

Iwan Setiadi - fren247Ekonomi

KPPU makassarMAKASSAR, – Kemampuan Indonesia menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015 mendatang diragukan. Ini terlihat dari impor beras dari Thailand dan Vietnam hingga Agustus ini sebanyak 302,707 ton senilai USD 156 juta.

Indonesia saat ini hanya menempati posisi ke-6 dalam peringkat kesiapan negara-negara Asean dalam menghadapi implementasi Pasar Tunggal 2015 mendatang.

Dalam matrik penilaian yang dirilis Sekretariat ASEAN, skor yang berhasil dikumpulkan Indonesia baru mencapai 81,3 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara pesaing lainnya seperti Thailand, Malaysia, Laos, Singapura, dan Kamboja.

Anggota Komisi VI DPR RI, Emil Abeng mengatakan Asean Community tidak memiliki fundamental yang kuat. Indonesia masih bergantung pada impor pangan dari negara lain, hal ini akan mematikan produksi pertanian lokal yang dampaknya pada lapangan kerja karena tidak memiliki daya saing.

“Apabila Indonesia terus bergantung pada impor pangan, sampai kapan kita harus merdeka dan tidak didikte secara ekonomi. Dengan impor beras sebesar itu berati belum ada kemandirian pangan,” kata Emil di Seminar Persaingan Usaha di gedung Rektorat Unhas, Kamis 14 November.

Menurut Emil, jika ekonomi Asean bergabung maka akan menjadi kuat, tetapi yang menjadi kendala ekonomi Indonesia yang belum kuat sehingga rentan dimanfaatkan negara lain.

“AEC ini hanya pertukaran barang, padahal yang paling bahaya adalah tantangan SDM, tidak menutup kemungkinan lulusan perguruan tinggi Singapura dan Malaysia akan masuk ke Indonesia, jika ini terjadi maka kita akan jadi penonton,” ujarnya.

Komisioner KPPU, Syarkawi Rauf menambahkan dalam konteks ekonomi Asean akan banyak investasi yang datang jika iklim menarik, tetapi akan rentan dimanfaatkan jika belum mampu bersaing.

“Singapura yang tidak memiliki kekayaan alam pasti akan berpikir bagaiman bisa memanfaatkan Indonesia. Kita harus bercermin pada neraca perdagangan kita yang tidak memberikan gambaran positif sehingga selalu terjadi defisit,” ujarnya.

Menurut Syarkawi, secara umum Sulsel masih jauh di atas PDB Indonesia sehingga bisa menjadi motor pembangunan. Tetapi jangka panjang bisa berpengaruh terhadap sektor pertanian yang menjadi andalan Sulsel.

“Dalam konteks Asean Community, pertanian akan menyatu dengan negara lainnya, jika ini terjadi apakah kita masih bisa bicara swasembada pangan. Dilema yang dihadapi pemerintah saat ini adalah ketersediaan melawan kemandirian,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top